My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Permohonan Maaf Tetangga Julid



"Ada apa ini?" tanya Erlan ketika melihat banyaknya Ibu-Ibu yang sedang berdiri di depan kediaman Alina. Alina yang masih trauma memilih bersembunyi dari balik tubuh kekar suaminya.


Para Ibu-Ibu julid memperhatikan Erlan dengan seksama dan akhirnya mereka sadar bahwa Erlan adalah lelaki yang dulu menyelamatkan Alina ketika mereka mengusirnya.


"Begini, Tuan. Sebenarnya kami ingin meminta maaf kepada Alina atas apa yang pernah kami lakukan kepadanya. Memfitnahnya, mencibirnya, hingga mengusirnya dari kampung ini," tutur wanita paruh baya tersebut dengan wajah sendu membalas tatapan Erlan.


"Kami memutuskan tidak akan pergi dari sini, sebelum Alina benar-benar memaafkan kami," sambung Ibu-Ibu lainnya.


Erlan menoleh ke belakang kemudian menatap Alina yang masih bersembunyi di balik punggungnya. Wajah Alina masih terlihat memucat akibat ketakutan yang ia rasakan saat ini.


"Kemarilah, Sayang. Tidak apa-apa, mereka hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Erlan dengan setengah berbisik kepada Alina.


Alina masih belum percaya sepenuhnya dengan perkataan para Ibu-Ibu tersebut. Alina takut mereka berbohong kemudian melakukan hal yang tidak terduga lagi sama seperti dulu.


"Tapi, Mas ...."


"Percayalah!"


Erlan mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia meraih tangan Alina kemudian menuntunnya ke hadapan Ibu-Ibu tersebut. Alina memberanikan diri menatap wajah orang-orang yang selama ini begitu 'julid' terhadapnya.


"Alina, maafkan Ibu, ya! Selama ini Ibu sudah salah sangka dan memfitnah dirimu sebelum tahu cerita yang sebenarnya," ucap Ibu-Ibu yang tinggal di samping kanan rumahnya. Wanita paling julid dan paling suka 'mengompor-ngompori' Ibu-Ibu warga kampung untuk ikut mengucilkan dirinya.


Alina menautkan kedua alisnya heran saat bersitatap dengan Ibu-Ibu yang sedang berbicara dengannya. Wanita beringas itu tiba-tiba saja berubah menjadi seorang tetangga yang baik dan bicara dengan lemah lembut kepadanya.


Alina berpaling dan menatap wajah Erlan dengan serius. "Mereka kenapa? Ini pasti ada hubungannya denganmu. Benar 'kan, Mas?!" ucap Alina dengan setengah berbisik.


Erlan mengangkat kedua bahunya. "Serius, aku tidak tahu kalau masalah ini," jawab Erlan.


"Masa?!" Alina masih tidak percaya bahwa suaminya tidak ikut andil dalam masalah ini. Kini Alina kembali menatap kerumunan Ibu-Ibu yang masih berdiri di hadapannya sambil tersenyum getir.


"Boleh aku bertanya? Kenapa hari ini kalian mendadak baik kepadaku? Bukankah selama ini kalian sangat membenciku?" tanya Alina.


"Sebenarnya begini, Alina ...." Ibu-Ibu itu pun segera bercerita kepada Alina bahwa Imelda sudah mengakui semua perbuatan jahatnya kepada seluruh warga desa dan membersihkan nama baik Alina yang sempat tercoreng akibat perbuatannya.


"Benarkah itu? Ja-jadi ... Imelda sudah mengakui semuanya kepada seluruh warga di sini?!" pekik Alina yang masih tidak menyangka bahwa Imelda sampai berbuat senekad itu.


Alina berbalik kemudian memeluk tubuh Erlan sambil terisak. Ia benar-benar terharu mendengar cerita Imelda yang benar-benar nekat hingga berani mengakui kesalahannya di hadapan orang banyak.


"Kamu dengar itu, Mas? Imelda benar-benar sudah berubah," lirih Alina di sela isak tangisnya.


"Ya, Sayang. Aku dengar itu," jawab Erlan.


Setelah melerai pelukannya bersama Erlan, kini Alina kembali menghadap ke arah Ibu-Ibu tersebut.


"Bagaimana, Alina? Kamu bersedia 'kan memaafkan kesalahan kami semua?" tanya Ibu-Ibu tersebut dengan ragu-ragu.


Alina sempat terdiam sambil terus memperhatikan mereka. Sebagai manusia biasa, Alina masih menyimpan rasa kecewa dan kesal di hati kecilnya atas sikap dan prilaku para warga tersebut.


"Baiklah, aku memaafkan kalian semua dan aku juga ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku sadar, aku hanya manusia biasa yang tidak akan luput dari yang namanya kesalahan dan mungkin pernah membuat kalian kesal," tutur Alina, mencoba ikhlas dan membuka hati untuk memaafkan para Ibu-Ibu julid yang selama ini selalu menghina dan menfitnah dirinya sesuka hati.


Para Ibu-Ibu julid itu pun mengembangkan senyuman mereka. Satu-persatu menghampiri Alina kemudian bersalaman dengan gadis itu.


"Terima kasih, Alina. Karena sudah bersedia memaafkan kami. Kami semua sudah kompak bahwa kami tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan maaf darimu. Sekarang kami baru sadar bahwa kami sudah mendzolimi seorang gadis yatim piatu yang sama sekali tidak bersalah. Sekali lagi maafkan kami," lirih salah seorang dari Ibu-Ibu tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, sama-sama, Bu. Aku pun minta maaf jika aku punya kesalahan kepada Ibu. Baik itu di sengaja, maupun tidak aku sengaja," sahut Alina.


"Alina, maafkan Ibu!" pekik seorang wanita paling julid di seluruh kampung. Ia menjadi orang terakhir yang menghampiri Alina saat itu, setelah semua orang kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Wanita itu menangis lirih sambil memeluk tubuh Alina dengan erat. Ia benar-benar telah menyesali perbuatannya selama ini kepada gadis itu.


"Ya, Bu. Aku sudah memaaafkan semua kesalahan Ibu," ucap Alina seraya membalas pelukan wanita itu.


"Ya, Tuhan! Terima kasih banyak, Nak. Apa kamu tahu, hampir setiap malam Ibu berdoa kepada Tuhan. Ibu berdoa agar kamu bisa kembali lagi ke kampung ini, Ibu benar-benar ingin bertemu denganmu dan meminta maaf atas semua kesalahan Ibu selama ini," lirihnya lagi dengan air mata berderai di kedua pipinya.


"Ya, dan Tuhan sudah mengabulkan doamu, Bu. Aku sudah kembali ke kampung ini dan aku juga sudah memaafkan kesalahan kalian semua kepadaku."


...***...