
Tidak berselang lama lelaki itu pun tiba di ruangan tersebut bersama Malika yang mengantarkannya hingga di depan pintu. Pak Agung mencoba menyunggingkan sebuah senyuman hangatnya seraya melangkah menghampiri meja Erlan.
"Silakan duduk, Pak Agung." Erlan membalas senyuman Pak Agung dan mempersilakan lelaki itu untuk duduk di kursi yang ada di hadapan mejanya.
"Ada apa, Pak Agung?" tanya Erlan ketika Pak Agung sudah duduk di hadapannya dengan wajah kusut. Sebenarnya lelaki itu ingin menceritakan maksud kedatangannya menemui Erlan di ruangan itu. Namun, ketika mereka sudah saling berhadapan, tiba-tiba saja ia kembali ragu.
"Sebenarnya ...." Pak Agung menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi dengan perlahan. "Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya, Tuan Erlan."
Erlan menautkan kedua alisnya setelah mendengar penuturan Pak Agung saat itu. Selama ini Erlan mengenal sosok Pak Agung adalah lelaki yang baik, setidaknya dalam lingkungan kerja. Bahkan selama bekerja bersamanya, Pak Agung tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti.
"Memangnya ada masalah apa, Pak? Hingga Pak Agung sampai mengajukan pengundurkan diri? Apakah gaji yang kami berikan tidak cukup atau ada masalah lain? Katakanlah," ucap Erlan dangan wajah heran.
Bukan hanya Erlan, bahkan Alina yang sedang duduk di sofa pun terlihat kebingungan mendengar ucapan dari Ayah kandung Chandra tersebut.
"Sebenarnya ini bukan masalah gaji, Tuan Erlan. Selama ini gaji yang saya terima dari perusahaan Anda lebih dari cukup. Bahkan memuaskan, tetapi saat ini saya sedang dalam masalah." Pak Agung terdiam sejenak sembari menundukkan kepalanya.
Terlihat jelas beban berat yang sedang di rasakan oleh lelaki itu. "Saat ini Putra saya sedang sakit keras dan membutuhkan saya sebagai Ayahnya. Ibunya sudah kewalahan menjaganya dan dia membutuhkan bantuan dari saya," lanjut Pak Agung sembari mengangkat kepalanya kembali sambil tersenyum kecut menatap Erlan.
"Boleh saya tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Putra Anda, Pak Agung?" tanya Erlan. Sebenarnya Erlan sudah tau apa yang terjadi pada Chandra saat ini dari Sean. Namun, ia ingin mendengar langsung dari lelaki itu.
Mata Pak Agung tampak berkaca-kaca. Lelaki itu ingin berkata jujur, tetapi ia tidak sanggup mengatakannya. Karena baginya ini adalah aib besar yang tidak bisa ia ceritakan kepada sembarang orang. Walaupun orang tersebut adalah Bossnya sendiri.
"Maafkan saya, Tuan Erlan. Saya tidak menceritakannya. Sekali lagi saya minta maaf," sahut Pak Agung lagi dengan wajah memelas menatap Erlan.
Erlan menghembuskan napas berat kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Tidak apa jika Anda tidak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada saya. Dan soal pengajuan pengunduran diri Anda bisa urus semuanya bersama Sean."
Pak Agung pun segera bangkit dari posisi duduknya kemudian kembali mengulurkan tangannya kepada Erlan. "Terima kasih banyak, Tuan Erlan."
"Sama-sama, Pak Agung."
"Pak Agung, kenalkan ini istri saya, Alina. Apa Anda mengenalnya?" ucap Erlan.
Pak Agung memperhatikan wajah Alina dengan seksama sambil mengingat-ingat. Sebenarnya ia pernah melihat wanita muda itu sebelumnya. Namun, Pak Agung merasa tidak yakin.
"Sepertinya saya pernah melihat Anda, Nona Alina. Tetapi saya tidak yakin," ucapnya seraya memperhatikan wajah Alina dengan seksama.
"Tapi bukan di hari pernikahan kami, 'kan?" sela Erlan.
"Bukan, Tuan Erlan. Sepertinya saya pernah melihat sebelumnya tapi di mana dan saya juga kurang yakin," sanggah Pak Agung.
"Kita berasal dari kota yang sama, Pak Agung. Dan saya pernah satu sekolah dengan Putra Anda, Chandra. Titip salam buat Chandra ya, Pak. Semoga dia cepat sembuh," ucap Alina yang sama sekali belum tahu penyakit apa yang diderita oleh lelaki itu.
Pak Agung kembali terdiam dan ya, sekarang dia ingat kalau Alina adalah gadis yang tinggal satu kota dengannya. Namun, perubahan Alina membuat Pak Agung tidak yakin bahwa gadis itu adalah gadia sederhana yang sering ia lihat di sekolah Chandra.
"Ya, Anda benar, Nona. Akhirnya saya ingat dan terima kasih atas doanya. Nanti saya sampaikan salam Anda untuk Chandra."
Setelah mengucapkan hal itu, Pak Agung pun segera pamit dan keluar dari ruangan tersebut. "Mas, sebenarnya Chandra sedang sakit apa? Kenapa Pak Agung enggan menceritakannya?" tanya Alina kepada Erlan.
Erlan menghembuskan napas berat. "Menurut Sean Chandra mengidap penyakit HIV Aids," jawab Erlan.
"Apa?!" pekik Alina dengan mata membulat sempurna. "Kenapa Mas tidak pernah bercerita kepadaku?" lanjut Alina.
"Buat apa, Sayang? Itu 'kan aib orang. Kenapa harus diceritakan?" sahut Erlan.
...***...