
"Kapan kamu merenovasi rumah ini, Mas? Kenapa Mas tidak bercerita kepadaku?" tanya Alina sembari melangkahkan kakinya mengikuti Erlan. Saat itu Erlan sedang menuntun Alina mengelilingi ruangan demi ruangan yang ada di bangunan mewah tersebut.
"Loh, ini 'kan kejutan. Kalau aku ceritakan semuanya sama kamu, bukan kejutan lagi namanya. Benar 'kan, Sean?"
Sean mengangguk pelan. "Ya, Tuan."
"Jika seandainya Ibu dan Ayah masih hidup, mereka pasti sangat bahagia melihat ini, Mas," ucap Alina.
Walaupun bangunan itu sudah berubah seratus persen, tetapi barang-barang kenangan milik kedua orang tuanya masih bisa ditemukan di setiap sisi ruangan. Seperti foto-foto kenangan serta beberapa barang peninggalan Ayah dan Ibunya.
Kini Erlan menuntun Alina menuju kamar utama. Kamar yang bisa ia tempati bersama istri kecilnya itu jika suatu saat mereka ingin menginap di tempat ini. Sementara pasangan itu berjalan menuju kamar utama, Sean memilih kembali ke depan agar Erlan dan Alina bisa beristirahat sejenak di kamar tersebut.
"Ini kamar kita, bagus 'kan?"
Setelah membuka pintu kamar tersebut, Erlan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size tersebut sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Ya, sangat bagus!" sahut Alina yang masih memperhatikan ruangan tersebut dengan seksama dan seolah tidak pernah puas.
Sementara itu di luar bangunan tersebut.
Ternyata salah satu tetangga samping rumah tersebut ada yang mengenali Alina saat itu. Seperti biasanya, gosip tentang kedatangan Alina ke kampung tersebut menyebar dengan sangat cepat. Dari satu mulut ke mulut lainnya hanya dalam hitungan menit saja.
Mereka yang merasa bersalah terhadap Alina selama ini, memutuskan berkumpul dan menghampiri rumah tersebut untuk menemui Alina kemudian meminta maaf kepada gadis itu atas inisiatif mereka sendiri.
"Bagaimana, kalian sudah siap?" tanya Ibu-Ibu yang biasanya paling julid, paling judes dan paling kasar ketika menghina Alina.
"Ya," jawab yang lainnya secara serempak.
Mereka berbondong-bondong menuju kediaman Alina dan setibanya di tempat itu, kedatangan mereka segera disambut oleh Sean. Sean mempersiapkan dirinya untuk berjaga-jaga di tempat itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, apalagi jika sampai menyakiti Erlan dan Alina.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Sean dengan begitu serius menatap gerombolan Ibu-Ibu warga kampung.
"Ehm ... begini, Tuan. Sebenarnya tujuan kami berkumpul di sini adalah untuk menemui Alina. Kami tahu bahwa Alina sedang berada di dalam dan kami ingin meminta maaf kepadanya atas apa yang sudah kami lakukan selama ini," tutur wanita yang memimpin gerombolan Ibu-Ibu tersebut.
"Serius, kalian hanya ingin meminta maaf kepada Nona Alina dan tidak ada maksud lain selain itu?" tanya Sean penuh selidik. "Karena aku bisa pastikan kepada kaliansemua, bahwa kalian akan sangat menyesal jika berani menyentuh apalagi menyakiti Nona kami," lanjut Sean dengan setengah mengancam.
Ibu-Ibu tersebut menggelengkan kepala mereka pelan. "Tidak, Tuan. Demi Tuhan, kami hanya ingin meminta maaf kepada Alina karena selama ini kami sudah memfitnah dirinya."
Sean menatap lekat kedua bola mata Ibu-Ibu yang menjawab pertanyaannya dan dari sana ia tahu bahwa wanita paruh baya tersebut tidak sedang berbohong.
"Baiklah kalau begitu. Kalian tunggu saja di sini dan jangan buat keributan." Sean pun segera melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut untuk menemui Alina dan Erlan yang masih berada di kamar utama.
Sesampainya di depan kamar utama, Sean pun segera mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok ... tok ... tok ....
Erlan dan Alina yang sedang berbaring sambil berpelukan di atas tempat tidur mewah tersebut, tersentak kaget. "Ya?!" teriak Erlan.
"Tuan, di luar ada beberapa Ibu-Ibu yang ingin bertemu dengan Nona Alina," sahut Sean dari balik pintu kamar.
Alina mendadak panik. Ia benar-benar ketakutan setelah mendengar Sean menyebutkan kata 'Ibu-Ibu'.
"Mas, bagaimana ini? Aku yakin mereka pasti marah padaku," ucap Alina dengan wajah memucat menatap Erlan.
"Tenanglah, ada aku dan Sean di sini. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu, apalagi menyakitimu, Alina. Percayalah padaku," sahut Erlan sembari menyentuh kedua pipi Alina saat itu.
Alina merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Erlan saat itu. Erlan bangkit kemudian mengulurkan tangannya kepada Alina. "Ikutlah denganku dan kita temui mereka!"
Walaupun masih ragu, Alina tetap menyambut uluran tangan Erlan kemudian berjalan di belakang tubuh besar lelaki itu. "Aku takut, Mas!"
"Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah padaku," sahut Erlan lagi mencoba meyakinkan Alina.
Saat itu kaki Alina terlihat bergetar. Pertemuan terakhirnya bersama para Ibu-Ibu julid tersebut membuat Alina merasa trauma dan ia takut hal itu akan terulang lagi hari ini.
...***...