
"Masuklah, Nona."
Sean membuka pintu ruangan itu secara perlahan dan tampaklah Imelda yang masih bersandar di tempat tidurnya dengan wajah yang masih terlihat pucat. Imelda tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak merembes ketika bertatap mata dengan Alina.
Imelda benar-benar tidak menyangka bahwa ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu. Imelda mengulurkan kedua belah tangannya ke depan dan berharap Alina sudi menyambut uluran tangannya tersebut.
"Terima kasih, Sean." Perlahan Alina masuk ke dalam ruangan tersebut masih bersama Erlan yang begitu setia mengikuti kemanapun Alina melangkahkan kakinya.
Alina menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia mencoba menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk Imelda kemudian menyambut uluran tangan sahabatnya itu.
"Mel," lirih Alina dengan mata berkaca-kaca.
"Alina, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!" Tangis Imelda pecah dan Alina pun segera memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
"Ya, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, Imelda. Aku juga mau minta maaf jika aku punya salah sama kamu," sahut Alina sambil membelai lembut punggung Imelda yang bergetar hebat karena isak tangisnya.
Bu Dita yang juga sedang berada di ruangan tersebut tidak dapat menahan rasa terharunya. Ia memeluk tubuh Pak Heri dan terisak di dada lelaki itu. Sedangkan Sean, memilih keluar dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.
Imelda masih menangis histeris di dalam pelukan Alina tanpa bisa berkata-kata lagi hingga beberapa saat lamanya. Hingga akhirnya Alina melerai pelukan mereka karena si kecil dalam perutnya kembali beraksi akibat pelukan Imelda.
"Sudahlah, Imelda. Berhentilah menagis, apa kamu tidak lihat, si kecilku pun ikut rewel karena mendengar suara tangismu," goda Alina sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk wanita itu.
Imelda tertawa pelan di sela isak tangisnya. Ia mencoba menyeka air mata yang terus saja lolos dari kedua pelupuk matanya tersebut. "Bolehkah aku menyentuhnya, Alina?" tanya Imelda, menengadah menatap Alina yang berdiri di hadapannya.
Alina menganggukkan kepalanya pelan. "Sentuhlah, siapa tahu setelah di sentuh oleh Tante Imelda, si kecil ini bisa lebih tenang."
Imelda tampak begitu bahagia setelah mendapat izin dari Alina untuk menyentuh perut besar sahabatnya itu. Perlahan Imelda menyentuh perut Alina yang menonjol dan merasakan gerakan-gerakan halus dari bayi mungil tersebut.
"Sepertinya dia cowok," celetuk Imelda.
Alina tersenyum mendengar ucapan Imelda kemudian menatap Erlan yang masih berdiri di sampingnya. Erlan pun membalas senyuman Alina sambil mengangkat kedua bahunya.
"Aku benar 'kan?" tanya Imelda seraya menengadah menatap Alina yang hanya tersenyum tanpa menyahut ucapannya.
Alina turut mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Mel. Dia begitu pemalu ketika di USG."
"Oh ya, Imelda. Kenalkan ini suamiku, Erlan." Alina memperkenalkan Erlan kepada Imelda.
Erlan mengulurkan tangannya kepada Imelda dan segera disambut oleh wanita itu dengan wajah terheran-heran. Karena saking fokusnya kepada Alina, Imelda bahkan tidak menyadari bahwa ada lelaki yang begitu tampan berdiri di samping Alina.
"Su-suamimu?" tanya Imelda dengan terbata-bata sambil menatap lekat Alina. Ia tidak menyangka bahwa suami Alina begitu tampan. Imelda sangat yakin, melihat dari penampilannya lelaki yang bernama Erlan tersebut bukanlah lelaki sembarangan.
"Ya, dia suamiku, Daddy dari bayiku, Mel." Alina menengadah menatap Erlan yang kemudian di balas Erlan dengan sebuah kecupan hangat di kening Alina.
Dengan terheran-heran, Imelda menatap Alina. Ia bingung bagaimana bisa lelaki tampan di hadapannya tersebut mengaku-ngaku bahwa anak dalam kandungan Alina adalah bayinya. Sedangkan setahu Imelda, yang membeli keperawanan Alina adalah lelaki tua berkepala pelontos tersebut.
"Tidak usah bingung, Mel. Ceritanya panjang, nanti akan kuceritakan semuanya kepadamu," lanjut Alina.
Setelah berkenalan dengan Imelda, Erlan memilih menghampiri Bu Dita dan Pak Heri. Erlan mengajak kedua orang tua tersebut berbincang-bincang agar Alina bisa berbicara empat mata dengan bebas bersama Imelda.
Alina menceritakan apa yang terjadi padanya di malam itu menurut versi Erlan kepada Imelda. Imelda begitu terkejut mendengarnya, ia membulatkan matanya dengan sempurna seolah tidak percaya dengan penuturan sahabatnya itu.
Namun, Imelda ikut bahagia karena akhirnya Alina menemukan sebuah kebahagiaan besar yang memang pantas ia dapatkan.
"Aku turut bahagia, Alina. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga menjadi kakek-nenek dan hanya maut yang dapat memisahkan kalian."
"Terima kasih doanya, Imelda. Kamu juga ya, semoga setelah ini kamu mendapatkan seorang laki-laki yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangimu," sahut Alina.
...***...