
Setelah selesai berbicara dengan Sean, Erlan pun kembali meletakkan benda pipih tersebut ke atas meja yang ada di hadapannya. Erlan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sembari menatap langit-langit di ruangan itu.
Kini pikiran lelaki itu kembali tertuju pada Sang Mommy yang memintanya untuk melakukan tes DNA terhadap bayi yang masih berada di dalam kandungan Alina.
Huft! Terdengar suara hembusan napas Erlan yang begitu berat.
"Biar bagaimanapun aku tidak akan pernah melakukan tes itu walaupun Mommy memaksa. Melakukan tes itu, sama artinya aku meragukan kejujuran Alina." Erlan mengusap wajahnya dengan kasar.
Tepat di saat itu Alina baru saja selesai melakukan ritual mandinya dan ia nampak sangat kebingungan. Dengan malu-malu, Alina menghampiri Erlan yang masih duduk di sofa yang berada tidak jauh darinya.
"Mas," panggil Alina sembari mengelus tengkuknya.
Erlan segera menoleh kemudian tersenyum kepada gadis itu. "Ya, Sayang. Ada apa?" Erlan memperhatikan tubuh Alina yang hanya terbalut handuk kecil untuk menutupi area yang tidak boleh dilihat olehnya.
"Aku benar-benar lupa kalau aku tidak memiliki satu pakaian pun. Bahkan pakaian dallamku sudah basah semua," lirih Alina yang nampak frustrasi.
Erlan menepuk jidatnya pelan dengan mata membulat menatap Alina. "Ya ampun, sayang. Maafkan aku! Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu?" pekik Erlan. "Seharusnya kemarin kita mampir ke toko pakaian untuk membeli pakaian buatmu," lanjutnya.
Erlan bangkit kemudian meraih tangan Alina dan menuntunnya ke lemari pakaian. Setelah membuka pintu lemari tersebut, nampak koleksi kemeja mahal milik Erlan yang berjejer rapi. Bukan hanya kemeja, tetapi masih ada piyama tidur, celana setelan jas dan lain-lain.
Erlan sempat bingung dan terdiam sambil memperhatikan deretan pakaian mahalnya. Hingga akhirnya lelaki itu memilih sebuah piyama tidur berwarna putih.
"Kenakan ini untuk sementara, tidak apa-apa 'kan? Nanti aku perintahkan Sean untuk membawakanmu pakaian."
Erlan menyerahkan piyama tersebut kemudian segera disambut oleh Alina. Gadis itu memperhatikan piyama tersebut dengan seksama dan ia tahu bahwa ukuran piyama tersebut terlalu besar untuk seukuran tubuhnya yang mungil.
"Apa Mas Erlan tidak salah pilih? Piyama ini terlalu besar untukku," gumam Alina. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain mengenakan pakaian tersebut.
Setelah menyerahkan piyama tersebut, Erlan kembali menghubungi Sean agar segera membelikan pakaian untuk Alina. Sean menggaruk pelipisnya ketika mendapatkan tugas tersebut.
Bagaimana tidak, Erlan meminta dirinya membelikan pakaian untuk seorang wanita yang ia sendiri tidak tahu seperti apa orangnya. Belum lagi Sean sama sekali tidak memiliki pengalaman membelikan pakaian untuk seorang wanita.
Satu lagi yang membuat Sean menggelengkan kepalanya. Erlan meminta dirinya membelikan braa serta cd untuk wanita itu. "Seandainya Tuan Erlan memberikan pilihan antara membelikan calon istrinya braa dan celana dallam dengan mencabut gigi harimau, mungkin aku akan memilih mencabut gigi harimau saja," gerutunya.
Setelah mengucapkan hal itu, Sean kembali terdiam dan membayangkan dirinya sedang mencabut gigi seekor harimau buas. "Sebaiknya tidak, bukan gigi harimau yang bakal terlepas, melainkan tanganku yang masuk ke dalam perut binatang itu."
"Sayang, size-mu apa? S, M, L, atau ...?" tanya Erlan kepada Alina yang masih memandangi piyama milik lelaki itu.
"Hah? Ehm, sebaiknya M saja. Soalnya perutku akan terus membesar, Mas."
