My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Perbincangan Mommy dan Erlan



Perlahan Erlan membuka pintu dan membuat kedua tamunya hari ini sontak terperanjat. Ya, siapa lagi kalau bukan Mommy dan Olivia yang berencana mengajak Alina ke Rumah Sakit untuk melakukan tes DNA terhadap bayi dalam kandungannya.


Olivia dan Mommy saling tatap dengan mata membesar. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Erlan tidak ke kantor hari ini dan itu artinya rencana mereka gagal.


"E-Erlan, bagaimana kabarmu, Nak?" Nyonya Afiqa mencoba mencairkan suasana yang sepertinya akan segera memanas.


"Baik. Ngomong-ngomong ada perlu apa kalian bertamu pagi-pagi begini?" Erlan tersenyum sembari memperhatikan kedua tamunya dengan seksama. Tangan kekar lelaki itu masih melekat erat di daun pintu dan seolah tak ingin memberi celah untuk kedua wanita tersebut untuk memasuki apartemennya.


"Ehm, Mommy kangen kamu, Nak. Kebetulan tadi Mommy dan Olivia ketemu di jalan jadi sekalian saja Mommy ajak dia ke sini untuk menemui kamu. Benar 'kan, Olivia?!" Nyonya Afiqa mengedipkan matanya kepada Olivia yang masih mematung di samping tubuhnya.


Olivia mengerti apa maksud Nyonya Afiqa mengedipkan mata kepadanya dan ia pun mengikuti permainan yang diciptakan oleh wanita paruh baya tersebut.


"Ya, Erlan Sayang. Aku dan Mommy tidak sengaja bertemu di jalan dan akhirnya Mommy mengajakku serta untuk menemuimu. Lagi pula aku juga sangat merindukanmu, Sayang," sahut Olivia dengan raut wajah memelas menatap Erlan.


"Benarkah?" Erlan memgerutkan alisnya. "Tapi ... aku heran, dari mana kalian tahu kalau hari ini aku tidak masuk kerja?" tanya Erlan sembari memperhatikan reaksi kedua wanita yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ehm, itu ...." Nyonya Afiqa mulai bingung mencari alasan. Begitupula Olivia, wanita itu bahkan tidak berani membalas tatapan tajam lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ehm ... Mom, sepertinya aku harus kembali ke mobil, ponselku ketinggalan di sana," ucap Olivia.


Nyonya Afiqa menoleh heran kepada Olivia dan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ponsel milik Olivia masih berada di tangan wanita itu. Bukan hanya Nyonya Afiqa yang sadar akan hal itu, bahkan Erlan pun melihatnya.


"Tapi, Olivia--" Belum habis Nyonya Afiqa bicara, Olivia sudah memberikan ciuman ke pipi kanan dan kiri wanita paruh baya tersebut kemudian segera menjauh dari tempat itu.


Erlan dan Nyonya Afiqa menatap punggung Olivia yang berjalan semakin menjauh hingga menghilang dari pandangan mereka. Kini tinggal Nyonya Afiqa yang masih berada di sana dan ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk meninggalkan tempat itu.


"Ternyata Olivia punya banyak ponsel ya, Mom?" Erlan tersenyum menatap Sang Mommy yang sudah kehilangan kata-kata.


"Masuklah, Mom. Kebetulan Alina sedang membuat nasi uduk kesukaan Erlan. Mommy bisa mencicipinya dan aku yakin, Mommy pasti akan ketagihan setelah mencoba satu suapan pertama," ucap Erlan sembari membuka lebar pintu tersebut dan membiarkan Nyonya Afiqa untuk memasuki ruangan itu.


Mau tidak mau, Nyonya Afiqa pun segera masuk dan mengikuti langkah Erlan yang menuntunnya menuju ruang makan. Setibanya di ruangan itu, Alina menyambut kedatangan Nyonya Afiqa sambil tersenyum hangat.


Alina menarik sebuah kursi kemudian mempersilakan calon Ibu mertuanya itu untuk duduk di sana. Tidak lupa, Alina juga meletakkan sepiring nasi uduk di hadapan Nyonya Afiqa dengan porsi yang sama seperti milik Erlan. Setelah meletakkan nasi tersebut, Alina pun kembali ke dapur agar Ibu dan anak itu bisa bicara empat mata tanpa dirinya.


