
Edgar memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tua Olivia. Ia tidak peduli apapun resiko yang akan ia hadapi setelah mengakui perbuatannya kepada pasangan itu.
"Sebenarnya saat itu ...." Edgar mulai menceritakan awal mula terjadinya kejadian yang tidak pernah direncanakan tersebut hingga akhirnya berimbas pada pernikahan Erlan dan Olivia.
Mommy dan Daddy Olivia begitu shok setelah mendengar cerita Edgar. Perasaan mereka campur aduk saat itu, antara marah, kesal, kecewa dan semuanya menjadi satu di dalam hati mereka.
"Ya, Tuhan, Olivia! Kenapa hal itu bisa terjadi?!" pekik Mommy Olivia sembari menutup mulutnya dengan tangan.
Terdengar hembusan napas berat dari Daddy-nya Olivia. Wajah lelaki paruh baya tersebut nampak kusut dan terlihat jelas kekecewaan di sana. "Aku ingin menyalahkanmu atas kejadian ini, tetapi sayangnya yang menjadi dalang sesungguhnya di sini adalah Olivia."
"Sebenarnya saya siap mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya, Tuan. Namun, sayangnya Olivia selalu menolaknya. Ya, saya tahu dan sadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan seorang Erlan Ardinasa Harrison. Saya hanya seorang lelaki biasa dengan kondisi kehidupan yang biasa-biasa pula," lirih Edgar.
Daddy Olivia memperhatikan raut wajah Edgar saat itu dan ia yakin bahwa Edgar adalah laki-laki yang baik dan yang pasti, Edgar adalah lelaki yang jujur dan juga bertanggung jawab.
"Ya, seperti itu lah Olivia. Ia begitu terobsesi pada sosok Erlan. Kami bahkan sudah sering meminta Olivia untuk melupakan lelaki itu, tetapi ia tetap bersikeras bahwa suatu saat nanti Erlan akan kembali padanya."
"Oh ya, Nak ... bolehkah aku minta nomor ponselmu? Ya, siapa tahu nanti kami butuh bantuan darimu," ucap Daddy Olivia.
"Ya, tentu saja, Tuan." Dengan penuh semangat, Edgar meraih dompet miliknya kemudian mengambil sebuah kartu nama yang tersimpan di dalam dompet tersebut.
"Ini nomor ponsel saya, Tuan. Anda bisa hubungi saya kapan saja di nomor itu," ucap Edgar sembari menyerahkan kartu namanya kepada Daddy Olivia.
Lelaki paruh baya itu menyambutnya kemudian memperhatikan tulisan yang tertera di kartu tersebut dengan seksama. "Jadi ... kamu tidak tinggal di kota ini?"
"Dulu, ya. Tapi setelah saya mendapatkan pekerjaan di kota X, sekarang saya memilih menetap di sana, Tuan."
Edgar dan Daddy Olivia terus berbincang-bincang di ruangan itu. Sedangkan Sang Mommy memilih menemani Olivia yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam kamarnya.
Beberapa jam kemudian, setelah Edgar berpamitan kepadanya, lelaki paruh baya tersebut segera menyusul Sang Istri ke kamar milik Olivia.
"Ya, dia sudah pulang. Oh ya, Mom, sepertinya aku mulai menyukai lelaki itu. Bagaimana jika kita jodohkan saja Olivia dengannya. Dia lelaki yang baik, jujur dan bertanggung jawab. Siapa tahu setelah menikah dengannya, Olivia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Wanita paruh baya tersebut tersenyum hangat. "Ya, Ibu sih setuju-setuju aja, Dad. Tapi masalahnya sekarang, apa Olivia bersedia dijodohkan dengan lelaki itu?"
"Ya, kita bujuk saja dia dengan cara yang lembut. Siapa tahu dengan begitu Olivia bisa move on dari Erlan, benar 'kan?"
"Ya, semoga saja."
Keesokan harinya.
Olivia yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya, tiba-tiba dirundung dengan berbagai macam pertanyaan oleh kedua orang tuanya seputar kejadian tadi malam, di mana dirinya mabuk berat.
"Aduh, Mom, Dad! Kenapa kalian tiba-tiba ada di sini?!" ucap Olivia sembari memijit kepalanya yang masih terasa sakit.
"Ada di sini? Memangnya kamu kira kamu sedang berada di mana, Olivia? Coba kamu buka matamu dengan benar dan lihat kamu itu sedang berada di mana?!" kesal Sang Mommy.
Olivia mengucek matanya kemudian memperhatikan sekeliling ruangan kamar tersebut. Setelah sadar dirinya berada di mana, Olivia pun tersenyum kecut.
"Siapa yang mengantarkan aku ke sini?" tanya Olivia sambil menautkan kedua alisnya.
"Calon suamimu!" sahut Sang Mommy.
"Calon suami?!" pekik Olivia dengan wajah beingung menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
...***...