"Baiklah. Kamu dengar itu, Sean. Size-nya M, awas jangan sampai salah!"
"Baik, Tuan."
Sean menekuk wajahnya dengan sempurna setelah Erlan memutuskan panggilannya. "Kenapa mendadak begini? Seandainya besok-besok 'kan aku masih bisa minta tolong pada salah satu karyawan wanita di kantor."
Ketika Alina menghampiri Erlan dengan pakaian itu, Erlan tergelak melihatnya. Sebab tubuh mungil Alina hampir saja di telan oleh piyama miliknya.
"Maafkan aku, Sayang. Tapi, tenang saja. Paling lambat besok pagi Sean akan datang ke sini dan membawakan pakaian untukmu."
Alina pun tersenyum. "Terima kasih banyak, Mas."
Malam semakin larut. Alina pun sudah mulai mengantuk dan sudah beberapa kali ia menguap. Erlan tersenyum kemudian meraih tangan gadis itu.
"Sebaiknya kita tidur, kamu sudah ngantuk, 'kan?" Erlan tersenyum sembari menuntun Alina ke tempat tidur.
"Ehm--" Belum sempat Alina berucap, Erlan sudah menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
"Ah!" ucap Erlan seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang lelah. "Sini, tidurlah bersamaku," ucap Erlan, lelaki itu tersenyum hangat kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya.
Alina menatap Erlan dengan wajah heran. "Di sana, bersamamu?" tanyanya.
"Ya!" sahut lelaki itu mantap.
Alina tersenyum kecut kemudian meraih bantal yang ada di atas kasur empuk tersebut. Ia meletakkan bantal itu di bawah tempat tidur milik Erlan kemudian tersenyum. "Aku tidur di sini saja, Mas. Kita 'kan belum menikah," ucap Alina.
Lagi-lagi Erlan menepuk jidatnya. Wajah lelaki itu memerah menahan malu. Saat itu ia sama sekali tidak memiliki niat apapun kepada Alina. Hanya sekedar mengajaknya tidur bersama, itu saja.
"Maafkan aku, Alina. Aku benar-benar lupa. Entah kenapa semejak aku bertemu denganmu, aku mendadak menjadi pelupa." Lelaki itu terkekeh pelan dan bangkit dari tempat tidur kemudian menghampiri Alina. "Sebaiknya kamu tidur di atas dan biar aku tidur di sofa saja," lanjutnya.
"Tidak usah, Mas. Inikan rumahmu dan aku hanya sekedar menumpang di sini. Masa aku yang harus tidur di atas tempat tidur?" tolak Alina.
"Hush!" Erlan menyentuh bibir Alina. "Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kamar ini milikmu, dan seluruh ruangan yang ada di sini adalah milikmu, Alina. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Jadi, tidurlah di sana, cepat!"
Erlan menuntun Alina hingga gadis itu bersedia berbaring di tempat tidurnya. Sedangkan ia sendiri segera membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan wajah menghadap ke tempat tidur.
Selang beberapa saat kemudian.
"Mas, kamu sudah tidur?" tanya Alina yang malah tidak bisa tidur. Sudah puas ia mencoba memejamkan matanya. Namun, mata gadis itu tetap saja terbuka dan rasa kantuk yang ia rasakan sebelumnya menghilang entah kemana.
Alina melirik ke arah Erlan dan ternyata lelaki itu sudah terlidur dengan nyenyaknya di sofa tersebut. Perlahan Alina menghampiri lemari pakaian milik Erlan. Ia meraih sebuah selimut dan membawanya kepada lelaki itu.
Alina menyelimuti tubuh Erlan kemudian berjongkok tepat di hadapan wajahnya. "Anda tampan sekali, Tuan Erlan." Alina menyentuh wajah yang memiliki rahang tegas tersebut sambil tersenyum. "Entah kenapa aku merasa nyaman saat berada di dekatmu. Apakah ini bawaan bayiku?"
"Alina ...." Erlan tersenyum, tetapi matanya masih tertutup rapat dan ternyata lelaki itu sedang mengigau.
Alina terkejut dan segera menjauh. Gadis itu memilih kembali ke tempat tidur daripada ketahuan oleh Erlan karena dirinya sudah mulai berani menyentuh wajah lelaki itu.
...***...