
"Katakan!"
"Sebaiknya pergilah sekarang, sebelum nasibmu sama sepertiku, hamil kemudian disia-siakan. Kamu bukan satu-satunya wanita yang menjadi simpanan lelaki ini. Kamu tidak tahu saja, setiap malam ia terus gonta-ganti pasangan, dan--"
Belum habis Imelda berkata-kata, wanita itu sudah berteriak kesal. "Cukup! Kamu pasti bohong 'kan?!"
"Sudah aku katakan padamu, Sayang, wanita ini mengalami gangguan jiwa. Dia itu sedang meracau, percayalah padaku," bujuk Chandra kepada wanita itu.
Imelda kembali tertawa pelan. "Ya, Tuhan ... ternyata selama ini kamu bilang kepada semua wanita-wanitamu bahwa aku sakit jiwa? Terima kasih, Chandra."
"Oh ya, dan buat kamu." Imelda menunjuk wanita itu. "Sebelum semuanya terlambat, sebaiknya pergilah dari kehidupan lelaki ini. Jika kamu masih tidak percaya dengan ucapanku, sebaiknya kamu cek saja rekaman CCTV. Dari sana kamu akan tahu semuanya bahwa aku tidak berbohong," Imelda menunjuk ke arah CCTV yang ada di salah satu sudut ruangan.
"Kurang ajar! Apa itu benar, Chandra?!" pekik wanita itu dengan wajah memerah menatap Chandra.
"Bohong! Jangan dengarkan dia, dia sudah membohongimu. Dia hanya ingin merusak hubungan kita, Sayang. Percayalah padaku!" Chandra mulai panik karena sepertinya wanita itu sudah terpengaruh kata-kata yang diucapkan oleh Imelda.
"Siapa yang bohong?! Sini, aku buktikan dengan rekaman CCTV," ajak Imelda kepada kedua orang yanh sedang bertengkar di hadapannya.
"Imelda, cukup!" Chandra yang kesal menujuk wajah Imelda dengan jari telunjuknya dan mata lelaki itu terlihat membulat sempurna.
Imelda hanya tersenyum tipis sembari memperlihatkan ekspresi pasangan kekasih yang berdiri di hadapannya.
"Akh, kamu memang kurang ajar!" Akhirnya wanita itu memilih mempercayai ucapan Imelda. Ia begitu kesal hingga beberapa kali memukul tubuh Chandra sebelum ia pergi dari ruangan itu.
"Bye!" Imelda tertawa renyah sembari melambaikan tangannya kepada wanita itu. Sedangkan Chandra tampak panik dan mengejar wanita itu hingga ke halaman depan rumah mereka.
Imelda terus mengikuti langkah Chandra yang sedang berlari kecil mengikuti wanita itu dan mencoba membujuknya. Namun, wanita itu sudah tidak percaya dengan ucapan Chandra kemudian memilih pergi dari tempat itu.
Chandra yang merasa sangat kesal kemudian menghampiri Imelda yang kini berdiri di depan pagar rumah mereka. Wajah Chandra memerah dan kemarahannya sudah berada di puncak kepalanya.
"Ini semua gara-gara kamu! Dasar wanita siallan!" Chandra yang sudah tidak bisa menahan emosinya mendorong tubuh Imelda hingga terjengkang ke tanah.
Tidak cukup sampai di situ, Chandra yang masih termakan emosi ingin menendang tubuh Imelda, tetapi belum sempat ia melakukan hal itu, seseorang memegang tangannya dengan erat dan menarik tubuhnya hingga mundur beberapa langkah ke belakang, menjauh dari tubuh Imelda.
"Cari lawan yang seimbang, Bung! Jangan menjadi lelaki cemen yang beraninya hanya dengan seorang wanita yang tidak berdaya," ucap lelaki itu dengan wajah memerah menatap Chandra.
"Siapa kamu! Ini bukan urusanmu, pergi atau ku hajar!" geram Chandra sembari membalas tatapan sinis lelaki itu.
"Coba saja kalau bisa," sahut lelaki itu sambil tersenyum tipis. Ia melepaskan tangan Chandra dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Tanpa pikir panjang Chandra mencoba menyerang lelaki itu dengan sekuat tenaga, menendang dan memukulnya. Namun, sepertinya Chandra salah cari lawan. Ternyata lelaki itu memiliki basic ilmu bela diri yang cukup bagus dan membuat Chandra kewalahan menyerangnya.
Baru sedetik Chandra lengah, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya hingga membuat ia terjengkang dengan keras ke tanah. Chandra meringis kesakitan apalagi saat itu hidungnya mengeluarkan darah segar.
"Awas kamu!" gumam Chandra sembari bangkit dari posisinya kemudian berlari memasuki rumah.
Perlahan lelaki itu menghampiri Imelda yang masih terduduk di tanah sambil mengelus perutnya. Ia mengulurkan tangannya kepada Imelda dan segera di sambut oleh wanita itu.
"Kamu tidak apa-apa, Nona?"
"Entahlah, perutku sakit sekali!" rintih Imelda dengan wajah memucat. Ia berpegangan di tangan lelaki itu untuk menopang beban tubuhnya yang terasa sangat berat.
"Apa yang bisa saya bantu, Nona? Apakah ada seseorang di dalam rumahmu yang bisa membantumu?"
Imelda menggelengkan kepala pelan sambil menahan rasa sakit pada perutnya. "Tidak ada, Tuan. Kami hanya tinggal berdua dan satu pelayan. Tetapi ... akh!" Imelda kembali memeluk perutnya.
"Sebaiknya aku bawa kamu ke rumah sakit!" ucap lelaki itu dengan wajah panik.
***