
"Maafkan aku, Mami! Aku benar-benar khilaf," lirih Chandra sambil terisak.
"Ya Tuhan, kamu benar-benar menjijikkan! Bisa-bisanya kamu tidur dengan sembarang wanita! Kemarin Imelda, sekarang Rima dan setelah itu siapa lagi, Chandra!" kesal Bu Kirana sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian berdiri di hadapan Chandra yang masih tertunduk.
"Sekarang Mami tanya, apa kamu melakukannya dengan menggunakan pengaman? Jangan katakan bahwa kamu tidak menggunakan pengaman ya, Chandra!" Dengan napas tersengal-sengal, Bu Kirana menatap Chandra. Ia benar-benar gemas melihat tingkah anak semata wayangnya itu.
"Maafkan aku, Bu ...," lirih Chandra di sela isak tangisnya.
"Akkhhh! Kamu benar-benar memalukan, Chandra!" teriak Bu Kirana yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Ia menarik rambut Chandra dengan keras hingga membuat Chandra meringis kesakitan.
"Akh, maaf, Mi! Maafkan aku," lirih Chandra lagi sembari mengangkat kepalanya menatap Bu Kirana.
"Minta maafmu tidak akan bisa merubah keadaan menjadi seperti semula, Chandra! Sebaiknya kita cek kondisi kesehatan kamu ke Rumah Sakit. Dan kita berdoa saja semoga kamu tidak kenapa-kenapa!"
Bu Kirana yang begitu kesal sekaligus ketakutan, segara bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju kamar utama untuk mengambil tas serta dompetnya. Sedangkan Chandra masih teridiam di ruangan itu sambil merenungi nasibnya.
"Ayo, Chandra!" ajak Bu Kirana yang baru saja tiba di ruangan itu sambil menenteng tas miliknya.
"Baik, Mi." Chandra mengusap kasar wajahnya sembari mencoba menghilangkan sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya.
"Huh, Mami tidak tahu bagaimana reaksi Daddy-mu jika ia tahu bahwa anak lelaki yang begitu ia bangga-banggakan ternyata terinfeksi penyakit menjijikkan seperti itu! Di mana Mami dan Daddy harus menyembunyikan wajah kami ini, hah?! Ish, Chandra, Chandra!" gerutu Bu Kirana di sepanjang ruangan yang ia lewati ketika menuju halaman depan rumahnya.
Chandra hanya diam seribu bahasa sembari mengikuti langkah kaki Bu Kirana dari belakang. Tak satu pun kata-kata yang keluar dari bibir lelaki itu karena menurutnya ini memang kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan.
Setibanya di halaman depan, Bu Kirana segera memasuki mobil milik Chandra kemudian disusul oleh anak lelakinya itu.
"Huft! Semoga hasilnya negatif!" gumam Bu Kirana sembari menghembuskan napas berat.
Chandra benar-benar kehilangan kata-kata, bahkan di sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Lelaki itu tetap diam tak ingin membuka mulutnya sama sekali.
Cukup lama mereka menunggu di ruangan itu, hingga akhirnya kini tiba giliran Chandra. Perlahan Bu Kirana menuntun anak lelakinya itu memasuki ruangan Dokter tersebut. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Sang Dokter.
"Selamat siang, Bu. Silakan duduk," sapa Dokter sembari mempersilakan Bu Kirana dan Chandra untuk duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerjanya.
"Selamat siang juga, Dok. Terima kasih," sahut Bu Kirana sambil duduk di kursi tersebut, kemudian disusul pula oleh Chandra.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter lagi sambil tersenyum hangat menatap kedua orang yang sedang duduk di hadapannya.
Bu Kirana dan Chandra saling tatap sejenak, kemudian wanita itu pun mulai menceritakan maksud kedatangannya kepada Dokter tersebut.
"Begini, Dok. Sebenarnya saya ingin memeriksakan kondisi anak saya, Chandra." Bu Kirana memperkenalkan Chandra kepada Dokter tersebut.
"Kata teman-temannya, kemarin mantan kekasih si Chandra ini dinyatakan meninggal dunia karena penyakit Hiv Aids. Jadi ...." Bu Kirana menghentikan kata-katanya. Ia yakin Dokter sudah mengerti apa yang ia maksudkan tanpa harus menjelaskannya secara mendetail.
Kini tatapan Dokter tersebut tertuju pada Chandra yang sedang tertunduk malu di hadapannya.
"Maaf sebelumnya, tapi ... apa kamu dan kekasihmu tersebut pernah berhubungan badan?" tanya Dokter kepada Chandra.
Chandra mengangkat kepalanya seraya mengangguk pelan saat bersitatap mata dengan Dokter itu. Dokter menghembuskan napas panjang dan kemudian kembali bertanya.
"Di saat kalian bercinta, apakah kamu menggunakan pengaman?" tanya Dokter dengan wajah serius menatap Chandra. Lagi-lagi Chandra tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia tidak menggunakan pengaman ketika melakukan hubungan badan bersama kekasihnya saat itu.
Dokter menghembuskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita melakukan pemeriksaan sampel darah dan air liur untuk memastikan apakah benar Mas Chandra positif terjangkit penyakit tersebut. Tapi, semoga saja tidak ya, Bu." Dokter itu kembali melemparkan senyumnya kepada Bu Kirana untuk mencairkan suasana tegang di ruangan tersebut.
...***...