My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pengambilan Sampel Darah



"Lalu bagaimana denganmu, Mel? Kamu aman 'kan?" pekik Bu Dita yang sekarang mulai mencemaskan keadaan Imelda.


"Semoga saja aku dan bayiku aman, Bu," sahut Imelda tampak ragu.


"Sebaiknya kita periksa saja, Mel. Tidak ada salahnya, dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya," tutur Bu Dita dengan wajah cemas.


"Ya, Bu. Aku setuju."


Setibanya di Rumah Sakit, Imelda segera membuat janji kepada Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang kemarin memeriksa Chandra. Sedangkan Bu Dita memilih menemui Pak Heri yang sedang menunggui si kecil di ruangan NICU sejak kemarin sore.


"Kenapa wajahmu terlihat cemas seperti itu, Bu?" tanya Pak Heri ketika menatap wajah Bi Dita yang tampak kusut.


"Chandra, Yah." Setelah meletakkan barang-barang keperluan cucunya, Bu Dita menjatuhkan tubuhnya di samping Pak Heri.


"Chandra?! Kenapa lagi sama itu orang?!" pekik Pak Heri dengan wajah kesal.


"Chandra positif terkena penyakit HIV AIDS, Ayah. Dan saat ini Ibu sangat mengkhawatirkan keadaan Imelda dan juga bayinya. Ibu takut mereka tertular penyakit itu," lirih Bu Dita dengan mata berkaca-kaca menatap Pak Heri.


"Ya, Tuhan!" Pak Heri mengacak kasar rambutnya. "Sekarang di mana Imelda?" tanya Pak Heri.


"Imelda sedang menuju ruangan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Yah. Dia ingin menemui Dokter tersebut dan memeriksakan kondisinya dan juga si kecil."


"Baguslah kalau begitu! Lebih cepat, lebih baik!" sahut Pak Heri.


Sementara itu.


Imelda sudah berada di ruangan Dokter tersebut dan duduk tepat di hadapan meja kerjanya. Setelah berbincang sebentar, Imelda pun mulai bercerita kepada Dokter tersebut tentang apa yang terjadi kepada mantan suaminya.


"Saya ingin memeriksakan kondisi saya dan juga bayi saya, Dok. Walaupun kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri semenjak saya hamil, tetapi saya tetap takut dan merasa was-was," lirih Imelda.


Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Nona Imelda. Sebaiknya kita cek sekarang saja," sahut Dokter.


Sama seperti Chandra, Dokter itu pun mengambil sampel darah dan air liur Imelda saat itu juga dan hasilnya akan keluar setelah beberapa hari setelah ia melakukan pemeriksaan tersebut.


"Bagaimana dengan bayi saya, Dok?" tanya Imelda ketika Dokter selesai mengambil sampel darahnya.


"Ya, Dok. Semoga saja," sahut Imelda.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Imelda pun pamit dan kembali ke ruangan NICU di mana Ibu dan Ayahnya sudah menunggu dengan cemas.


"Bagaimana, Mel?" tanya Bu Dita, ketika Imelda sudah tiba di depan ruangan tersebut.


"Hasilnya akan keluar setelah beberap hari, Bu. Dan Dokter pun akan mengambil sampel darah si kecil hari ini karena menurut Dokter lebih cepat diketahui, akan lebih baik." Imelda memperhatikan bayinya dari balik kaca, di mana bayi tersebut masih tergolek lemah di dalam tabung inkubator.


"Semoga kalian baik-baik saja, Nak." Bu Dita mengelus lembut pundak Imelda yang masih menatap sedih pada bayinya.


"Amin, Bu."


Di sela ketakutannya, Imelda teringat pada sosok Sean yang selama ini begitu peduli padanya dan juga bayinya. Walaupun pada dasarnya mereka tidak memiliki hubungan apapun.


Imelda meraih ponselnya dan berniat menghubungi lelaki itu. Namun, baru saja ia ingin memencet nomor ponsel milik Sean, tiba-tiba saja ia ragu kemudian mengurungkan niatnya.


"Apa aku tidak terlalu lebay, ya? Apa-apa pasti cerita sama Tuan Sean. Memangnya Tuan Sean siapanya aku? Tapi anehnya aku nyama dan merasa tenang jika sudah bercerita dengannya," gumam Imelda seraya menyimpan kembali ponselnya.


Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Imelda terkejut dan kembali meraih benda pipih tersebut.


"Pasti Chandra lagi!" gumam Imelda, tetapi ternyata ia salah. Orang yang mencoba menghubunginya saat itu adalah Sean dan hal itu membuat Imelda senang bukan main.


"Tuan Sean?"


"Mel, bagaimana kabarmu? Kata Ayahmu, kamu sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter." Terdengar celotehan Sean dari seberang telepon.


Imelda pun menjawab pertanyaan Sean dan ia terlihat begitu nyaman ketika berbincang bersama Sean walaupun hanya melalui ponsel. Pak Heri dan Bu Dita yang sejak tadi memperhatikan Imelda ikut tersenyum simpul.


"Seandainya saja ... ah, sudahlah!" Bu Dita terkekeh pelan.


"Yakinlah, jika mereka memang jodoh, mereka pasti akan bersatu."


...***...