My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Kunjungan Mommy



Di tengah kegalauannya, Nyonya Afiqa akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Alina dan Erlan di Rumah Sakit. Namun, setibanya di sana, bukannya langsung menemui Erlan dan Alina yang tengah berbahagia, Nyonya Afiqa malah menemui seorang Dokter ahli forensik yang ingin ia ajak untuk bekerjasama.


"Ada apa, Nyonya Afiqa?" tanya Dokter yang tampak kebingungan.


"Begini, Dok. Saat ini saya sangat membutuhkan bantuan dari Anda. Jujur, sebenarnya saya sama sekali tidak memiliki maksud jahat. Saya hanya ingin memastikan bahwa bayi yang baru saja dilahirkan oleh menantu saya itu adalah anak dari Erlan, Putra saya," ucap Nyonya Afiqa dengan wajah memelas menatap Dokter tersebut.


"Maksud Nyonya bagaimana? Maaf, saya kurang paham," sahut Dokter.


"Saya ingin Dokter melakukan tes DNA pada bayi tersebut tanpa sepengetahuan Erlan, Putra saya. Karena saya sangat yakin jika Erlan mengetahuinya, ia pasti tidak akan mengizinkan saya untuk melakukan tes tersebut," tutur Nyonya kirana mencoba menjelaskan kepada Sang Dokter.


Dokter tampak menimbang-nimbang dan dari raut wajahnya, Dokter tersebut terlihat ragu menuruti keinginan Nyonya Afiqa.


"Sebenarnya saya bersedia membantu Anda, Nyonya Afiqa. Namun, saya juga takut dituntut oleh Tuan Erlan karena sudah berani melakukan tes tersebut tanpa seizin darinya," sahut Dokter.


"Dokter tenang saja! Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saya lah yang akan bertanggung jawab. Bahkan kalau perlu, saya bersedia tanda tangan di atas materai bahwa semua ini adalah tanggung jawab saya," jelas Nyonya Afiqa.


Berbagai macam bujuk rayu dikeluarkan oleh Nyonya Afiqa untuk meyakinkan Dokter tersebut agar bersedia membantunya. Hingga akhirnya Dokter pun luluh dan bersedia membantu Nyonya Afiqa. Namun, masih dengan syarat yang sama. Dokter tersebut tidak ingin bertanggung jawab jika suatu saat nanti Erlan menuntutnya.


"Ya, Dok, percayalah kepada saya. Jika suatu saat Erlan menuntut hal ini, maka saya adalah orang pertama yang akan maju untuk bertanggung jawab," ucap Nyonya Afiqa mantap.


Nyonya Afiqa pun kembali berbincang dengan serius di ruangan tersebut. Membicarakan apa saja yang dibutuhkan oleh Dokter untuk melakukan tes tersebut.


"Baiklah, Dok. Hari ini saya pastikan akan menyerahkan semua yang Anda butuhkan dan jangan lupa, hasilnya dipercepat ya, Dok! Saya bersedia membayar mahal, asalkan hasilnya keluar dengan cepat," ucap Nyonya Afiqa sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Baik, Nyonya. Tentu saja," sahut Dokter.


Setelah urusannya dengan Dokter itu selesai, Nyonya Afiqa bergegas menuju ruangan di mana Alina di rawat.


Huft!


Wanita paruh baya tersebut menghembuskan napas panjang sebelum ia meraih gagang pintu ruangan itu. Namun, belum sempat ia membukanya, pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka.


"Ehm, maafkan Mommy, Erlan. Mommy tidak memberitahumu sebelumnya kalau Mommy ingin berkunjung ke sini. Bolehkah Mommy masuk?" tanya Mommy kepada Erlan yang masih mematung di ambang pintu.


"Oh iya, tentu saja, Mom. Silakan masuk," sahut Erlan sembari membukakan pintu lebih lebar lagi agar Nyonya Afiqa bisa memasuki ruangan tersebut.


"Ehm, Mom ... siapa yang memberitahu Mommy kalau kami berada di sini? Apakah Kak Rara yang sudah memberitahu Mommy?" tanya Erlan yang masih bingung karena ia belum memberitahu Nyonya Afiqa tentang kelahiran Baby Arkana.


"Ya, Rara yang sudah memberitahu Mommy," jawab Nyonya Afiqa singkat.


"Maaf karena Erlan tidak memberitahu Mommy soal kelahiran bayi kami. Erlan kira Mommy tidak akan tertarik, jadi ...." Belum habis Erlan bicara, Nyonya Afiqa langsung menyela ucapan Erlan saat itu.


"Sudahlah, tidak apa-apa."


Perlahan, Nyonya Afiqa menghampiri Alina yang masih berselonjor di atas tempat tidur. Alina melemparkan senyuman hangatnya ketika Nyonya Afiqa datang mendekat. Namun, tidak dengan Ibu mertuanya itu. Nyonya Afiqa tetap memasang wajah datar sambil terus mendekat ke arahnya.


"Bagaimana kabarmu, Alina?" tanya Nyonya Afiqa.


"Baik, Mom." Alina masih menyunggingkan senyum bahagianya. Ya, Alina begitu bahagia karena Nyonya Afiqa sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjenguknya.


Nyonya Afiqa melirik Baby Arkana yang sedang terlelap di dalam pangkuan Alina. Bayi mungil itu terlihat sangat menggemaskan. Nyonya Afiqa bahkan tidak sadar bahwa saat itu ia tengah tersenyum lebar ketika menatapnya.


"Dia lucu sekali, persis seperti Erlan ketika masih bayi," gumam Nyonya Afiqa.


"Dia benar-benar mirip denganku ya 'kan, Mom," sela Erlan yang kini berdiri di samping Mommy-nya.


"Ya, Erlan. Kamu benar," jawab Nyonya Afiqa.


...***...


""