
Baru saja Chandra ingin melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja mata lelaki itu tertuju pada sebuah foto pernikahan yang terpajang di atas meja kecil, di samping tempat duduknya.
"Foto pernikahan siapa ini, Mi?" Chandra meraih foto tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama. Sebuah foto pernikahan yang sengaja diberi 'photo frame' berharga mahal dan tentunya sangat cantik dipandang mata.
"Oh, itu. Itu foto pernikahan Tuan Erlan dan Istri barunya. Mereka pasangan yang serasi, bukan? Yang satu cantik dan satunya lagi tampan," jelas Bu Kirana sembari melebarkan senyumnya.
Tadinya Chandra hanya penasaran pada sosok lelaki tampan yang sedang memeluk mesra mempelai wanitanya. Namun, semakin ia memperhatikan foto tersebut, semakin membulat mata lelaki itu.
"Ya, Tuhan! Bukankah ini ...," gumam Chandra seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kamu kenapa sih, Chandra?" tanya Bu Kirana sambil menatap heran kepada anak lelakinya itu.
"Sebentar, Mami. Ja-jadi ini adalah Boss-nya Daddy yang bernama Tuan Erlan Ardinasa Harrison itu? Dan wanita ini istrinya?" pekik Chandra dengan terbata-bata.
Bu Kirana menautkan kedua alisnya, masih memperhatikan wajah Chandra. "Ya, dia adalah Tuan Erlan Ardinasa Harrison, Lelaki yang kini memimpin perusahaan Harrison group. Memangnya kenapa, Nak? Kok sepertinya kamu shok begitu?!" tanya Bu Kirana heran.
"Ya, Tuhan! Bagaimana bisa?" gumam Chandra lagi, masih memperhatikan foto pernikahan Erlan dan Alina. "Apa Mami tau siapa nama wanita ini?" tanya Chandra sembari menunjuk ke foto Alina.
Bu Kirana tampak berpikir sejenak untuk mengingat nama istri dari pemilik perusahaan Harrison group tersebut, di mana suaminya (Pak Agung Lesmana) bekerja.
"Alin ... apa ya!"
"Alina?!" sela Chandra yang mencoba mengingatkan Bu Kirana siapa nama mempelai wanita Tuan Erlan.
"Ya, betul sekali! Eh, kok kamu tahu sih, Chandra? Apa kamu mengenali wanita itu?"
"Astagaaa!" Chandra menepuk jidatnya. "Ya, tentu saja aku mengenalinya, Mi. Dia adalah teman satu sekolahku! Dia juga teman baiknya Imelda, tetapi sayangnya Imelda yang bodoh itu sudah mengkhianati Alina. Ya Tuhan, siapa sangka sekarang gadis miskin itu akhirnya menjadi istri dari seorang pengusaha besar," tutur Chandra sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Benarkah? Jadi, Istri Tuan Erlan itu berasal dari kota yang sama seperti kita? Wah, membanggakan sekali, ya!" tutur Bu Kirana.
Bu Kirana kembali memperhatikan raut wajah Chandra saat itu. Lelaki itu kembali terdiam sambil melamun. Pandangannya kosong ke depan hingga membuat Bu Kirana kembali teheran-heran.
"Kamu kenapa lagi, Chandra? Oh ya, kamu masih belum menjawab pertanyaan Mami sebelumnya, sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu, Nak?" Bu Kirana mengelus lembut pipi sebelah kanan Chandra dengan lembut tanpa melepaskan pandangannya kepada lelaki itu.
Karena Chandra tidak juga menjawab pertanyaan darinya, Bu Kirana menggoyang-goyangkan tubuh Chandra agar ia tersadar dari lamunannya.
"Chandra! Kamu kenapa, sih? Dari tadi Mami ngomong tidak di dengerin!" tanya Bu Kirana yang mulai kesal.
"Hah?!" Akhirnya lamunan Chandra buyar kemudian menoleh kepada Sang Mami yang terlihat menekuk wajahnya.
"Maafkan Chandra, Mi!"
Tiba-tiba saja Chandra memeluk erat Bu Kirana dengan tubuh bergetar hebat. Chandra juga sempat menitikkan air matanya saat ia kembali teringat momok penyakit mematikan tersebut. Rasa takut yang begitu besar tersebut kembali menyeruak di dalam hatinya.
"Hihh, kamu kenapa sih? Jangan buat Mami takut, Chandra!" Bu kirana panik, ia melerai pelukannya bersama Chandra kemudian menyentuh kedua pipi anaknya itu.
"Mi, aku takut! Aku benar-benar sangat takut!" ucap Chandra dengan wajah sedih menatap Bu Kirana.
"Takut kenapa, Chandra! Coba jelaskan sama Mami dengan benar," sahut Bu Kirana dengan wajah panik.
Chandra menghembuskan napas panjang dan mencoba menenangkan dirinya yang sedang merasa ketakutan.
"Begini, Mi ... sekitar satu bulan yang lalu aku putus dengan seorang wanita yang bernama Rima dan baru saja aku mendapatkan kabar bahwa wanita itu meninggal dunia kemarin. Kata teman-temanku, Rima meninggal akibat penyakit HIV AIDS." Wajah Chandra semakin kusut setelah menceritakan hal itu kepada Ibunya.
Bu Kirana membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menarik kembali kedua tangannya yang tadi masih menyetuh pipi Chandra.
"Jangan bilang kamu pernah tidur dengan wanita itu, Chandra!" geram Bu Kirana dengan wajah serius menatap Chandra.
Kepala Chandra tertunduk menghadap lantai dan terlihat jelas penyesalan itu di wajah tampannya. Perlahan Chandra menganggukkan kepalanya dengan posisi yang masih menunduk.
"Chandra!!!" pekik Bu Kirana.
***