My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pengakuan Erlan



"Beberapa bulan yang lalu aku pernah di undang ke hotel XX oleh seorang klienku. Setelah selesai pertemuan itu, ia mengajakku minum. Aku sudah berusaha menolaknya, Alina, dengan alasan aku tidak pernah meminum minuman seperti itu. Hingga akhirnya aku mabuk." Erlan merapikan rambut Alina ke samping telinga gadis itu.


"Kamu tahu apa yang terjadi setelah aku mabuk?" tanya Erlan, masih menatap kedua mata Alina lekat.


Alina menggelengkan kepalanya pelan. "Apa yang terjadi setelah itu?"


"Lelaki itu mengajakku ke sebuah kamar hotel yang diatas namakan Tuan Joseph Adijaya. Antara sadar dan tidak, aku melihat seorang gadis sedang tertidur dengan nyenyak. Dia sangat cantik, Alina. Aku bahkan terpesona dibuatnya. Malam itu aku ...."


Erlan menghentikan ucapannya setelah ia melihat tubuh Alina yang bergetar. Air mata gadis itu meluncur tanpa suara isak tangis.


"Tuan Joseph Adijaya, Lelaki bertubuh gendut dan kepala plontos," ucap Alina dengan bibir yang masih bergetar.


Erlan menganggukkan kepalanya. "Ya, Alina."


"Dan gadis itu, apa kamu juga ikut menyentuhnya, Tuan Erlan?!" pekik Alina sambil terisak.


Erlan terdiam sejenak seraya memperhatikan reaksi Alina saat itu. Dia sudah menduga hal ini sebelumnya. Alina pasti shok, tetapi Erlan sudah mempersiapkan dirinya dengan semua konsekuensi yang akan ia hadapi setelah ini.


"Ya, aku menyentuhnya."


"Apa gadis itu aku, Tuan?" tanya Alina dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Erlan meraih tangan Alina kemudian menggenggamnya dengan erat. "Ya. Gadis itu adalah kamu, Alina. Maafkan aku," lirih Erlan.


"Berarti malam itu bukan hanya Tuan Joseph yang meniduriku, tetapi kamu juga. Ya, Tuhan ... aku menjijikkan sekali," ucap Alina sembari menundukkan kepalanya karena malu dan merasa jijik pada dirinya sendiri.


Erlan mengerutkan alisnya heran. Ia bingung kenapa Alina bisa berpikir bahwa Tuan Joseph juga meniduri gadis itu. Padahal Erlan masih ingat dengan jelas bahwa saat itu Alina maeih mengenakan pakaian lengkap walaupun pakaiannya teramat seksi bagi lelaki itu.


"Hei, hei ... kenapa kamu berkata seperti itu, Alina?" Erlan meraih wajah gadis itu agar bertatap mata dengannya.


"Kamu salah, Alina. Coba tenanglah!" Erlan meraih tubuh Alina kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Alina mencoba mengelak, tetapi Erlan tidak membiarkannya. Ia ingin Alina tetap berada di dalam pelukannya.


Rasa marah, kesal, kecewa, serta malu yang dirasakan oleh Alina saat itu tiba-tiba saja sirna. Yang ada hanya rasa tenang, nyaman dan hangat tentunya. Alina merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Detak jantung Erlan terdengar dengan sangat jelas di telinga Alina. Bahkan si kecil dalam perutnya pun seolah ikut mendengarkan irama detak jantung Sang Ayah. Ia terus bergerak liar dan membuat perut Alina berkedut-kedut.


"Tuan Joseph tidak pernah menyentuhmu, Alina. Malam itu yang menyentuhmu hanya aku. Hanya aku dan tidak ada siapapun lagi," ucap Erlan sambil mengelus puncak kepala Alina yang berada di pelukannya.


"Benarkah? Kamu tidak bohong 'kan, Tuan?" Alina mendongak dan menatap lelaki itu dengan mata sembabnya.


"Ya, percayalah padaku. Kenapa aku begitu yakin, karena saat aku tiba di kamar itu, pakaianmu masih lengkap. Namun, ketika aku bangun esok paginya, pakaian kita sudah berserak di lantai kamar. Aku bahkan menemukan noda darah sucimu, Alina. Itu artinya bayi ini adalah milikku," tutur Erlan yang kemudian menyentuh perut Alina yang masih berkedut-kedut.


Alina tidak tahu apakah ia harus senang atau harus marah kepada lelaki tampan yang masih memeluknya saat ini. Senang, karena akhirnya ia benar-benar menemukan sosok Ayah dari bayi yang ia kandung.


Ia juga senang karena Ayah dari bayinya ternyata masih hidup dan yang lebih menggembirakan lagi, ternyata lelaki yang sudah meninggalkan benih di rahimnya adalah seorang lelaki berwajah tampan. Bahkan sangat tampan dan bukan lelaki tua yang gendut dengan kepala plontos, sama seperti bayangannya selama ini.


"Tapi, yang aku lihat di video waktu itu ... Tuan Joseph lah yang membopong tubuhku ke atas tempat tidur," ucap Alina bingung.


"Ya, mungkin saja di video itu benar bahwa Tuan Joseph membopong tubuhmu yang sudah tidak sadarkan diri ke atas tempat tidur dan meletakkanmu di sana. Tapi setelah itu, apa kamu tahu apa yang dilakukan olehnya? Mungkin saja ia segera menemuiku, benar 'kan?"


Alina nampak berpikir dan apa yang dikatakan oleh Erlan ada benarnya. Bahkan di video yang direkam oleh Imelda saat itu hanya memperlihatkan hingga Tuan Joseph meletakkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Kamu benar, Tuan. Jadi ... siapa yang meninggalkan sejumlah uang di atas nakas?" tanya Alina bingung.


Erlan menggelengkan kepalanya pelan. "Maafkan aku, kalau itu aku benar-benar tidak tahu karena aku tidak memperhatikannya. Pagi itu setelah mandi dan berpakaian, aku pun segera pergi," sahut Erlan.


...***...