
"Kamu memang kurang ajar! Aku benci kamu, Edgar! Dan ingatlah kata-kataku, selama aku tidak bahagia, maka aku bersumpah bahwa kamu pun tidak akan pernah hidup bahagia!" kesal Olivia sambil menunjuki wajah Edgar.
Olivia yang sudah di puncak kekesalannya, segera melangkah dengan cepat keluar dari kamar Edgar. Ia benar-benar kecewa ternyata pertemuannya dengan lelaki itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Edgar tidak bisa diajak bekerja sama untuk mengembalikan Erlan ke sisinya sama seperti dulu.
"Percuma saja aku memanggil lelaki itu ke sini! Ia bahkan tidak mau membantuku! Arrgh, sekarang apa yang harus aku lakukan, sedangkan pernikahan Erlan dan gadis kampung hanya tinggal beberapa hari lagi," gerutu Olivia di sepanjang perjalanan menuju lift.
Sementara itu di dalam kamar Edgar.
Edgar yang masih duduk di sofa di dalam kamar tersebut, mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku, Olivia. Sebesar apapun cintaku padamu, aku tetap tidak akan melakukan hal bodoh itu dan membiarkanmu kembali kepada Erlan dengan cara seperti yang kamu minta."
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu oleh pasangan Erlan dan Alina pun tiba. Hari di mana mereka akan mengesahkan hubungan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Ya, walaupun hanya secara siri.
Pernikahan mereka dilaksanakan di sebuah Ballroom Hotel dengan pesta yang cukup meriah. Hotel terbaik yang ada di kota itu, Hotel Mentari, di mana Edgar masih menginap di tempat tersebut.
Acara pernikahan Erlan dan Alina memang dilaksanakan secara tertutup. Hanya dihadiri oleh keluarga, kerabat dekat, rekan bisnis serta beberapa tamu undangan yang merupakan orang kepercayaan Erlan.
Saat ini tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mereka berkumpul dan duduk di kursi yang sudah tersedia di tempat itu. Di antara banyaknya tamu, seorang lelaki yang kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruangan itu, sedang berdiri di salah satu sudut ruangan sambil memegang ponselnya.
Erlan, lelaki itu mencoba menghubungi nomor ponsel milik Sang Mommy untuk yang kesekian kalinya. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah tampan lelaki itu. Sudah beberapa kali Erlan terlihat mendesahh, menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Ya, Erlan." Nyonya Afiqa mendesahh. Sama halnya Erlan, wanita paruh baya itu pun terdengar sedang membuang napas beratnya.
"Tidak bisakah Mommy berhadir di pesta pernikahanku hari ini?" lirih Erlan dengan wajah memelas saat itu.
"Maafkan Mommy, Erlan. Mommy tidak bisa--" Ucapan Nyonya Afiqa terhenti, wanita itu kembali menghembuskan napas berat, seberat beban yang ia rasakan di hatinya saat ini. "Tapi, doa Mommy akan terus menyertai setiap langkahmu, Nak. Semoga pernikahanmu bersama Alina berjalan dengan lancar dan Mommy juga mendoakan semoga kalian selalu bahagia. Oh ya, Mommy titip salam buat Alina, ya."
Penuturan Nyonya Afiqa saat itu membuat Erlan menitikkan air matanya. Ada rasa bahagia dan kecewa menjadi satu di dalam hatinya. Bahagia setelah mendengar doa-doa yang keluar dari bibir wanita yang sudah melahirkannya itu, tetapi ia juga kecewa karena Nyonya Afiqa masih kekeh tidak ingin berhadir ke pesta pernikahannya bersama Alina.
"Mom, please!" lirih Erlan.
"Maafkan Mommy, Nak. Sudah dulu ya, Mommy ingin istirahat," sahut Nyonya Afiqa sembari memutuskan panggilan dari Erlan.
Erlan benar-benar kecewa. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan sedih. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sentuhan seseorang di pundak sebelah kirinya. Erlan segera menoleh kemudian memeluknya dengan erat.
"Mommy masih keras dengan pendiriannya, bukan?" tanya Rara yang kini sedang memeluk tubuh besar Erlan.
"Ya, Kak. Mommy tetap kekeh tidak ingin menyaksikan pernikahanku dengan Alina." Tubuh besar Erlan nampak bergetar dan Rara tahu bahwa adik lelakinya itu sangat sedih sekarang ini.
"Sudah, tidak usah kamu pikirkan hal itu. Masih ada Kakak di sini, Erlan. Kakak akan selalu mendukung apapun keputusanmu selama itu terbaik untukmu," sahut Rara seraya melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Erlan yang sempat menetes.
