
Mommy Afiqa bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri Alina dengan mata berkaca-kaca. "Kemarilah, Nak!" seru wanita paruh baya itu sembari mengulurkan kedua tangannya kepada Alina.
Alina benar-benar tidak menyangka ternyata reaksi Erlan dan Mommy jauh dari ekspektasi Alina sebelumnya. Ternyata kedua orang itu begitu bahagia mendengar berita kehamilannya. Alina segera berdiri kemudian memeluk Mommy Afiqa.
"Aku ketakutan, Mom. Aku takut kalian marah padaku karena aku sudah ceroboh dan melupakan jadwal suntik-ku. Apalagi Baby Arkana baru berusia enam bulan dan dia harus berbagi kasih sayang bersama calon adiknya di usianya yang masih sangat muda," ucap Alina sembari menatap Mommy Afiqa dengan wajah sendu.
"Ish! Kenapa kamu bicara seperti itu?! Justru Mommy senang mendengarnya, Alina. Mommy akan sangat bahagia di usia Mommy yang sudah tidak lagi muda ini, Mommy dikelilingi oleh cucu-cucu Mommy," tutur Mommy Afiqa.
"Seandainya Arsilla dekat, Mommy pun pasti akan selalu menjenguknya sama seperti Mommy menjenguk Arkana, tetapi sayangnya dia jauh," lanjut Mommy dengan wajah sedih.
"Nanti Erlan kasih tahu Kak Rara, biar dia sering-sering berkunjung ke sini bersama Arsilla buat jengukin Mommy," ucap Erlan.
"Ish, jangan Erlan. Kasihan dia," sahut Mommy.
Beberapa hari kemudian.
"Sean, beruntung sekali kamu. Imelda hamil tapi kamunya baik-baik saja. Coba lihat aku! Sudah dua kali aku seperti ini," keluh Erlan sembari menunjukan tubuhnya yang tidak berdaya kepada Sean.
Sean hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. "Sebenarnya saya malah ingin merasakan apa yang Anda rasakan saat ini, Tuan Erlan. Saya ingin merasakan bagaimana nikmatnya kehamilan simpatik itu," tutur Sean.
Erlan menautkan kedua alisnya heran menatap Sean. "Jangan-jangan! Sebaiknya jangan, Sean. Jika aku dalam keadaan yang seperti ini, kemudian kamu juga ikut-ikutan sakit tanpa sebab yang jelas sepertiku. Lalu siapa yang akan mengurus perusahaanku? Arkana dan Rendra, begitu?"
Sean terkekeh mendengar penuturan Erlan saat itu.
Tiba-tiba Alina masuk dengan membawa nampan berisi bubur ayam buatannya dan segelas teh hangat untuk Erlan yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur.
"Hai, Sayang! Aku membawakan bubur ayam untukmu," sapa Alina dengan wajah semringah menghampiri tempat tidur mereka.
Ia duduk di samping Erlan kemudian mencoba menyuapi lelaki itu. "Buka mulutnya," titah Alina sambil menyodorkan sesendok bubur ayam ke hadapan lelaki itu.
"Sedikit kok ini, lihatlah!" ucap Alina mencoba meyakinkan Erlan.
Namun, baru saja bubur itu masuk ke dalam mulutnya, Erlan malah mengeluarkannya lagi. "Aku tidak bisa, Sayang. Tidak bisa dipaksakan," lirih Erlan dengan wajah memucat menahan rasa mual di perutnya.
Alina melirik Sean sejenak dengan wajah kusut. Ia bingung harus bagaimana lagi merayu suaminya itu agar mau makan. Makanan apapun tetap saja dimuntahkannya kembali.
"Kalau kamu seperti ini terus, nanti kamu sakit beneran loh, Mas. Aku tidak ingin itu, aku takut," ucap Alina sembari memeluk Erlan.
"Aku juga bingung, Sayang. Dulu sakitku tidak separah ini. Aku masih bisa makan dengan lahap dan pergi ke kantor sama seperti biasanya. Benar 'kan, Sean?"
Sean menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, Tuan."
"Apa bayi kita kali ini cewek, ya?" lanjut Erlan sambil tersenyum, membayangkan bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang akan meramaikan keluarga kecilnya nanti.
Alina mendongak kemudian menatap wajah Erlan yang tampak bahagia. "Kalau benar bayi kita kali ini berjenis kelamin perempuan, itu artinya keluarga kita sudah lengkap, Mas. Bukankah dua anak cukup, sama seperti slogan pemerintah saat ini."
"Ish, siapa bilang dua anak cukup?! Aku ingin punya banyak anak, Alina sayang. Mungkin empat atau lima, biar rumah kita semakin ramai," sahut Erlan tanpa memperhatikan bagaimana reaksi Alina saat itu.
Alina membulatkan matanya, tubuhnya tiba-tiba saja bergidik saat membayangkan dirinya harus melahirkan tiga atau empat kali lagi.
Sedangkan Sean hanya bisa tersenyum-senyum mendengarkan obrolan pasangan itu.
...***...
Hari ini otak Author lagi ngelag, ngetik pun ogah-ogahan. Maafkan Author, ya 🙏🙏🙏 jika part kali ini garing banget 🙏🙏🙏