
"Maksud Mas aku harus mencoba test pack ini? Tapi, kenapa?" tanya Alina heran.
"Ya, Sayang. Coba saja," sahut Erlan sembari mengelus lembut wajah Alina yang tampak ketakutan.
"Ba-baiklah." Alina membawa test pack tersebut ke kamar mandi dengan langkah gontai. Setelah masuk ke dalam ruangan itu, Alina malah duduk di atas kloset dengan wajah bingung.
"Apa sebaiknya aku mengaku saja kepada Mas Erlan bahwa saat ini aku positif hamil?" Alina meraih test pack bergaris dua yang masih ia simpan di saku dress yang ia kenakan kemudian menatapnya.
Sementara Alina tengah kebingungan di dalam kamar mandinya, Mommy Afiqa tiba di kediaman mereka dan langsung menuju kamar utama. Wanita paruh baya tersebut terlihat cemas setelah mendengar Erlan jatuh pingsan.
"Erlan, kamu tidak apa-apa 'kan, Nak?" Mommy Afiqa duduk di samping Erlan kemudian meraba kening anak lelakinya itu.
"Mommy?! pekik Erlan. "Siapa yang sudah kasih tahu Mommy soal Erlan?" tanya Erlan kebingungan karena ia sengaja tidak memberitahu Mommy-nya tersebut agar tidak terlalu mencemaskannya.
"Sean yang sudah memberitahu Mommy."
Erlan melirik Sean dengan wajah malas sedangkan lelaki itu hanya tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih, Lan? Kenapa sampai jatuh pingsan begitu? Apakah tadi pagi kamu belum sarapan?" tanya Mommy Afiqa masih dengan wajah cemas.
Erlan tertawa pelan sembari meraih tangan Mommy Afiqa yang sedang mengelus puncak kepalanya. "Erlan selalu sarapan, Mom. Mungkin Erlan hanya sedikit kelelahan karena beberapa hari belakangan ini pekerjaan Erlan menumpuk. Benar 'kan, Sean?" tutur Erlan.
Sean kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. "Ya, itu benar, Nyonya."
Tepat di saat itu, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Alina dari ruangan tersebut sambil berlari kecil menuju tempat tidur.
"Mas Erlan, maafkan aku!" Alina duduk di samping tubuh Erlan yang sedang berbaring kemudian memeluk nya dengan erat. Mommy Afiqa segera menjauh kemudian membiarkan Alina dan Erlan saling berpelukan di atas tempat tidur mereka.
"Mereka kenapa, Sean?" tanya Mommy Afiqa sembari duduk di sofa yang ada di depan tempat tidur Erlan dan Alina.
"Kenapa kamu meminta maaf padaku, Sayang? Memangnya kamu salah apa?" tanya Erlan sembari mengelus puncak kepala Alina yang menempel di dadanya.
Alina bangkit kemudian duduk dengan tegak di samping Erlan. Wajah Alina terlihat kusut sekusut pikirannya saat ini. Alina meraih tangan Erlan kemudian meletakkan test pack yang belum ia buka kemasannya itu ke telapak tangan Erlan.
Erlan makin bingung karena Alina tidak melakukan apa yang ia perintahkan. Namun, Erlan tetap tenang sembari memperhatikan wajah istri mungilnya itu dengan seksama. Tiba-tiba Alina mengeluarkan test pack bergaris dua tersebut dan memperlihatkannya ke hadapan Erlan sambil menangis.
"Maafkan aku, Mas!" Bibir Alina bergetar hebat, ia benar-benar ketakutan saat itu.
Erlan meraih benda kecil tersebut memperhatikannya dengan seksama. "Ini serius?!" tanya Erlan dan dijawab Alina dengan anggukan. Perlahan senyum lelaki itu mengembang dan tiba-tiba saja ia berteriak histeris.
"Akh! Ternyata apa yang dikatakan oleh Dokter Irfan benar! Istriku hamil, Alinaku sedang hamil!" pekik Erlan sembari memeluk tubuh mungil Alina dengan erat. Bahkan tidak cukup sampai di situ, ia menghujani wajah Alina dengan ciuman bertubi-tubi.
Alina tidak menyangka bahwa ekspresi Erlan akan seperti itu. Ia mengalami ketakutan yang terlalu berlebihan hingga membuat dirinya tidak percaya diri dan terus berpikiran negatif.
"Mas, tidak marah padaku?" tanya Alina ketika Erlan menghentikan aksinya, menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Ya, Tuhan! Alina sayang, kenapa aku harus marah? Ini adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita dan seharusnya kita bersyukur karena tidak semua orang mendapatkan kepercayaan seperti yang kita dapatkan saat ini," tutur Erlan sembari mengelus lembut wajah Alina.
Sean dan Mommy Afiqa saling tatap dengan ekspresi berbeda. Jika Sean saat itu tengah tersenyum, Mommy Afiqa malah membulatkan matanya dengan sempurna dan ia sangat terkejut mendengar ucapan Erlan barusan.
"Ha-hamil?!" pekik Mommy Afiqa. Erlan dan Alina segera menoleh ke arah Mommy Afiqa.
Erlan tersenyum kemudian menenteng test pack bergaris dua tersebut. "Positif, Mom. Inilah penyebab utama yang membuat Erlan jatuh pingsan dan bukan karena Erlan belum sarapan," sahut Erlan sambil tertawa pelan menatap Sang Mommy yang masih terpelongo setelah mendengar berita mengejutkan itu.
...***...