My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Rasa Penasaran Erlan



Ajakan Nyonya Afiqa dan Olivia membuat Alina merasa takut dan cemas. Ia takut kedua wanita itu melakukan hal yang tidak-tidak kepada bayi dalam kandungannya. Alina terus kepikiran hal itu dan membuat gadis itu lebih banyak diam dari biasanya.


Erlan pun menyadari perubahan pada diri Alina yang lebih sering melamun dan menutup mulutnya kalau tidak ada yang penting. Lelaki itu penasaran dan ia sangat yakin ada yang sedang tidak beres pada calon istrinya itu.


"Sayang, kemarilah." Erlan memanggil Alina sembari menepuk tempat kosong di samping tubuhnya.


Alina pun melemparkan senyumnya kemudian menghampiri Erlan dan duduk di tempat yang ditujukan oleh lelaki itu. Erlan merengkuh pundak Alina dan membiarkan gadia itu menyandarkan kepala di dada bidangnya.


"Sebenarnya ada apa, Sayang? Sejak kemarin kulihat kamu lebih banyak diam dan melamun. Apa ini ada hubungannya dengan acara pernikahan kita yang tinggal beberapa hari lagi?" tanya Erlan sembari mengelus lembut puncak kepala Alina.


Alina mengangkat kepalanya kemudian menatap kedua biji manik berwarna abu-abu tersebut dengan lekat. "Tidak, Mas. Ini tidak ada hubungannya dengan apapun. Apalagi pernikahan kita yang tinggal beberapa hari lagi. Mungkin mood aku sedang tidak baik, maklum bumil." Alina kembali tersenyum sembari mengelus lembut perutnya.


Etlan tersenyum tipis setelah mendengar jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. "Benarkah? Sekarang aku mau tanya padamu dan kuharap kamu mau menjawabnya dengan jujur. Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"


Alina menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Mas, tentu saja. Tentu saja aku bahagia dengan rencana pernikahan kita," sahut Alina jujur.


Erlan tersenyum lega ternyata perubahan sikap Alina beberapa hari ini bukanlah karena rencana pernikahan mereka yang tinggal beberapa hari lagi. Namun, ia masih penasaran apa yang mengganggu pikiran gadis itu hingga sikapnya pun ikut berubah menjadi lebih pendiam.


"Aku tanya pun, Alina pasti tidak akan mengakuinya. Apa sebaiknya aku selidiki saja?" batin Erlan.


"Ehm, Sayang. Aku ke dapur dulu, ya. Aku yakin nasi uduknya sudah matang." Alina melepaskan tangan Erlan yang yang masih berada di pundaknya kemudian ia pun segera pergi setelah lelaki itu mengizinkannya.


Ya, hari ini Erlan minta dibuatkan nasi uduk spesial untuknya. Tadi malam lelaki itu bahkan sampai 'ngiler' hanya gara-gara teringat akan nasi uduk buatan gadis itu. Mau tidak mau, Alina pun menurutinya, demi Bapak Hamil yang sedang ngidam.


Setelah kepergian Alina, Erlan sempat berpikir sejenak dan ia memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini. Lelaki itu meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi Sean. Ia yakin asistennya itu pasti sudah menunggu kedatangannya.


"Ya, Tuan? Anda di mana sekarang?" tanya Sean.


"Ehm, Sean ... sepertinya aku tidak masuk hari ini. Ada yang harus aku lakukan dan ini sangat penting."


"Baiklah, Tuan."


Setelah memberitahu Sean bahwa dirinya tidak bisa ke kantor hari ini, Erlan pun segera meletakkan ponsel tersebut kembali ke atas meja yang ada di hadapannya.


Ia kembali terdiam sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Alina mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya. Tiba-tiba saja pikiran lelaki itu tertuju pada CCTV yang ia pasang secara pribadi di depan pintu masuk.


"Apa aku cek rekaman CCTV saja, ya? Siapa tahu aku bisa menemukan jawabannya di sana."


Baru saja Erlan ingin meraih benda itu, dari dapur terdengar suara lembut Alina memanggil-manggil namanya.


"Mas Erlan, sarapanmu sudah siap," panggilnya.


"Ah, ya! Sebentar," sahut Erlan sambil tersenyum lebar.


Erlan melupakan tujuannya menghampiri nakas. Ia malah berbalik arah kemudian menghampiri meja makan yang letaknya pun tidak jauh dari ruang kamar tidur.


Lelaki itu tersenyum lebar ketika melihat menu spesialnya sudah terpampang di atas meja. Wangi khas nasi uduk buatan Alina sudah memenuhi ruangan kamarnya dan membuat perut Erlan semakin lapar.


Erlan bergegas menghampiri meja kemudian dengan cepat menarik kursi dan duduk di sana. Erlan memperhatikan Alina yang kini memasukkan nasi uduk tersebut ke atas piring miliknya sambil tersenyum manis.


Tidak ada kata bosan di kamus Erlan menatap wajah cantik Alina yang selama ini selalu menghantuinya. Lelaki itu terus saja menyunggingkan senyuman manis untuk Alina hingga membuat gadis itu salah tingkah.


"Mas, jangan tatap aku seperti itu. Apa kamu tidak melihat tanganku gemetar," ucap Alina sembari memperlihatkan tangannya yang bergetar kepada Erlan.


Erlan tergelak mendengar ucapan Alina dan tepat di saat itu pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar. Seketika Erlan menghentikan tawanya, ia dan Alina saling tatap untuk sejenak dengan pikiran mereka masing-masing.


"Aku yakin itu pasti Mommy dan Olivia. Bagaimana ini?!" batin Alina yang masih terdiam sambil menatap Erlan.


"Kenapa wajah Alina terlihat cemas? Aku penasaran," batin Erlan, yang juga masih terdiam menatap Alina.


Alina meletakkan peralatan makan yang masih menempel di tangannya kemudian meletakkannya ke atas meja. "Sebaiknya aku lihat siapa yang datang," ucap Alina, memecah kesunyian di ruangan itu.


Namun, baru saja Alina melangkahkan kakinya, Erlan kembali memanggil nama gadis itu.


"Biar aku saja, Sayang. Sebaiknya kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, ok." Erlan tersenyum sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menghampiri pintu utama.


Alina tidak punya pilihan lain, selain membiarkan Erlan yang ingin membuka pintu tersebut. Dengan wajah cemas, Alina memperhatikan lelaki itu dari kejauhan.


"Tamu yang bisa menerobos masuk ke sini hanya Sean dan Mommy, apa mungkin ini Mommy? Kalau Sean, rasanya sangat tidak mungkin," gumam Erlan.


Tiba-tiba Erlan terdiam ketika melihat ke arah layar monitor berukuran kecil yang terdapat di samping pintu. Sekarang ia tahu siapa yang sudah membuat pikiran Alina terganggu beberapa hari ini karena jawabannya sudah ada di depan mata lelaki itu.


...***...