My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Baby Erica, Erina, dan Elia



"Erica, Erina, sudah Sayang, jangan berebut!"


Alina kalang kabut menengahi kedua bayi perempuannya yang sedang berebut sebuah boneka teddybear. Padahal di lantai ruangan itu sudah berhambur berbagai macam boneka dengan berbagai bentuk dan ukuran.


"Erica yang ini dan Erina yang ini!" lanjut Alina mencoba melerai perkelahian mereka. Karena terlalu fokus dengan kedua bayinya yang sedang berebut boneka tersebut, Alina sampai lupa kalau ia masih punya satu lagi yang sedang berkeliaran di ruangan itu.


"Mom, Dede Eya aik eja!" ucap Arkana sembari menarik-narik dress yang dikenakan oleh Alina.


Saat ini si kecil Arkana genap berusia 24 bulan sedang Triplets Baby sudah berusia 9 bulan, di mana mereka sedang aktif-aktifnya.


"Hah?!" pekik Alina dengan mata membulat menatap si kecil Arkana. Arkana menganggukkan kepalanya kemudian menunjuk ke atas meja yang ada di ruang utama, di mana adiknya Elia sedang merangkak naik ke atas meja.


"Akh! Jangan Elia!" teriak Alina dengan wajah cemas.


Alina berlari mengejar Elia yang sudah duduk di atas meja sambil bertepuk tangan kegirangan karena ia sudah berhasil menaiki meja tersebut.


"Ya ampun, Nak! Jangan duduk di atas sini, nanti kalau Elia jatuh bagaimana?!" pekik Alina seraya meraih Elia kemudian membawanya menjauh dari meja tersebut.


Baby Elia tampak berontak, ia menagis karena Sang Mommy melarangnya duduk di atas meja tersebut. "Hussh, Sayang ... jangan nangis donk," ucap Alina mencoba menenangkan Baby Elia.


Baby Elia masih belum tenang, sekarang datang masalah baru. Erika dan Erina kembali berebut mainan yang lain. Erika melepaskan mainan yang mereka perebutkan dan hal itu membuat Erina jatuh ke lantai kemudian menagis histeris.


Sekarang ada dua bayi yang sedang menangis histeris di samping kiri dan kanan Alina. "Mbak, cepatlah kembali! Aku benar-benar kewalahan dibuatnya," gumam Alina yang hampir saja ikut menangis karena tidak bisa menenangkan tiga bayi kembarnya.


Tepat di saat itu Mommy Afiqa tiba bersama Babysitter yang tadi izin sebentar ke bank untuk mentransfer uang ke keluarganya di kampung.


"Ah, Mbak! Akhirnya kamu datang juga. Lihatlah, aku kewalahan dibuatnya," ucap Alina dengan wajah kusut menatap Sang Babysitter.


"Ah, iya! Maafkan saya, Nona." Wanita itu bergegas menghampiri Alina kemudian meraih Erina dari pelukan majikannya tersebut dan mencoba menenangkannya.


Alina menghembuskan napas lega. Kini di ruangan itu hanya tinggal dirinya, Arkana dan Erica. Alina menjatuhkan tubuhnya di bawah sofa dan bersandar di sana sambil memeluk si kecil Erica yang masih anteng bersama bonekanya.


Arkana memperhatikan Mommy-nya dengan saksama sambil mematung tak jauh dari tempat Alina bersandar. Alina menyadari hal itu, ia tersenyum ketika menatap Arkana kemudian meminta anak lelakinya itu untuk segera mendekat padanya.


"Kemarilah, Arkana sayang!" pinta Alina sambil tersenyum hangat.


Arkana pun mendekat dan Alina menuntunnya untuk duduk di pahanya sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanan di duduki oleh si kecil Erica.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Alina sembari mengelus puncak kepala anak lelakinya itu.


"Kalo Arkana utah kede, Arkana antu Mommy daga dede," ucap Arkana dengan logatnya, sambil mengelus lembut wajah Alina yang terlihat kusut.


"Ya, Sayang. Tentu saja," sahut Alina dengan mata berkaca-kaca menatap Arkana.


Ia menciumi anak lelakinya itu berkali-kali sambil menitikkan air mata. Di usianya yang baru genap dua tahun, Alina bahkan keteteran membagi perhatian serta kasih sayang untuk Arkana dan juga untuk ketiga adik kembarnya yang masih kecil-kecil.


"Maafkan Mommy ya, Sayang. Karena Mommy sering sekali mengabaikanmu," ucap Alina dengan wajah kusutnya.


"Mommy dangan sedih-sedih, nanti Arkana duga ikut sedih," ucap Arkana sembari menyeka air mata Alina.


Jika Alina keteteran menjaga ke empat anaknya yang masih kecil-kecil, tidak jauh berbeda dari Imelda. Wanita itu pun sering keteteran menjaga kedua anak lelakinya. Tanpa dibantu Babysitter, Imelda pun akan kewalahan dibuatnya. Si kecil Kamil Abraham yang super duper aktif, sedangkan Rendra yang hanya bisa duduk diam dan tak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari Ibunya dan juga Babysitter.


***


Mungkin esok bab terakhir cerita keluarga Alina dan Erlan. Ah, Author jadi sedih 😭😭😭