My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Tuan Joseph Adijaya



Hari itu, setelah mendapatkan informasi dari pihak hotel, Alina memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia kelelahan dan sudah tidak sanggup jika harus menuju kediaman lelaki yang diketahui bernama Tuan Joseph Adijaya tersebut pada hari yang sama.


Walaupun Alina tidak setiap hari mengalami mual dan muntah. Namun, kondisi tubuhnya sudah tidak seperti sebelum ia mengadung. Sekarang tubuhnya mudah sekali lelah dan butuh istirahat yang lebih banyak dari biasanya.


Alina merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Kasur yang sudah mulai usang karena dimakan usia. Walaupun begitu, Alina tetap bersyukur bahwa ia tidak perlu merasakan tidur di atas lantai.


. . .


Keesokan harinya.


Setelah melakukan ritual paginya, mandi, berpakaian, sarapan dan memoleskan sedikit bedak di wajahnya yang memucat, Alina pun bersiap menuju kediaman Tuan Joseph Adijaya. Di mana alamat lengkapnya sudah ia dapatkan.


"Ya, Tuhan ... berilah secercah harapan untuk aku dan bayiku," ucap Alina sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sederhana miliknya.


Masih sama seperti kemarin, Alina harus berjalan dengan cepat meninggalkan perkumpulan tetangga julidnya.


"Ojek, Neng Alina?"


Alina menoleh dan ia pun tersenyum karena tanpa susah-susah dicari, tukang ojek yang kemarin mengantarkannya ke hotel, kini berada di sampingnya.


"Ya, Pak. Bisa antar Alina ke alamat ini?"


Alina memperlihatkan alamat Tuan Joseph Adijaya kepada tukang ojek tersebut dan kelaki itu pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Bapak tau alamatnya. Ayo naik, Neng!" ajak si tukang ojek kepada Alina.


"Kira-kira berapa ongkosnya, Pak?" tanya Alina.


Bapak tukang ojek itupun menyebutkan tarifnya kepada Alina. Namun, Alina sempat protes karena merasa terlalu mahal. Setelah berunding dengan serius, akhirnya mereka pun mendapatkan tarif yang sudah disepakati oleh keduanya.


Setelah Alina duduk di belakang, tukang ojek itupun segera melajukan motornya menuju alamat yang ingin di tuju oleh Alina. Ternyata kediaman Tuan Joseph Adijaya tersebut lumayan jauh pantas saja kalau tukang ojek tersebut meminta ongkos yang cukup mahal kepada Alina.


"Nah! Neng Alina, kita sudah sampai," ucap tukang ojek seraya menghentikan motornya tak jauh dari sebuah rumah mewah yang sepertinya sedang mengadakan acara.


"Benar di sini alamatnya, Pak?" tanya Alina yang nampak kebingungan.


"Ya, Neng. Dan menurut Bapak, alamat yang Neng cari itu, ya rumah mewah itu," sahut Bapak tukang ojek seraya menunjuk ke arah rumah mewah yang sedang ramai dengan orang-orang tersebut.


Setelah tukang ojek pergi meninggalkannya, Alina pun melangkahkan kakinya dengan perlahan menghampiri kediaman mewah itu.


"Sebenarnya ada acara apa ini? Kenapa orang-orang begitu ramai?" batin Alina.


Alina menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah karangan bunga yang begitu besar, terletak di depan rumah mewah tersebut. Rumah mewah yang dikatakan oleh Bapak tukang ojek adalah rumah mewah milik Tuan Joseph Adijaya.


Mata Alina terbelalak sempurna setelah membaca tulisan yang tertera di karangan bunga tersebut. Napasnya tiba-tiba saja tersendat setelah tahu nama siapa yang tertera di karangan bunga duka cita tersebut.


"Tu-Tuan Joseph Adijaya?!" pekik Alina.


Alina kembali melangkahkan kakinya yang gematar menghampiri kediaman mewah milik Tuan Joseph Adijaya tersebut lebih dekat lagi. Dan apa yang tertulis di karangan bunga duka cita itu ternyata benar adanya.


Kediaman mewah itu tengah berkabung. Sebuah bendera berwarna kuning berkibar di pagar rumah mewah tersebut. Tak lupa karangan bunga duka cita yang bertuliskan nama Tuan Joseph Adijaya, yang berjejer di depan pagar rumah mewahnya.


Tubuh Alina mendadak panas dingin. Satu-satunya harapan Alina kini harus pergi untuk selama-lamanya.


"Malang nasibmu, Bayi ... laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab atas dirimu, harus pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya," gumam Alina sambil mengusap perutnya dengan lembut.


Alina yang sudah putus asa, melenggang pergi dari tempat itu dan berjalan dengan hati dan tatapan kosong. Ia bahkan tidak tahu kemana kakinya melangkah saat itu.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Untuk siapa aku bertahan di sini? Ibuku sudah tiada, lelaki yang harusnya bertanggung jawab padaku pun sudah meninggalkan dunia ini, lalu ... untuk apa aku tinggal di sini?"


Hati Alina terus bergumam dan kakinya terus melangkah tanpa tujuan. Dan tanpa ia sadari, ternyata ia berada di sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat sebuah aliran air sungai yang mengalir begitu deras.


Alina berhenti di tengah-tengah jembatan sambil menatap aliran sungai yang begitu deras di bawah jembatan. Pikirannya yang kalut seakan memerintahkan dirinya untuk menaiki pembatas jembatan itu.


Benar saja, perlahan Alina menaiki satu-persatu pembatas jembatan tersebut dan akhirnya ia berhasil melewatinya. Tubuhnya yang lemah melayang-layang dengan hanya berpegangan di pembatas jembatan.


Semua pengguna jalan riuh melihat seorang gadis putus asa yang ingin mencoba bunuh diri. Namun, tak satupun dari mereka bersedia menolongnya. Mereka tidak berani mendekat dan hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan.


"Kenapa kalian hanya diam! Apa kalian ingin melihat gadis itu mati baru bertindak!"


Seorang laki-laki yang baru keluar dari mobilnya berteriak kesal sambil berlari ke arah Alina.


...***...