My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Keputusan Pak Heri



"Ya, Tuhan! Sebenarnya hati kalian itu terbuat dari apa? Mungkin inilah yang dikatakan oleh orang Iblislis berwujud manusia. Benar-benar keterlaluan!"


Pak Heri menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian meraih tangan Imelda dan menariknya hingga gadis itu berdiri tepat di samping tubuhnya.


"Sebaiknya kita pulang saja, Imelda. Kamu dan bayi itu tidak membutuhkan manusia seperti mereka. Kita bisa buktikan kepada orang-orang ini bahwa kita bisa membesarkan bayi itu tanpa mereka, bahkan akan menjadi lebih baik tanpa adanya campur tangan dari mereka!" hardik Pak Heri.


"Heh, Pak Tua! Kalau bicara jangan seenak jidat! Berani sekali kamu menghina kami, memangnya kamu siapa, hah!" kesal Bu Kirana sambil bertolak pinggang dan dengan mata melotot.


"Penjaga! Penjaga! Usir mereka semua keluar dari sini!" titah Bu Kirana sambil berteriak dengan lantang.


Para penjaga berbondong-bondong menghampiri keluarga Pak Heri dan memegangi tangan mereka.


"Usir mereka! Kalau perlu, seret saja!" titah Pak Agung yang sama kesalnya.


"Lepaskan tangan kalian! Kami juga tidak ingin berlama-lama di sini." Pak Heri menepis tangan penjaga keamanan dengan kasar kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu utama.


Begitupula Imelda dan Bu Dita, mereka mengikuti langkah Pak Heri hingga mereka bertiga tiba di depan pagar, di mana mobil mereka terparkir.


"Masuk!" titah Pak Heri kepada Imelda dan Istrinya.


Setelah Istri dan anaknya masuk, Pak Heri pun bergegas melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Chandra. Di perjalanan menuju pulang, Imelda terus menangis. Ia kesal dan marah karena Chandra sama sekali tidak ingin bertanggung jawab padanya.


"Kamu lihat sekarang, Imelda? Sejak pertama kamu jalan sama Chandra, Ibu sudah merasakan sesuatu yang tidak baik dan entah kenapa Ibu tidak suka akan sikap anak itu. Dan setiap Ibu coba memberitahukanmu, kamu selalu mengatakan bahwa Chandra adalah lelaki yang baik dan terus-menerus memujinya," kesal Bu Dita yang juga menitikkan air matanya karena kesal dan malu.


"Sekarang bagaimana nasib kita, Ayah? Rasanya Ibu ingin mati saja daripada harus menanggung malu seperti ini." Tangis Bu Dita pecah, ia sudah tidak dapat menahan buliran bening itu lagi.


"Mau bagaimana lagi, Bu. Nasi sudah menjadi bubur dan sekarang mau tidak mau kita harus menerimanya," sahut Pak Heri yang masih fokus pada kemudinya.


. . .


Hari ini Alina mengunjungi makam Sang Ibu. Sudah lebih dari dua minggu gadis itu tidak berkunjung ke sana karena kesibukan serta kondisi tubuhnya yang sekarang mudah sekali kelelahan.


"Bu, tinggal beberapa bulan lagi, Alina sudah tidak sendiri lagi. Akan ada bayi mungil ini yang akan menemani Alina menjalani hidup." Alina membuang napas berat sembari mengelus perutnya.


"Tapi, Alina sedih karena Alina harus berjuang melahirkan bayi ini sendirian. Di mana tidak ada Ibu yang akan memberikan semangat serta doa untuk Alina," gumamnya.


"Ehem!"


"Tuan Erlan? Sejak kapan Anda berada di sini?" tanya Alina heran karena tiba-tiba saja lelaki itu ada di belakangnya.


Erlan melangkah menghampiri Alian kemudian berdiri di samping gadis itu. "Seperti biasa, aku sedang menikmati liburanku di kota ini. Tapi, tiba-tiba saja aku melihatmu berjalan menuju tempat ini. Jadi ya, ku ikuti saja."


Alina menatap heran kepada lelaki tampan di sebelahnya. "Tuan Erlan, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tentu saja, kenapa tidak, Alina. Tanyakanlah," sahut Erlan sembari melemparkan senyuman manisnya kepada gadis itu.


"Apa Tuan sudah punya kekasih?" tanya Alina dengan ragu-ragu. "Maaf, jika aku lancang, Tuan." Alina terlihat tidak nyaman dengan pertanyaannya sendiri.


Alina begitu penasaran dengan sosok Erlan. Lelaki tampan dengan tubuh yang nyaris sempurna itu, sama sekali tidak pernah menyinggung soal wanita kepadanya.


Erlan terkekeh. "Kamu ingin aku berkata jujur, atau berkata bohong?"


"Ya ampun, Tuan. Ya, jujur lah. Masa aku mau dikibuli secara terang-terangan?" sahut Alina.


"Sebenarnya aku sudah menikah, Alina. Namun, sayang pernikahanku hanya bertahan selama 24 jam saja. Aku menggugat cerai istriku karena suatu kesalahan yang tidak dapat aku terima," jawab Erlan dengan tatapan menerawang, seolah ia kembali ke masa yang menyakitkan itu.


"Oh, maafkan aku, Tuan Erlan. Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padamu," lirih Alina karena merasa bersalah.


"Tidak apa, Alina. Lagipula itu hanya sepenggal dari kisah masa laluku. Yang akan menjadi sebuah pelajaran berharga untukku," jawab Erlan.


Setelah puas berbincang-bincang di sana, Alina pun memutuskan untuk pulang karena selain hari sudah mulai gelap dan cuaca pun sepertinya sedang tidak bersahabat.


"Aku pulang dulu ya, Tuan. Soalnya hari sudah mulai gelap," ucap Alina dengan wajah panik. Ia takut kehujanan di jalan.


"Sebaiknya kamu ikut aku. Aku akan mengantarkanmu pulang," ajak Erlan seraya menarik lembut tangan Alina.


"Tidak usah, Tuan. Aku takut warga akan kembali mencemoohmu hanya karena mengantarkan aku pulang. Jika mereka melihatmu bersamaku, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak lagi tentang kita," ucap Alina.


"Tapi, aku tidak peduli apa kata mereka, sekarang masuklah. Hari sudah gelap, Alina."


Erlan mengulurkan tangannya kepada Alina sambil tersenyum hangat. Dan di wajahnya tak ada sedikitpun kekhawatiran.


"Baiklah," sahut Alina walaupun sebenarnya ia terpaksa.