My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pertemuan Olivia Dan Edgar



Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Edgar segera berangkat menuju kota di mana Olivia berada saat ini. Dari wajah lelaki itu terlihat jelas bahwa ia sangat bahagia karena akhirnya ia bisa bertemu Olivia kembali, setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


Sesekali terdengar suara lantunan lagu dari bibir lelaki itu, mengikuti alunan musik yang sedang ia putar untuk menemani perjalanannya yang lumayan jauh. Setelah melalui beberapa jam perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya lelaki itu tiba di kota yang ia tuju.


Seperti janjinya, ia akan segera menghubungi Olivia setibanya di tempat itu. Edgar meraih ponsel yang ia letakkan di dalam saku celananya kemudian segera menghubungi wanita itu.


Saat itu Olivia masih berada di dalam kamarnya dengan wajah kusut. Hampir seharian ia mengurung diri di dalam kamar setelah tidak berhasil menemui Alina karena sudah kepergok oleh Erlan.


Wajahnya terus menekuk, ia benar-benar kesal sekaligus kecewa karena tidak bisa melancarkan aksinya bersama Nyonya Afiqa. Di saat ia masih larut dalam kekecewaannya, tiba-tiba saja ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur tersebut berdering.


Dengan cepat, Olivia meraihnya kemudian mengecek siapa yang sedang menghubunginya. Wanita itu sempat mencebik kesal setelah tahu siapa yang sedang mencoba menghubunginya.


"Ya!" ketusnya dengan wajah malas.


"Olivia, aku sudah tiba di kotamu. Sekarang, kamu ingin kita bertemu di mana?" tanya Edgar sembari memperhatikan sekelilingnya.


"Posisimu di mana sekarang?" tanya Olivia balik.


"Di depan Hotel Mentari dan rencananya aku akan menginap di hotel ini untuk beberapa hari," jawab Edgar.


"Baiklah, sebaiknya kamu chek in saja dan aku akan segera menemui di sana." Olivia bangkit dari posisinya dan ingin bersiap-siap menemui Edgar.


Edgar tersenyum semringah mendengar jawaban dari Olivia. "Olivia memintaku Chek in? Hmm, apa dia ingin mengulangi kisah kami dulu? Ah, sudahlah, Edgar! Tidak usah bermimpi terlalu tinggi, bukankah kamu tahu bagaimana perasaan Olivia terhadapmu?" gumam Edgar seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Selesai memarkirkan mobilnya, Edgar pun segera memasuki hotel mewah tersebut. Sementara itu, Olivia tengah sibuk bersiap-siap. Setelah ritual mandinya selesai, ia pun segera berdandan dan berpakaian.


Dengan sedikit polesan bedak serta lipstik mahal miliknya, Olivia pun terlihat cantik dan sangat memukau. Setelah puas dengan penampilannya, wanita itu pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut sambil berlari kecil menuju garasi mobilnya.


Setibanya di sana, Olivia segera masuk kemudian mengemudikan mobilnya menuju Hotel Mentari, di mana Edgar sudah menunggu kedatangannya. Tidak butuh waktu lama, wanita itu pun akhirnya tiba di depan Hotel tersebut.


Ternyata Edgar sudah menunggu kedatangan Olivia di lobby hotel. Lelaki itu tersenyum hangat ketika Olivia menghampirinya sedangkan wanita itu sama sekali tidak berkeinginan membalas senyuman Edgar sedikitpun.


"Selamat datang, Olivia." Edgar mengulurkan tangannya ke hadapan Olivia, tetapi wanita itu sama sekali tidak ingin menyambutnya. Ia hanya menatapnya dengan wajah masam.


"Tidak salah? Heh, seharusnya aku lah yang mengatakan hal itu kepadamu, Edgar." Olivia berjalan mendahului Edgar kemudian disusul oleh lelaki itu dari belakang.


"Ya, seharusnya memang begitu tapi kurasa kamu tidak akan pernah mengucapkan hal itu untukku. Jadi, ya ... terpaksa aku yang mengucapkannya sendiri," sahut Edgar sambil terkekeh pelan.


Di lift menuju kamar Edgar, Olivia terus saja menjaga jarak walaupun Edgar terus mencoba mendekatinya.


"Ayolah, Olivia! Aku hanya ingin berdiri di sampingmu, apakah itu salah? Lagi pula di sini tidak ada Erlan yang akan memperhatikan dirimu, 'kan?!" ucap Edgar dengan wajah memelas menatap Olivia.


"Diam! Tutup mulutmu, Edgar!" kesal Olivia sembari menunjuk ke depan wajah lelaki itu.


Edgar mengangkat kedua tangannya sambil menaikkan bahunya. "Baiklah."


Pintu lift terbuka dan Olivia meminta Edgar berjalan lebih dulu untuk menuntunnya ke kamar lelaki itu. "Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Olivia?" tanya Edgar sembari melirik wanita itu.


"Sesuatu yang penting," jawabnya singkat, masih dengan wajah malas menatap Edgar.


Akhirnya Edgar menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Setelah membuka pintu tersebut, Edgar mempersilakan Olivia untuk masuk dan kemudian ia pun segera menyusul wanita itu.


"Duduklah, Olivia." Edgar mempersilakan Olivia untuk duduk di sofa yang ada di depan tempat tidurnya.


Olivia pun duduk di sana sembari memperhatikan ruangan itu dengan seksama. Sementara Olivia masih terdiam di tempat itu, Edgar melepaskan jas serta dasinya dan kini tinggal kemeja ketat berwarna putih serta celana panjang berwarna hitam yang masih dibiarkan melekat erat di tubuhnya.


"Bisakah kamu membantuku, Edgar?" tanya Olivia kepada Edgar yang kini duduk di sofa yang sama, di samping tubuhnya.


Edgar mengerutkan alisnya. "Ya, tentu saja. Dengan senang hati, aku akan membantumu selama aku bisa melakukannya. Sekarang, bantuan seperti apa yang kamu inginkan dariku," ucap Edgar sembari menatap lekat wajah cantik Olivia.


"Kumohon padamu, Edgar. Tolong jelaskan kepada Erlan bahwa video itu bukanlah video kita! Katakan bahwa video itu hanya sebuah rekayasa dan kamu sengaja menciptakannya untuk menghancurkan hubungan kami," lirih Olivia dengan wajah memelas menatap Edgar. Olivia bahkan rela menggenggam tangan lelaki itu padahal ia benar-benar jengah dengannya.


Edgar tersenyum kecut sembari memperhatikan tangan Olivia yang kini sedang menggenggam erat tangannya. "Olivia, sebenarnya aku bisa saja membantumu, tetapi aku rasa Erlan tidak sebodoh itu percaya dengan ucapan yang tidak masuk akal itu. Lagi pula kejadian itu sudah lama terjadi, kenapa baru sekarang aku menjelaskannya kepada mantan suamimu itu," tutur Edgar.


Olivia kesal, ia menarik tangannya kembali dengan kasar sembari menatap Edgar dengan wajah memerah. "Ini semua gara-gara kamu, Edgar! Seandainya malam itu kamu tidak--"


Wanita itu mendengus kesal. Ia memijit kepalanya yang mulai terasa sakit dengan posisi membelakangi Edgar yang masih duduk di sofa tersebut.


"Maafkan aku, Olivia."


Olivia kembali berbalik dan menatap lelaki itu. "Apa?! Maaf kamu bilang?!" pekiknya.


...***...