My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Memberitahu Alina



"Sayang, kemarilah!" panggil Erlan kepada Alina yang baru saja memasuki kamar mereka. Perlahan Alina berjalan menghampiri Erlan yang sedang berbaring di tempat tidur kemudian ikut berbaring di samping lelaki itu.


"Ya?" Alina meletakkan kepalanya di lengan Erlan yang sekarang berubah fungsi menjadi bantal ternyaman untuknya.


"Dulu kamu pernah bercerita kepadaku bahwa kamu punya sahabat yang sudah seperti saudara sendiri tapi sayangnya--" Belum selesai Erlan mengucapkannya, Alina sudah memotong perkataan suaminya tersebut.


"Dia menjualku dengan alasan membantuku," sahut Alina sembari menghembuskan napas kasar.


Erlan menoleh kepada Alina kemudian memperhatikan wajah istrinya itu dengan serius. "Apa kamu masih kesal terhadapnya?"


Alina pun menengadah membalas tatapan Erlan. "Tentu saja, Mas. Dia bahkan tidak pernah berniat meminta maaf kepadaku dan malah sebaliknya, ia begitu bahagia ketika melihat aku hancur saat itu!"


Erlan menghembuskan napas berat. "Bagaimana jika seandainya ia sudah berubah dan ingin meminta maaf kepadamu. Apa kamu bersedia memaafkannya, Sayang?"


Alina terdiam sejenak, tetapi matanya tetap tertuju pada biji manik berwarna abu-abu tersebut. "Aku tidak percaya jika suatu saat Imelda bersedia melakukan itu," sahut Alina kemudian.


"Memangnya ada apa sih, Mas? Kenapa tiba-tiba Mas menanyakan hal itu?" tanya Alina heran.


"Begini, Sayang. Maafkan aku sebelumnya. Beberapa hari yang lalu aku meminta Sean untuk menyelidiki sahabatmu dan setelah Sean menyelidikinya, ternyata sesuatu terjadi pada wanita itu. Apa kamu mau tahu apa yang sudah terjadi kepadanya?" tanya Erlan.


Alina menautkan kedua alisnya. "Menyelidikinya, tapi untuk apa?" tanya Alina yang mulai penasaran.


"Aku penasaran, Sayang. Aku penasaran dengan seseorang yang sudah berbuat jahat kepada istri cantikku ini. Jujur saja, tadinya aku ingin melakukan perhitungan kepada gadis itu. Tapi ... setelah aku tahu bagaimana nasibnya sekarang ini, aku pun mengurungkan niatku," tutur Erlan sembari mencubit pelan dagu Alina yang masih menengadah menatap wajahnya.


"Memangnya apa yang sudah terjadi kepada Imelda?" tanya Alina dengan wajah serius menatap Erlan.


Erlan terkekeh pelan sebelum ia menjawab pertanyaan dari Alina. "Ternyata kamu masih ingat namanya. Aku kira kamu sudah lupa, Sayang."


"Tentu saja aku ingat. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi seseorang yang begitu spesial dalam hidupku. Dia dan kedua orang tuanya sudah seperti keluargaku sendiri, Mas."


Erlan mengusap lembut puncak kepala Alina kemudian mengecupnya.


"Oke, baiklah, Cantik. Di sini kita bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak tidur. Tanpa kamu balas, Tuhan sudah membalaskan rasa sakit yang ditorehkan olehnya kepadamu."


"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak mengerti," tanya Alina.


"Imelda sudah mendapatkan karma yang setimpal, Alina. Dia dikhianati oleh lelaki yang selama ini ia bangga-banggakan dan karena lelaki itu pula ia tega menghancurkanmu, bukan? Kini Imelda menyesal dan ia ingin meminta maaf kepadamu. Tapi, sayangnya ia kehilangan jejakmu, Alina."


Alina kembali terdiam dan tampak sedang berpikir keras. Sebenarnya ia masih sakit jika mengingat perlakuan Imelda terhadapnya. Namun, jika mantan sahabatnya itu benar-benar berniat ingin meminta maaf kepadanya, mungkin Alina akan mencoba untuk melupakan masa-masa kelam itu.


"Bagaimana, Sayang? Bersediakah kamu memanfaatkan semua kesalahannya?" tanya Erlan yang begitu penasaran dengan jawaban dari istrinya itu.


"Ya, aku akan mencoba memaafkan dirinya jika ia benar-benar sudah menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi," tegas Alina.


Erlan pun tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari Alina. "Kamu benar-benar membuatku bangga, Sayang. Aku semakin cinta saja," godanya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Sang Istri.


"Mungkin untuk sekarang Imelda belum bisa menemuimu, Sayang. Karena kata Sean, saat ini Imelda masih dirawat di Rumah Sakit. Ia dan bayinya masih dalam masa perawatan," lanjut Erlan.


"Imelda di Rumah Sakit! Bayi? Loh, kapan Imelda hamil? Dan bagaimana bisa ia melahirkan lebih dulu dariku!" pekik Alina dengan membulat menatap Erlan.


"Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan, lagipula ini sudah larut malam dan aku sudah mengantuk." Erlan membenarkan posisinya kemudian memejamkan matanya. Kini tinggal Alina yang masih tertegun dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.


"Tidak, tidak! Jangan tidur dulu, Mas! Jawab dulu pertanyaanku, nanti anakmu ileran loh!" kesal Alina sembari mencoba membuka mata Erlan yang tertutup rapat.


"Hah, mana ada sejarahnya si Baby ileran hanya karena si Mommy penasaran," sahut Erlan terkekeh pelan, masih dengan mata terpejam.


"Ish!"


Alina benar-benar kesal. Ia bahkan sampai menepuk dada Erlan. Namun, sekesal apapun Alina saat ini, ia tetap betah berada di samping Erlan dan menggunakan lengan kekar lelaki itu sebagai bantalnya.


...***...