My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Ekstra Part 3



Setelah beristirahat beberapa saat untuk melepaskan penat mereka, kini Imelda dan Sean bersiap menuju Rumah Sakit, di mana Chandra sudah di rawat selama dua minggu terakhir.


Kondisi Chandra yang semakin hari semakin memburuk, membuat Bu Kirana dan Pak Agung tidak kuasa menahan kesedihan mereka. Bu Kirana bahkan tidak semangat lagi menjalani kehidupannya setelah Chandra tergolek lemah di atas tempat tidur pasien.


Seharusnya dengan melakukan pengobatan rutin, Chandra bisa saja bertahan hidup lebih lama lagi. Namun, yang membuat kondisinya semakin memburuk adalah semangat lelaki itu.


Ia memang sudah tidak bersemangat menjalani hidupnya setelah tahu bahwa dirinya mengidap penyakit mematikan tersebut. Ia sering kali berucap kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya sudah tidak berguna.


Chandra juga sering berkata bahwa ia lebih baik mati dari pada hidup dalam bayang-bayang penyakit memalukan tersebut. Mendengar ucapan Chandra yang seperti itu, membuat Bu Kirana dan Pak Agung semakin putus asa.


"Nak, Mami punya kabar baik untukmu," ucap Bu Kirana yang sedang duduk di samping tempat tidur Chandra sembari mengelus puncak kepala anak lelakinya itu.


Perlahan Chandra membuka matanya kemudian menatap Bu Kirana. "Apa ini ada hubungannya dengan anakku, Mi?" tanya Chandra dengan suara yang terdengar sangat lemah.


Bu Kirana menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Nak. Ini ada hubungannya dengan anakmu, Rendra."


Chandra tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari Bu Kirana. Ini adalah senyuman pertamanya setelah dua pekan berada di ruangan itu.


"Apa Imelda bersedia mempertemukan aku dengan anakku, Mi? Lalu, kapan dia ke sini?" ucap Chandra dengan sangat antusias. Kabar membahagiakan itu membuat ia menjadi lebih bersemangat.


"Hari ini, Nak. Imelda dan suaminya akan tiba sebentar lagi bersama si kecil Rendra," ucap Bu Kirana.


Tidak berselang lama, Imelda dan Sean pun tiba di Rumah Sakit tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, Sean segera menuntun Imelda menuju ruangan di mana Chandra sedang di rawat.


"Rendra, Sayang ... hari ini Rendra akan bertemu dengan Daddy Chandra, apa Rendra senang?" tanya Sean yang sedang menggendong Rendra sembari menggandeng tangan Imelda melewati lorong-lorong di Rumah Sakit tersebut.


Walaupun sebenarnya Rendra belum tahu siapa Chandra sebenarnya, tetapi bocah lelaki itu tampak senang saat ingin dipertemukan dengan Ayah kandungnya.


Setiap kali Rendra bertanya tentang siapa Daddy Chandra kepada Sean dan Imelda, mereka selalu menjawab bahwa Daddy Chandra adalah Daddy Rendra juga. Jawaban mereka saat itu sudah cukup membuat si kecil Rendra tidak lagi penasaran tentang siapa Chandra sebenarnya.


Setibanya di depan ruangan, di mana Chandra di rawat. Ternyata Pak Agung sudah menunggu mereka di sana. Lelaki itu senang bukan main melihat kedatangan Imelda dan Sean serta si kecil Rendra yang masih berada di pelukan Sean.


"Tuan Sean, terima kasih banyak," ucap Pak Agung dengan mata berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangannya kepada Sean dan segera disambut oleh lelaki itu.


"Sama-sama, Pak Agung. Jadi, kami harus bagaimana ini?" tanya Sean kepada lelaki paruh baya tersebut.


"Ehm, sebaiknya kalian di sini saja soalnya kami sudah konsultasi kepada Dokter yang menangani penyakit Chandra. Dokter tidak mengizinkan si kecil Rendra untuk mendekat langsung kepada Chandra agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tuan mengerti 'kan apa maksud saya," tutur Pak Agung dengan wajah sedih menatap Sean serta Imelda secara bergantian.


Sean pun menganggukkan kepalanya. Ya, mereka mengerti bagaimana kondisi Chandra saat ini. Beruntung Chandra pun mengerti dan ia sudah cukup bahagia walaupun hanya bisa melihat anak semata wayangnya dari kejauhan.


Kini si kecil Rendra berada di pelukan Imelda. Saat itu mereka berdiri di depan kaca ruangan sambil melambaikan tangan ke arah Chandra yang menatap mereka dari dalam ruangan.


Chandra benar-benar terharu. Ia bahkan sampai menitikkan air matanya ketika melihat wajah tampan Rendra yang sedang tersenyum menatapnya.


"Lihatlah dia, Mi! Dia sangat tampan," lirih Chandra sambil menyeka air matanya.


"Ya, Nak. Kamu benar, dia sangat tampan," jawab Bu Kirana.


...***...