
...Racun Cinta Arsenio ...
...By : Crazy _Girls...
Blurb:
Arsenio Wilhelm Rainier memiliki segalanya. Tampan, kaya raya dan selalu dikelilingi wanita.
Akan tetapi, semua berubah ketika dia mengalami kecelakaan dan amnesia. Arsenio berubah menjadi seseorang yang jauh berbeda. Apalagi dengan hadirnya gadis cantik nan lugu yang telah membuatnya jatuh cinta.
Sayang, kisah cinta itu harus berakhir ketika ingatannya kembali.
Cuplikan Bab:
Nirmala Binar Candramaya, gadis berusia dua puluh tahun yang harus menjalani kehidupan keras setiap hari. Semenjak sang ayah tiada, dia tinggal bersama ibu serta kedua saudara tirinya di salah satu pemukiman daerah Gianyar, Bali.
Binar merupakan seseorang yang berparas cantik, dengan postur tubuh ideal khas gadis Indonesia. Setelah dirinya lulus SMA, dia tak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Faktor ekonomi menjadi alasan utama, dan membuat Binar bahkan harus rela bekerja banting tulang. Padahal, dia merupakan salah satu murid yang berprestasi di sekolahnya. Binar mahir dalam bidang matematika dan juga fasih berbahasa Inggris.
Hari itu, suasana di toko souvenir tempatnya bekerja kebetulan sedang ramai pengunjung. Sang pemilik pun memutuskan untuk membuka tokonya menjadi lebih lama, yaitu sampai pukul sembilan malam. Jatah lembur Binar pun bertambah satu jam. Lelah, tentu saja. Gadis dengan postur 168 cm tersebut ingin segera pulang dan beristirahat. Apalagi, dalam tasnya kini telah terisi dengan uang gajian yang akan segera dia berikan kepada ibu dan adiknya yang telah menantikan dirinya di rumah.
Seperti biasa, malam itu pun Binar pulang dengan berjalan kaki. Dia kerap melakukan hal demikian agar dapat mengirit pengeluaran. Lagi pula, jarak antara toko dan rumahnya memang tidak terlalu jauh.
Namun, kali ini ada yang berbeda pada jalanan yang biasa dia lewati. Binar tertegun dan merasa terganggu, lebih tepatnya adalah takut. Beberapa langkah di hadapannya pada keremangan suasana malam, tampaklah seorang pria bertubuh tegap yang tengah berjalan sambil terseok-seok. Kemeja putih yang dikenakan pria itu pun telah sobek di beberapa bagian. Di sana juga terlihat noda darah yang cukup banyak. Sepertinya, pria tersebut merupakan korban kecelakaan atau mungkin korban kejahatan.
Binar tertegun dengan tatapan lekat tertuju ke depan. Pria itu sesekali terlihat menggerakkan tangannya. Ragu dan tentu saja takut untuk mendekat. Namun, rasa penasaran dan juga iba mulai mengusik hatinya. Perlahan, Binar melangkah maju. Dia lalu menurunkan tubuhnya di dekat pria tadi. Dari perawakan dan ciri-ciri fisik, gadis itu yakin bahwa pria tersebut adalah seorang warga negara asing.
“Are you alright, Sir?” tanyanya dengan ragu.
Pria itu berusaha untuk mengangkat wajahnya. Dia lalu menggeleng perlahan.
Entah keberanian dari mana yang muncul dengan begitu saja dalam diri Binar. Dia meraih tubuh dengan postur yang jauh lebih besar darinya. “Berusahalah untuk bangun, Sir,” ucapnya seraya mencoba membantu pria itu agar segera bangkit. Sekuat tenaga, si pria pun menuruti ucapan Binar. Walau dia terlihat begitu lemah, tetapi akhirnya pria tersebut bisa memaksakan diri hingga berdiri. “Aku akan mengantar Anda ke rumah sakit terdekat,” ucap Binar lagi sambil memapah si pria hingga ke tepi jalan raya. “Anda masih kuat untuk berjalan?” tanya gadis itu. “Jarak ke rumah sakit terdekat hanya beberapa meter dari sini,” ujarnya lagi.
Pria yang sepertinya warga negara asing tadi mengangguk lemah. Dia terlihat memaksakan dirinya untuk melangkahkan kaki, meskipun kadang terseok karena postur Binar yang terlalu mungil dan tak mampu menahan bobot tubuh dirinya yang tinggi besar. Namun, keduanya terus berjalan menyusuri trotoar, hingga akhirnya tiba di depan rumah sakit yang mereka tuju.
Sesampainya di sana, beberapa petugas jaga segera membantu Binar. Mereka membaringkan pria yang terluka itu di atas brankar, kemudian segera membawanya menuju ruang tindakan. “Anda siapanya pasien?” tanya salah seorang petugas medis yang tadi membantu.
“Saya ... um ... saya ....” belum sempat Binar menjawab, rekan petugas medis tadi sudah memanggilnya.
“Kami akan melakukan tindakan dengan segera, jika sudah mengetahui siapa yang akan menjadi penanggung jawabnya,” jelas petugas tersebut.
Mendengar hal itu, Binar seperti tidak memiliki pilihan lain. Mau tak mau, karena dia yang telah membawa pria tadi maka dirinyalah yang harus menjadi penanggung jawab. “Saya, saya yang akan menjadi penanggung jawabnya, Sus. Saya kerabat dekat pasien,” jawab gadis itu dengan mantap.
“Kerabat dekat atau ....” petugas medis tadi tak melanjutkan ucapannya. Dia tampak mengernyitkan kening karena merasa heran, berhubung pria yang Binar bawa adalah warga negara asing.
“Iya, benar. Saya ... saya adalah istri pasien tadi,” jawab Binar mencoba untuk terlihat meyakinkan di hadapan petugas medis itu.