"Makanlah, Mom. Jangan takut, aku berani jamin kalau nasi uduk ini aman dan tidak beracun," ucap Erlan ketika melihat Sang Mommy yang tidak berkeinginan menyentuh makanan itu dan hanya menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


Erlan hanya tersenyum sambil memulai suapan pertamanya. Begitupula Nyonya Afiqa, ia meraih sendok dan garpu yang sudah tersedia kemudian memulai suapan pertamanya.


Ketika nasi uduk buatan Alina masuk ke mulutnya, Nyonya Afiqa sempat terdiam sejenak kemudian mulai menguyahnya. Sekarang ia mengerti kenapa Erlan begitu membanggakan nasi uduk buatan gadis itu. Rasanya memang berbeda dan lebih nikmat dari buatan siapapun yang pernah ia coba sebelumnya. Bahkan buatan Bibi di rumahnya pun tidak sebanding dengan nasi uduk buatan Alina.


"Bagaimana, Mom? Enak?" tanya Erlan.


"Hmm, biasa saja. Masih enak buatan Bibi di rumah," sahutnya tanpa berani menatap kedua bola mata Erlan.


Setelah beberapa menit kemudian, nasi di piring kedua Ibu dan anak itu pun ludes. Sebenarnya Nyonya Afiqa ingin menambah porsi makannya, tetapi ia sudah terlanjur malu karena mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang.


"Mom ... aku ingin bicara sama Mommy dan ini tentang Alina." Setelah mengelap bibirnya, Erlan mulai bicara serius dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.


Nyonya Afiqa menatap Erlan dengan lekat seolah minta penjelasan lebih lanjut dari ucapan Erlan barusan.


"Jangan coba ganggu Alina, Mom. Aku tidak akan membiarkan Mommy ataupun Olivia melakukan sesuatu kepadanya. Alina mungkin tidak akan mengatakan apapun padaku, tapi aku pasti akan tahu apa yang kalian lakukan padanya," ucap Erlan dengan wajah serius menatap Nyonya Afiqa.


"Apa maksudmu, Erlan?" Mommy mencoba menyangkal.


"Aku punya banyak CCTV di ruangan ini. Tanpa diceritakan oleh siapapun, aku pasti akan mengetahuinya," jawab Erlan. "Dan jangan lupa katakan hal itu kepada Olivia karena saat ini aku tidak sedang bercanda, Mom," tegas Erlan.


Nyonya Afiqa terdiam seribu bahasa. Ia tidak berani berkata apa-apa lagi karena ia yakin sekali bahwa Erlan sudah tahu apa maksud dari kedatangannya hari ini.


"Mommy, aku mohon ... restuilah hubunganku bersama Alina agar aku tidak terkesan menjadi anak yang pembangkang. Selama ini aku selalu menuruti apapun yang dikatakan oleh Mommy, tapi untuk kali ini saja, Mom! Aku mohon dengan sangat, biarkan aku menentukan pilihanku sendiri." Erlan memelas, berharap wanita yang sedang duduk di hadapannya itu bisa menuruti keinginannya kali ini.


Nyonya Afiqa menghembuskan napas berat kemudian membalas tatapan putra kesayangannya itu. "Bagaimana jika benar kalau bayi itu bukan milikmu, Erlan? Dan akhirnya kamu sendiri yang terjerat dalam hubungan yang kamu ciptakan. Itulah yang Mommy takutkan, maka dari itu Mommy minta agar kamu dan bayi itu melakukan tes DNA dari sekarang agar tidak ada penyesalan di hari berikutnya!" sahut Nyonya Afiqa.


"Percayalah padaku, Mom! Bayi itu milikku. Aku tidak butuh tes itu karena aku sangat yakin seribu persen, Mom! Bukan seratus persen lagi." Erlan mencoba meyakinkan Mommy-nya.


Nyonya Afiqa hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak tahu harus berkata apalagi agar anak lelakinya itu mengerti akan keinginannya saat ini.


...***...