My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
The Gray Autumn




...Author : Komalasari...


Tak berselang lama, Benjamin menurunkan Autumn di depan sebuah rumah pantai miliknya. Rumah yang terlihat mewah dan memiliki banyak jendela kaca. Autumn terpaku untuk sejenak. "Ini rumahmu?" tanya gadis itu.


"Aku tidak akan membawamu ke rumah pria lain, Nona," sahut Benjamin seraya menuntun Autumn untuk memasuki rumahnya. Kali ini, Autumn menuruti pria itu tanpa banyak protes.


Suasana nyaman begitu terasa di dalam rumah itu. Semua yang ada di dalam rumah pantai milik Benjamin, tertata dengan begitu apik. Autumn berdiri terpaku dan menyapu setiap sudut ruangan tersebut dengan mata abu-abunya yang indah. Dia lalu meletakkan mantel dan tasnya di atas sofa. Autumn kemudian melihat arloji di pergelangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukulan sepuluh tiga puluh malam. Gadis itu pun mengeluh pelan.


"Mari kuantar pulang," ucap Benjamin yang muncul dari ruangan lain rumah itu. Rupanya, dia baru mengambil kunci mobil. Sedangkan Autumn saat itu terlihat gelisah. Hal tersebut membuat Benjamin merasa heran. "Ada masalah, Nona?" tanya pria itu seraya menatap lekat Autumn.


"Pintu rumahku sudah terkunci saat pukul sepuluh malam," jawab Autumn dengan perasaan yang tak karuan.


"Lalu?" tanya Benjamin mengernyitkan keningnya.


"Aku akan tidur di teras. Ya, sudah seharusnya seperti itu," jelas Autumn. Dia kembali meraih mantel dan tasnya. Sementara Benjamin hanya dapat mengempaskan napas pelan. Dia melemparkan kunci mobil ke atas meja. Autumn pun kembali meletakkan mantel dan tas. Raut wajahnya masih terlihat gelisah.


"Mari kita mencari angin," ajak Benjamin. Pria itu melangkah ke bagian luar rumah. Di sana terdapat sebuah bukaan dengan satu set sofa yang terlihat sangat nyaman. Akan tetapi, Benjamin tidak mengajak Autumn untuk duduk, melainkan berdiri di dekat pagar pembatas.


"Kau sering datang kemari, Tuan Royce?" tanya Autumn pelan.


"Ya. Hampir setiap bulan aku kemari," jawab Benjamin singkat.


"Ayahku mengatakan jika kau memiliki rumah di mana-mana, mungkin di seluruh Perancis," ucap Autumn lagi. Benjamin hanya tersenyum seraya menggumam pelan.


"Apa kau juga memiliki kekasih di setiap kota yang berbeda?" tanya Autumn lagi. Belum sempat Benjamin menjawabnya, Autumn sudah kembali bertanya, "Apakah semua pria seperti itu? Dia akan lari dari satu wanita dan menghampiri wanita yang lain, lalu mengabaikan yang lainnya lagi, dan lagi. Selalu melakukan hal yang sama," nada bicara Autumn terdengar cukup lirih saat itu.


"Pria itu selalu mengabaikanku," jawab Autumn dengan segera.


"Siapa pria itu?" tanya Benjamin lagi.


"Kau tidak mengenalnya. Untuk apa aku memberitahumu," tolak Autumn. Gadis itu kemudian berbalik. Dia menyandarkan sebagian tubuhnya pada pagar pembatas. Sementara Benjamin berdiri menyamping dan menatap lekat paras cantik gadis muda itu.


"Apakah kekasihmu itu pria yang bodoh, sehingga dia mengabaikanmu begitu saja?" Benjamin meletakkan tangan kanan pada pagar pembatas, sementara tangan kirinya berada di pinggang.


Autumn menoleh dan tersenyum simpul. "Bisa saja karena dia terlalu pintar, dan aku yang terlalu bodoh," bantahnya pelan.


"Kenapa begitu?" Benjamin mengernyitkan kening karena tak mengerti akan maksud dari perkataan gadis itu. Sementara Autumn terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya. Dia berkali-kali menggigit bibir bawah dan sesekali memainkannya.


"Aku, aku terlalu pasif untuknya," jawab Autumn pelan. Sementara Benjamin tampak semakin penasaran. "Kekasihku adalah seorang fotographer. Dia biasa bergaul dengan para model, dan kau tahu seperti apa seorang model. Mereka selalu tampil sempurna ... entahlah, tapi aku ...." Autumn tak melanjutkan kata-katanya.


"Apa yang ada dalam pikiranmu? Kau merasa rendah diri?"


"Aku bukan gadis yang hangat. Entahlah, tapi tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja dan sedikit mengobati rasa kecewaku," ujar Autumn lagi. Dia lalu menundukan wajahnya.


Tanpa Autumn duga, Benjamin tiba-tiba menyentuh dan mengangkat dagunya dengan perlahan. Pria itu kemudian menatap lekat wajah gadis yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Sedingin dan sehangat apa dirimu?" tanyanya dengan setengah berbisik, membuat Autumn seketika terpaku dengan dada yang berdebar kencang. Gadis itu kemudian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu," jawabnya.


"Apa kau ingin mengetahuinya?" bisik Benjamin lagi, membuat Autumn kian salah tingkah. Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya menatap sepasang mata abu-abu Benjamin yang tampak sangat berbeda saat itu. "Mari kita cari tahu jawabannya," bisik pria rupawan itu.


...***...