"Lagi pula, apa kamu sudah lupa bagaimana kisah cinta Kakak bersama Kak Abimanyu selama ini?" Rara mencoba mengingatkan bagaimana cerita cintanya bersama Sang Suami yang juga tidak di restui oleh Nyonya Afiqa dengan alasan Abimanyu bukanlah lelaki yang selevel dengan mereka.
Erlan mencoba mengingatnya dan ya, kisah cinta Kakak perempuannya pun tidak kalah mengenaskan dari kisah cintanya bersama Alina. Mata Erlan kembali berkaca-kaca dan ia benar-benar terharu.
Ternyata si kecil Arsilla pun berada di sana dan ia tertawa setelah mendengar ucapan Sang Mommy. "Udah, jangan nangis lagi, Om. Nanti make up-nya luntur loh," sambung bocah cantik itu.
"Ya, ya ... Om sudah tidak menangis lagi, coba lihat ini," sahut Erlan sembari memperlihatkan matanya kepada Arsilla.
Tepat di saat itu, Sang mempelai wanita tiba di sana bersama para Bridesmaid yang mengikutinya dari belakang. Alina nampak sangat cantik. Wajah polosnya yang tidak pernah di sentuh oleh make up tersebut terlihat sangat berbeda.
Erlan bahkan sampai mematung dan bibirnya mendadak kaku. Begitupula Rara dan si kecil Arsilla, mereka terpesona melihat kecantikan gadis mungil itu. Dengan balutan kebaya modern membalut tubuhnya, membuat Alina nampak seperti seorang Ratu di tengah-tengah para Dayang yang sedang mengelilingi tubuhnya.
Para Bridesmaid menuntun Alina hingga ke pelaminan, begitupula Erlan. Rara menuntun adik lelaki itu hingga duduk bersama Alina di depan seorang penghulu yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
Erlan meraih tangan Alina kemudian menggenggamnya dengan erat. Mereka sempat saling tatap sambil melemparkan senyuman hangat, mencoba saling memberikan semangat satu sama lain.
"Baiklah, sekarang kita mulai saja acaranya, ya," ucap Pak Penghulu kepada kedua mempelai dan saksi-saksi yang berada di samping kiri dan kanannya.
"Baik," jawab mereka serempak sambil menganggukkan kepala.
Setelah melewati acara pembukaan, pembacaan doa dan sebagainya, akhirnya tiba saatnya pengucapan ijab kabul. Sebelum mengulurkan tangannya, Pak Penghulu sempat melemparkan senyuman hangatnya kepada Erlan.
Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi Erlan, tetapi tetap saja hal itu membuatnya gugup. Saking tegangnya, Erlan bahkan tidak mampu membalas senyuman yang diberikan oleh Pak Penghulu saat itu.
"Bagaimana, Erlan? Sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Ya," jawab Erlan dengan tegas walaupun sebenarnya ia masih sangat gugup.
"Baiklah." Pak Penghulu mengulurkan tangannya kepada Erlan dan segera di sambut oleh lelaki itu.
"Saya nikahkan engkau Erlan Ardinasa Harrison bin Richard James Harrison dengan Alina binti almarhum Arifin dengan mas kawin cincin mas seberat 15 gram serta seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Setelah Pak Penghulu menghentakkan tangannya, kini tiba saatnya giliran lelaki itu. Erlan semakin gugup, tetapi ia masih bisa mengontrol dirinya. Perlahan Erlan menggerakkan bibirnya kemudian menjawab ucapan dari Pak Penghulu.
"Saya terima nikahnya Alina binti almarhum Arifin dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"
Huft! Terdengar hembusan napas panjang Erlan setelah berhasil mengucapkan bagiannya dengan mulus, semulus jalan tol dan tanpa ada drama salah sebut.
"Bagaimana saksi-saksi? Sah?!" tanya Pak Penghulu sembari memperhatikan wajah-wajah para saksi yang duduk di samping kanan dan kirinya.
"SAH!" sahut mereka serempak, dan Abimanyu adalah saksi ternyaring yang mengucapkan hal itu karena saking semangatnya. Para tamu undangan bahkan tertawa mendengar suara lantang yang keluar dari bibir Kakak Ipar Erlan tersebut.
"Astaga, Daddy!" Wajah Rara terlihat merah merona menahan malu.
"Maafkan aku, Sayang. Tapi hari ini aku begitu bersemangat dan aku teringat akan pernikahan kita dulu," jawabnya sambil terkekeh pelan.
...***...