
Beberapa bulan kemudian, tepat di usia kehamilan Alina yang sudah memasuki minggu ke-18. Hari ini adalah jadwal Alina memeriksakan kandungannya ke Dokter yang sudah menjadi langganannya selama hamil Baby Arkana.
"Imelda jadi ikut gak, Mas?" tanya Alina sembari merapikan barang-barang bawaannya.
"Entahlah. Sean bilang sih, iya," sahut Erlan sembari memijit-mijit tubuhnya yang terasa sakit.
Saat ini Erlan sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasa, ke kantor, menemani Alina dan si kecil Arkana, bahkan nafsu makannya pun sudah mulai membaik. Ya, walaupun belum sepenuhnya kembali normal.
Namun, yang membuat Erlan bingung adalah kondisi tubuhnya saat ini, yang mudah sekali lelah dan juga sering sakit-sakitan. Kadang sakit pinggang, punggung, pundak, lengan, kaki dan hampir seluruh tubuhnya, sakit secara bergantian. Seperti saat ini, Erlan merasakan sakit di punggungnya dan entah apa sebabnya ia pun tidak tahu pasti.
Erlan sudah berobat ke segenap Dokter, bahkan sampai memanggil tukang pijat profesional untuk membantu mengurangi rasa sakitnya. Namun, rasa sakit itu tetap saja datang kembali. Menurut salah seorang pemijat yang sempat memijat tubuh Erlan, rasa sakit itu adalah bawaan jabang bayi dan akan hilang dengan sendirinya ketika Alina sudah melahirkan nanti.
Sedangkan Alina, wanita itu aman-aman saja. Malah seperti orang yang tidak sedang hamil muda. Tidak mengalami morning sickness, tidak mengalami perubahan mood yang berarti. Hanya saja berat badannya yang terus meningkat di setiap bulannya.
Bahkan tubuhnya yang mungil itu terlihat kian padat berisi. Semakin berisi tubuh Alina, semakin gemas Erlan melihatnya. Seperti saat ini, walaupun tubuhnya terasa sakit, hal itu tidak menyurutkan semangat Erlan untuk menatap istrinya yang terlihat lebih semok tersebut.
"Tuan, Tuan Sean sudah tiba," ucap salah seorang pelayan yang baru saja tiba di depan kamar utama.
"Baiklah, kami akan segera menyusul." Alina menarik tangan Erlan yang masih duduk di tepian tempat tidur sambil terus memperhatikan dirinya.
"Ayo, Mas."
"Baiklah," sahut Erlan sembari mengikuti langkah Alina yang menuntunnya keluar dari kamar mereka menuju ruang utama, di mana Sean sudah menunggu mereka.
Setibanya di ruangan itu, ternyata Sean tidak sendiri. Ia datang bersama Imelda dan juga Baby Rendra. Alina begitu senang setelah mengetahui hal itu karena ia punya teman ketika mengecek kandungannya nanti.
"Alina, Arkana tidak ikut?" tanya Imelda heran karena Alina hanya melenggang bersama Erlan tanpa si kecil Arkana.
Alina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Sepertinya tidak, Mel. Lagi pula kasihan Mommy, dia pasti kesepian jika Arkana kami ajak bersama kami," sahut Alina.
Setelah berpamitan kepada Mommy Afiqa dan Baby Arkana, Alina dan Erlan pun segera berangkat menuju tempat praktik Dokter kandungan tersebut bersama Sean dan Imelda tentunya.
"Bye, Mommy! Hati-hati di jalan ya, Mom, Dad, Uncle Sean, Aunty Imel," ucap Mommy Afiqa yang mengantarkan kepergian mereka hingga ke halaman depan sambil menggendong Baby Arkana.
"Bye, Sayang!" teriak Alian yang paling kencang dari semuanya.
Di perjalanan, Alina dan Imelda terus saja mengoceh tanpa henti. Sedangkan para suami-suami tersebut hanya diam sembari mendengarkan ocehan para istri-istri mereka dengan sabar.
Hingga akhirnya mobil yang dkemudikan oleh Sean tiba di depan tempat praktik Dokter kandungan tersebut. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Sang Dokter.
"Silakan masuk, Nona Alina, Nona Imelda," ucap Dokter.
Bukan hanya para istri-istri yang masuk ke dalam ruangan praktik Dokter tersebut, tetapi juga para suami-suami yang 'kepo' dengan kondisi kandungan istri-istri mereka, hingga ruangan itu pun terlihat ramai. Orang pertama yang diperiksa oleh Dokter tersebut adalah Alina.
"Mari, Nona," ajak Dokter sembari menuntun Alina untuk menimbang berat badannya bulan ini. Alina tampak gugup saat itu, bahkan Dokter pun tersenyum ketika menyentuh tangan Alina yang terasa sangat dingin.
"Pasti berat badanku naik lagi 'kan, Dok?" gumam Alina yang kini sudah berada di atas timbangan badan milik Dokter tersebut.
Dokter tersenyum sembari mengecek berat badan Alina saat itu. "Itu malah lebih bagus, Nona. Dan ya, berat badan Anda naik lagi," sahut Dokter.
Alina menghembuskan napas berat. "Waktu hamil pertama perasaan berat badanku tidak meningkat seperti ini, Dok? Coba lihat perutku, rasanya perutku juga lebih besar dari pada kehamilan pertama," gumam Alina sembari memperhatikan perutnya yang sudah terlihat menonjol.
Apa yang diucapkan oleh Alina memang benar. Perutnya bahkan lebih besar dari perut Imelda, padahal usia kandungan mereka hanya selisih dua minggu saja.
...***...