
Sementara pasangan Alina dan Erlan menghampiri Bu Dita dan Pak Heri. Ternyata pasangan Bu Kirana serta Pak Agung pun hadir ke pesta pernikahan Sean dan Imelda.
Mereka begitu bahagia ketika mendapatkan kartu undangan pernikahan Sean yang merupakan mantan atasan dari Pak Agung. Ya, saat ini Pak Agung sudah tidak bekerja di perusahaan milik Erlan lagi. Sekarang ia fokus membantu Bu Kirana merawat Chandra yang sedang sakit-sakitan.
Uang yang diberikan oleh Erlan sebagai tanda terima kasih karena sudah mengabdi pada perusahaannya, ia gunakan untuk berobat Chandra serta membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung kehidupan mereka. Bukan hanya itu, bahkan rumah serta mobil pemberian Bu Dita pun habis terjual untuk membiayai pengobatan Chandra.
Pasangan itu sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang akan bersanding dengan Sean hari ini adalah Imelda, mantan menantu yang pernah mereka sia-siakan dulu.
"Imelda, namanya sama seperti mantan istrinya Chandra ya, Dad," gumam Bu Kirana ketika membaca nama pasangan pengantin yang terpampang di weeding banner yang ada di depan ballroom.
"Kenapa masih mengingat-ingat nama gadis itu sih, Mih?" sahut Pak Agung yang sepertinya tidak ingin mengingat masa lalu anaknya tersebut. Entah mengapa jika ia mengingat wanita itu, hatinya seakan tercubit karena pernah berbuat salah kepada Imelda dan seluruh keluarganya.
"Bukannya mengingat-ingat, Dad. Hanya saja nama mereka sama," tutur Bu Kirana yang masih menggandeng tangan Pak Agung memasuki ruangan megah itu sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Hmm, Imelda adalah wanita beruntung kedua setelah Nona Alina. Lihat saja pernikahannya, mewah begini," gumam Bu Kirana seraya memperhatikan pasangan pengantin yang sedang asik menyambut para tamu.
"Sebaiknya kita temui Tuan Sean, baru setelah itu kita makan. Daddy sudah lapar," sahut Pak Agung tersenyum kepada Bu Kirana sambil mengelus perutnya.
"Yuk, Mami juga sudah lapar."
Perlahan pasangan itu menaiki pelaminan, berjejer dengan tamu lainnya yang juga ingin memberikan selamat untuk kedua mempelai. Hingga akhirnya mereka berdiri tepat di hadapan Sean dan Imelda yang sedang berbahagia.
Imelda adalah orang pertama yang menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya. "Pak Agung, Bu Kirana?!" pekik Imelda dengan mata membulat sempurna menatap pasangan itu.
Setelah Imelda menyebutkan nama mereka, Bu Kirana dan Pak Agung pun akhirnya tersadar. "Imelda, kamu?!" pekik mereka bersamaan.
Pak Agung dan Bu Kirana saling tatap, mereka tidak menyangka bahwa Imelda yang menjadi istri dari Sean adalah Imelda yang sama, yang merupakan mantan menantu mereka.
"I-iya, Tuan Sean. Kami kenal bahkan sangat kenal," sahut Pak Agung yang mulai merasa serba salah.
"Ehm, selamat ya, Mel, Tuan Sean. Semoga kalian selalu bahagia," sambung Bu Kirana yang juga tampak grogi berada di hadapan pasangan pengantin tersebut. Wanita itu mengulurkan tangannya yang gemetar tersebut kepada Sean dan Imelda.
"Terima kasih banyak, Pak Agung, Bu Kirana," sahut Sean sembari menyambut uluran tangannya.
Setelah berbasa-basi, Bu Kirana dan Pak Agung pun segera pergi dari pelaminan itu. Mereka tidak ingin berlama-lama berada di sana. Rasa malu dan rasa bersalah yang amat sangat masih menguasai hati pasangan itu.
"Apa Daddy masih ingin makan setelah melihat kebenaran yang mengejutkan itu?" tanya Bu Kirana kepada Pak Agung yang berjalan dengan kepala tertunduk di hadapannya.
"Tidak, Mih. Perut Daddy tiba-tiba saja menjadi kenyang. Bahkan sangat kenyang," sahutnya.
"Ya, Dad. Mami pun sudah tidak lapar lagi," jawab Bu Kirana.
Pak Agung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu hingga akhirnya tatapannya berhenti pada pasangan paruh baya yang tengah menggendong bayi mungil nan lucu. Siapa lagi kalau bukan Pak Heri dan Bu Dita yang tengah menggendong Baby Rendra yang terlihat sangat lucu.
"Lihatlah bayi mungil itu, Mih. Dia lucu sekali, ya," ucap Pak Agung dengan mata berkaca-kaca menatap Baby Rendra.
Bagaimana tidak, bayi yang selama ini tidak pernah mereka akui dan sama sekali tidak inginkan ternyata adalah generasi penerus terakhir mereka. Bukan hanya Pak Agung, Bu Kirana pun tak kuasa menahan air matanya ketika menatap Baby Rendra.
"Mami menyesal, Dad. Sangat menyesal."
...***...