My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Hasil Pemeriksaan Chandra



Beberapa hari kemudian.


Di kediaman Bu Kirana.


Chandra tampak mondar-mandir di ruang utama dengan wajah cemas dan memucat. Ya, sudah beberapa hari setelah ia melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak sama seperti biasanya. Ketakutan Chandra terhadap penyakit mematikan itu membuat hidupnya tidak lagi tenang.


"Ya Tuhan, kenapa Mami lama sekali!" gerutu Chandra sambil menengadah menatap lantai dua. Di mana kamar Mami dan Daddy-nya berada.


Tidak berselang lama, Bu Kirana pun muncul. Wanita itu berjalan dengan santainya menapaki satu-persatu anak tangga sambil merapikan perhiasan mahal yang melekat di tangan dan jari-jarinya.


"Ya ampun, Mi! Kenapa lama sekali," kesal Chandra yang kini tengah memperhatikan Bu Kirana dengan serius.


"Sabar donk, Chandra! Lagian kamu itu terlalu lebay, deh! Yakinlah sama Mami bahwa kamu itu baik-baik saja," sahut Bu Kirana dengan wajah tenang membalas tatapan Chandra.


"Ya, Mami memang bisa tenang. Tapi aku? Aku bahkan tidak bisa tidur gara-gara memikirkan hasil tes ini," kesalnya lagi.


"Ish, Chandra-Chandra!" Bu Kirana menggelengkan kepalanya sambil terus melangkah menuju halaman depan. Di mana mobil Chandra sudah siap mengantarkannya ke Rumah Sakit. Sementara Chandra mengikuti langkah sang Mami dari belakang.


"Setelah selesai dari Rumah Sakit, nanti anterin Mami ke salon langganan Mami ya, Chandra. Sudah lama ini Mami tidak melakukan perawatan," ujarnya sambil memasuki mobil milik Chandra.


"Ya," jawab Chandra singkat seraya melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mewah milik kedua orang tuanya menuju Rumah Sakit.


"Apa Daddy sudah tahu tentang ini, Mi?" tanya Chandra, memecah keheningan di dalam mobil tersebut.


"Daddy-mu belum tahu. Lagi pula Mami sangat yakin bahwa kamu baik-baik saja, Chandra. Jika Mami ceritakan masalahmu kepada Daddy, bisa-bisa Daddy tidak fokus kerjanya. Lagian 'kan kota ini dengan kota tempat Daddy bekerja tidaklah dekat."


Chandra hanya bisa menghela napas berat dan memilih untuk kembali fokus pada setir mobilnya. Tidak berselang lama, mereka pun tiba di depan Rumah Sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Chandra dan Bu Kirana pun segera melangkah menuju ruangan Dokter tersebut.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Chandra yang sudah tidak sabaran ingin tahu apakah dirinya positif terjangkit penyakit mematikan itu atau tidak.


"Ish, Chandra. Kamu ini," celetuk Bu Kirana sembari menyikut lengan Chandra pelan.


Dokter itu tersenyum kecut menatap Chandra dan Bu Kirana secara bergantian, sebelum ia memberitahu hasilnya. Hasil dari tes kemarin yang kini tertulis di dalam sebuah berkas yang ada di tangan Dokter tersebut.


Chandra merasa lemas setelah melihat senyuman yang Dokter tunjukan, seakan tidak memberikan angin segar kepadanya. Apalagi setelah Dokter itu menghembuskan napas beratnya, membuat Chandra semakin yakin bahwa hasilnya benar-benar buruk.


"Dari hasil pengambilan sampel darah serta air liur beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa Tuan Chandra Putra Pratama positif mengidap penyakit HIV Aids," ucap Dokter dengan wajah sendu menatap Chandra.


"A-apa?!" pekik Bu Kirana dengan terbata-bata. "Itu tidak mungkin, Dokter! Tidak bisakah kalian lakukan tes ulang?! Aku yakin sekali pasti hasilnya tertukar dengan milik orang lain! Iya, 'kan?!" lanjut Bu Kirana yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter tersebut.


Berbeda dengan Bu Kirana yang nampak panik setelah mendengar kabar buruk itu, Chandra malah terdiam dengan kepala tertunduk memghadap lantai. Ia terlihat sudah pasrah dengan nasibnya saat itu.


"Kami bisa menyakinkan kepada Anda bahwa hasil dari tes ini adalah benar, Bu. Dan tidak mungkin tertukar dengan hasil milik orang lain karena untuk saat ini, hanya Putra Anda yang melakukan tes ini."


"Tidak! Aku tidak percaya! Tidak mungkin anakku positif terjangkit penyakit itu!" pekik Bu Kirana, tetap berusaha mengelak apa yang sudah terjadi.


"Sudahlah, Mi." Chandra meraih tangan Bu Kirana kemudian menggenggamnya dengan erat agar wanita itu bisa lebih tenang.


"Tidak, Chandra! Mami tetap yakin bahwa kamu baik-baik saja! Hasil pemeriksaan Dokter ini pasti salah!" ucapnya lagi, masih dengan raut wajah kesal.


...***...