
Di Apartemen.
"Mas, bangun." Perlahan Alina menggoyahkan tubuh Erlan yang masih terlelap tidur.
Tidak butuh waktu lama, Erlan membuka matanya kemudian menatap gadis itu sambil tersenyum. "Sayang."
"Sepertinya di luar sedang ada tamu. Tapi, aku tidak berani membukanya, Mas."
Erlan bangkit dari posisinya kemudian duduk di sofa tersebut sambil mendengarkan suara ketukan seseorang dari luar pinta. "Ah, ya. Sepertinya kamu memang benar. Tunggu di sini sebentar."
Erlan segera melangkahkan kaki menghampiri pintu kemudian membukanya. Lelaki itu tersenyum puas setelah tahu bahwa tamunya adalah Sean, yang membawakan barang-barang pesanan Erlan. Dua belah tangannya penuh dengan paper bag berukuran besar berisi pakaian serta pakaian dallam milik Alina.
"Wah, terima kasih, Sean. Masuklah," titah Erlan dengan senyuman hangat yang terus mengambang di wajah tampannya. Ia membuka pintu tersebut dengan lebih lebar kemudian membiarkan Sean masuk.
"Sayang, kemarilah. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Asistenku," ucap Erlan seraya menutup pintu itu kembali.
Mendengar panggilan Erlan, Alina pun segera menghampiri Erlan. Namun, begitu terkejutnya Alina setelah tahu siapa Asisten calon suaminya itu.
"Tuan Sean?" Alina membulatkan matanya dengan sempurna.
Bukan hanya Alina, Sean pun tidak kalah shok setelah tahu siapa calon istri Big Bossnya itu. "A-Alina ... kamu?" pekiknya dengan mata membesar menatap gadis itu.
Melihat ekspresi calon istri dan asistennya yang seperti itu, Erlan pun menautkan kedua alisnya dengan heran. "Kalian sudah saling kenal?"
Baik Alina maupun Sean bingung bagaimana menjelaskan pertemuan pertama mereka kepada Erlan. Alina sendiri belum menceritakan kepada Erlan bahwa dirinya pernah putus asa dan mencoba bunuh diri saat itu.
"Ehm ... Ya, Mas. Tuan Sean pernah membantuku. Saat itu aku--"
Belum selesai Alina berucap, tiba-tiba Erlan memotong pembicaraannya. Lelaki itu ingat akan cerita Sean bahwa Asistennya itu pernah membantu seorang gadis yang mencoba bunuh diri dan gadis itu bernama Alina.
"Sebentar, sebentar! Sean, jangan bilang bahwa gadis yang kamu tolong waktu itu adalah Alina yang ini?!" pekik Erlan. Walaupun sebenarnya ia yakin bahwa gadis yang dibantu oleh Sean adalah Alina yang sama, tetapi ia masih berharap kalau itu tidak benar.
Sean menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Tuan Erlan. Itu benar."
Erlan mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar jawaban dari Sean. "Oh, Tuhan!" pekik Erlan lagi sembari memeluk tubuh Alina dengan erat. Tak lupa lelaki itu juga melabuhkan kecupan di atas puncak kepala gadis itu berkali-kali. "Maafkan aku, Alina."
Setelah melerai pelukannya bersama Alina, Erlan mengajak Sean untuk duduk di sofa bersamanya. Sedangkan Alina memilih ke ruang dapur untuk membuatkan minuman untuk Erlan dan juga Sean.
"Ya ampun, Sean. Bagaimana bisa kamu bilang bahwa kamu tidak berhasil menemukan gadis yang aku cari, padahal saat itu Alina sudah ada di hadapan mata kepalamu," ucap Erlan sambil menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya.
Sean menghentikan ucapannya, ia menatap lekat wajah Erlan saat itu. Lelaki itu masih bingung bagaimana bisa Erlan mengakui bahwa gadis yang dia cari selama ini adalah Alina. Sedangkan Alina sendiri pernah bercerita padanya kalau Ayah dari bayi yang sedang ia kandung adalah mendiang Tuan Joseph.
Erlan tersenyum tipis. "Tuan Joseph?"
Perlahan Sean kembali menganggukkan kepalanya. "Ya, menurut cerita Nona Alina saat itu, Ayah dari bayinya adalah Tuan Joseph."
"Alina salah paham, Sean. Saat kejadian di malam itu, ia tidak sadarkan diri. Ia bahkan tidak tahu siapa yang sudah menyentuhnya."
Jawaban Erlan akhirnya membuat Sean mengerti bahwa ternyata Alina hanya salah paham. Gadis itu memgambil kesimpulan dari video singkat yang tidak bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada malam itu.
"Ah, syukurlah, Tuan. Saya pun turut senang mendengarnya. Akhirnya Anda berhasil menemukan gadis yang Anda cari-cari selama ini dan untuk Nona Alina, akhirnya dia berhasil menemukan siapa Ayah kandung dari bayinya." Sean tersenyum puas walaupun sebenarnya hatinya sedikit tercubit.
"Apa kamu tahu, Sean. Semua ini gara-gara nasi uduk buatan Alina. Nasi uduknya membawa keberuntungan padaku dan mempertemukan aku dengannya," tutur Erlan dengan wajah semringah.
Sean tersenyum. "Benarkah, Tuan? Pertemuan yang benar-benar unik."
Erlan kembali menyunggingkan sebuah senyuman. Apalagi saat itu Alina tiba dengan membawa nampan berisi minuman untuk dirinya dan Sean. Gadis itu meletakkan gelas minuman tersebut ke hadapan kedua lelaki itu sambil tersenyum hangat.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu apa minuman favorit kalian, jadi aku buatkan teh hangat saja," ucap Alina sembari duduk di samping Erlan sambil memeluk nampan yang sejak tadi ia pegang.
"Tolong secepatnya urus pernikahan kami, Sean. Aku tidak ingin lama-lama seperti ini. Selain tidak enak dengan penghuni lain di tempat ini, aku juga sudah tidak sabar ingin menjadikan Alina milikku seutuhnya." Erlan kembali memeluk tubuh Alina yang berada di sampingnya dengan erat.
"Benar 'kan, Sayang."
Sean tersenyum kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat kemesraan pasangan itu.
"Ya, Tuan Sean. Sebaiknya cepat," ucap Alina. "Karena aku takut lelaki ini semakin lengket kepadaku," lanjutnya karena merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Erlan.
Erlan hanya bisa tertawa pelan mendengar ucapan Alina. "Maafkan aku, Sayang. Entah ini bawaan bayi kita atau apa, tapi aku selalu ingin menempel di tubuhmu seperti ini dan hal ini benar-benar membuatku merasa sangat nyaman," sahutnya.
"Baik, Nona Alina. Kalian tenang saja, saya pasti urus semuanya."
Setelah puas berbincang-bincang, akhirnya Sean pun pamit. Ia harus segera kembali ke kantor. Sedangkan Big Bossnya sendiri masih ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih hati.
...***...