My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Mengantarkan Olivia



Benda pertama yang ingin ia tutupi adalah dua buah bulatan kenyal milik wanita itu. Dengan tangan bergetar, Edgar memasangkan kembali braa tersebut ke tubuh Olivia. Tanpa disengaja, Edgar sempat menyentuh puncak bulatan kenyal milik wanita itu dan hal itu membuat bulu-bulu halus yang tumbuh di seluruh tubuh Edgar berdiri seketika.


Fiuhhh!


Edgar menghembuskan napas lega setelah ia berhasil menutupi kedua bulatan kenyal tersebut. Satu masalahnya sudah terselesaikan dan kini tantangan terbesar sedang menunggunya, sebuah cd dan aset pribadi milik Olivia yang seolah menyeringai menatap dirinya.


"Bisa! Aku pasti bisa!"


Lagi-lagi tangan Edgar bergetar hebat ketika ia mencoba memasangkan cd tersebut ke aset pribadi Olivia. Bagaimana tidak, benda berbulu halus tersebut seakan terus menyeringai dan menggoda Edgar agar segera menyentuhnya.


"Ayolah, Edgar! Kamu pasti bisa!" seru lelaki itu sembari menelan salivanya.


Perlahan Edgar menaikkan cd tersebut hingga ia berhasil menutupi area pribadi milik Olivia dari mata nakalnya. "Yess! Akhirnya aku berhasil!" pekik Edgar yang kini meraih dress ketat milik Olivia.


"Jika bagian-bagian berbahaya saja dapat aku lewati dengan mudah, apalagi cuma dress ini, ha!" gumam Edgar sembari memasangkan kembali dress ketat tersebut ke tubuh Olivia.


Setelah Olivia sudah berpakaian lengkap, Edgar pun segera menyusul. Ia meraih kemeja serta celana panjang miliknya kemudian mengenakannya kembali.


"Sebaiknya aku antar Olivia kembali ke kediaman orang tuanya dari pada aku kena masalah lagi," gumam Edgar. Karena tidak tahu di mana alamat Olivia yang sekarang, Edgar pun berinisiatif mengantarkan Olivia ke kediaman orang tuanya.


Edgar menghubungi pihak hotel dan meminta salah satu dari karyawan hotel tersebut untuk membantunya membawa Olivia ke tempat parkir. Setelah berhasil memasukkan tubuh Olivia yang masih tidak sadarkan diri ke dalam mobilnya, Edgar pun segera melaju bersama mobil tersebut menuju kediaman kedua orang tua Olivia.


"Ah, semoga saja Mommy dan Daddy Olivia tidak berprasangka buruk terhadapku," gumam Edgar yang masih fokus pada setir mobilnya. Sesekali ia melirik Olivia yang terbaring di jok bagian belakang dari kaca spion mobilnya.


"Kapan kamu sadar bahwa masih ada yang peduli padamu, Olivia? Tidak bisakah kamu lihat ketulusanku padamu? Tapi ... sayangnya aku hanyalah orang biasa dan bukan seorang pengusaha besar seperti Erlan." Edgar menghembuskan napas berat, dengan wajah sendu menatap Olivia.


Seorang penjaga keamanan menghampiri Edgar kemudian segera membantu serta menuntunnya menuju kamar milik Olivia. Mommy dan Daddy Olivia yang sudah tertidur pulas, terbangun setelah mendengar kabar bahwa Olivia tiba di kediaman mereka dengan kondisi yang tidak sadarkan diri.


Kedua orang tua Olivia bergegas menuju kamar, di mana Olivia tergeletak di atas tempat tidurnya. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Mommy Olivia dengan wajah cemas menatap Edgar.


"Ehm, dia mabuk berat, Nyonya dan saya terpaksa membawanya kembali ke sini," sahut Edgar yang nampak canggung.


"Ya ampun, Olivia!" Wanita paruh baya tersebut terisak sembari memeluk tubuh Sang Suami.


"Terima kasih, Nak. Kami berhutang budi padamu," ucap Daddy Olivia sembari menepuk pelan pundak Edgar.


"Sama-sama, Tuan."


"Ya, seperti inilah Olivia sekarang. Setelah pernikahannya dengan Erlan berantakan, prilakunya semakin tidak terkendali. Ia bersikeras mempertahankan rumah tangganya bersama lelaki itu. Padahal Erlan sendiri sudah menyatakan bahwa dirinya tidak bisa mempertahankan pernikahan mereka. Erlan bahkan sudah mengatakan talak di hadapan kami," tutur Daddy Olivia dengan wajah sedih menatap Edgar.


Edgar menundukkan kepalanya menghadap lantai. Hatinya seolah tertampar dengan keras setelah mendengar penuturan dari Daddy Olivia. Ia merasa bersalah karena dirinya juga ikut andil dalam hancurnya hubungan Erlan dan Olivia.


"Maafkan saya, Tuan. Ini semua karena kesalahan saya," lirih Edgar.


"Kesalahanmu? Apa maksudmu, Nak?" Mommy dan Daddy Olivia saling bertatap mata, mereka heran mendengar permintaan maaf yang dilontarkan oleh Edgar barusan.


...***...