
"Selamat pagi, Mom. Selamat pagi, Baby Arkana!" sapa Alina sembari mencium puncak kepala Baby Arkana yang sedang menikmati MP ASI-nya.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" tanya Mommy Afiqa yang ternyata juga ikut mengkhawatirkan Alina.
"Alina baik-baik saja kok, Mom. Tadi Alina barusan dari kamar mandi," sahut Alina.
"Oh, Kirain. Erlan begitu mengkhawatirkanmu, loh. Sampai-sampai dia tidak tenang kalau tidak menemuimu," tutur Mommy Afiqa sambil tersenyum melirik Erlan yang ingin memulai sarapannya.
Selain Erlan, Mommy pun memulai sarapannya setelah selesai memberikan MP ASI untuk Baby Arkana dan sekarang bayi mungil itu diajak Babysitter-nya bermain di ruangan bermain.
"Ehm ... oh ya, Mom. Maaf aku bertanya, kenapa ya Kak Rara tidak ingin nambah adik bayi buat Arsilla? Padahal 'kan Arsilla sudah besar dan sudah pandai buat jagain Adiknya," tanya Alina tiba-tiba.
Mommy Afiqa dan Erlan saling tatap sebentar dan kemudian mereka pun kembali fokus pada sarapan mereka.
"Sebenarnya bukan tidak ingin, Nak. Tapi sepertinya Tuhan masih enggan memberikan adik bayi untuk Arsilla. Padahal Rara sudah berusaha konsultasi sama Dokter ahli, loh. Tapi, ya ... semua kembali lagi sama yang di atas, 'kan," tutur Mommy.
"Oh, maafkan aku, Mom. Aku kira memang Kak Rara yang ingin menunda kehamilannya," ucap Alina dengan raut wajah sedih.
"Tidak apa-apa, Alina. Nah, maka dari itu, Mommy sarankan kalau ingin menunda kehamilan sebaiknya jangan lama-lama, deh. Itu juga berlaku buat kamu lo, Alina. Sebaiknya jangan nunggu Arkana gede baru bikin adik," celetuk Mommy Afiqa.
Mata Alina membulat setelah mendengar ucapan Mommy barusan. Tiba-tiba saja ia teringat akan benda pipih yang masih ia simpan di saku dress-nya. Ia bahkan belum tahu bagaimana hasil yang terlihat dari benda pipih tersebut.
"Huft, kenapa tubuhku jadi panas dingin begini," gumam Alina sambil menggaruk pelipisnya.
Alina melirik Mommy Afiqa yang begitu menikmati sarapannya, kemudian beralih pada Erlan yang ternyata sedang memandanginya sambil tersenyum nakal.
Beberapa menit kemudian, sarapan ala mereka pun selesai. Setelah selesai sarapan, Alina segera kembali ke kamarnya. Erlan tampak bingung karena biasanya Alina selalu membantu para pelayan membereskan meja, sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.
Namun, kali ini wanita itu malah kembali ke kamar mereka tanpa mempedulikan meja makan yang masih berantakan. "Ada apa dengan Alina, ya? Dia tampak sedikit aneh hari ini," gumam Erlan.
"Apa sebaiknya aku ikuti saja, ya? Tapi, bagaimana jika dia marah?" Erlan terus berpikir, tetapi kakinya terus melangkah menuju kamar utama, di mana Alina berada sekarang.
Di dalam kamar utama. Alina duduk di tepian tempat tidurnya dengan wajah cemas. Sangat cemas sebenarnya, terlihat dari keringat dingin yang keluar dari pelipisnya saat itu. Perlahan Alina merogoh saku dress-nya dan meraih benda mungil tersebut.
"Semoga tidak, ya Tuhan!" gumamnya dengan tangan gemetar mengangkat benda pipih itu ke hadapannya. Bukannya membaik, tubuh Alina semakin bergetar setelah melihat hasil yang ditunjukkan oleh benda pipih tersebut.
Matanya membulat dan sekarang tampak berkaca-kaca. "Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Bagaimana jika Mas Erlan tidak bisa menerima ini semua?" gumam Alina yang kemudian terisak sambil menggenggam benda itu dengan erat.
Erlan yang baru saja tiba di depan pintu kamar utama, segera mengintip dari balik pintu tersebut. Ia terkejut ketika mendapati istri kecilnya yang sedang terisak di dalam kamar mereka.
"Alina? Dia kenapa," pekik Erlan dengan wajah panik.
Ia bergegas membuka pintu kamar tersebut kemudian menghampiri Alina yang masih terisak di tepian tempat tidur mereka. "Alina sayang, kamu kenapa? Apa yang membuatmu menagis seperti ini, katakan padaku!"
Kehadiran Erlan yang tiba-tiba membuat Alina kelabakan. Ia menggenggam erat testpack tersebut agar tidak kelihatan oleh suaminya tersebut. "A-aku tidak apa-apa kok, Mas." Alina menyeka air matanya kemudian mencoba tersenyum kepada Erlan.
"Tidak apa-apa kok menangis?!" tanya Erlan penuh selidik.
...***...