My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Mommy Jatuh Sakit



"Oh iya, Sean. Hampir saja aku lupa kalau kamu tidak mengingatkannya. Bagaimana kabar renovasi rumah Alina, apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Erlan.


"Ya, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun, Tuan. Perkiraan tinggal beberapa minggu lagi, rumah Nona Alina pun sudah siap huni."


"Baguslah, aku sangat senang mendengarnya. Beberapa hari yang lalu aku sempat memergoki Alina menangis di dalam kamar. Aku panik dan setelah aku tanya kenapa, ternyata dia merindukan mendiang Ibunya, Sean. Alina bilang bahwa ia ingin berkunjung ke makam Ibu sekaligus ingin tahu bagaimana kondisi rumahnya saat ini."


Erlan kembali menyunggingkan sebuah senyuman. "Aku ingin memberikan kejutan untuk Alina, sekaligus membungkam mulut tetangga kejam yang berada di sekitar rumahnya," lanjut Erlan dengan wajah kesal. Bahkan senyuman hangat yang ia sunggingkan, seketika hilang dari wajah tampan lelaki itu.


"Ya, Tuan. Anda benar," sahut Sean.


Tidak berselang lama, mobil yang di dikemudian oleh Sean pun tiba di depan perusahaan, tepatnya di tempat parkir yang khusus diperuntukkan staff-staff penting di perusahaan tersebut.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Sean pun segera membukakan pintu untuk Erlan. Dengan langkah tegap, Erlan menelusuri setiap ruangan demi ruangan di perusahaan milik mendiang orang tuanya tersebut.


Seluruh karyawan dan staff bawahannya, mengangguk hormat ketika Erlan dan sean melewati mereka. Para karyawan wanita, baik itu single ataupun sudah menikah, terpelongo ketika sosok Erlan melewati mereka.


Walaupun sudah setiap hari melihat wajah tampan dan berkharisma tersebut melewati mereka, tetapi para karyawan wanita tersebut tidak pernah merasa bosan menatap wajah tampan Erlan. Bahkan moment itu sangat dinanti-nantikan oleh mereka, di mana Erlan melewati mereka kemudian memberikan senyuman hangatnya kepada seluruh karyawan di perusahaan itu.


"Tuan Erlan memang beda. Bahkan mendiang Tuan Harrison pun tidak pernah tersenyum kepada bawahan seperti kita. Benar 'kan?" ucap salah satu karyawan wanita tersebut.


"Ya, kamu benar. Mana ada atasan yang mau tersenyum kepada bawahan seperti kita, jangankan tersenyum bahkan kadang melirik pun tidak. Tapi, Tuan Erlan memang berbeda, ia selalu ramah kepada seluruh karyawannya tanpa membedakan si A dan si B," sahut yang lainnya.


Setibanya di dalam ruangan pribadinya, Erlan segera duduk di kursi kesayangannya kemudian meraih laptop yang berada di atas meja. Sedangkan Sean tengah sibuk mengecek persiapan meeting hari ini bersama seorang Sekretaris.


Di tengah kesibukannya, tiba-tiba Erlan mendapatkan panggilan dari nomor rumah Sang Mommy. Erlan pun bergegas menerima panggilan tersebut setelah tahu siapa yang sedang mencoba menghubunginya.


"Tuan Erlan, maaf menggangu." Terdengar suara seorang Pelayan yang sedang berbicara dengannya dari seberang telepon.


"Ya, Bi, ada apa?" tanya Erlan yang sudah mulai merasa tidak nyaman karena dari nada suara pelayan itu, Erlan tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di rumah orang tuanya itu.


"Tuan ... Nyonya Afiqa sedang sakit dan beliau meminta Anda untuk segera menemuinya," lirih Pelayan itu.


"Apa! Sakit?" Erlan terkejut karena baru kemarin ia menghubungi nomor ponsel Sang Mommy dan Mommy-nya bilang bahwa dia baik-baik saja. Ya, walaupun Nyonya Afiqa sempat mengatakan bahwa tubuhnya merasa lemas dan kurang bersemangat.


"Ya, Tuan. Sejak tadi malam kondisi Nyonya Afiqa mulai menurun dan ia teru saja menyebutkan nama Tuan Erlan," sahut Pelayan.


"Baiklah, aku akan ke sana setelah selesai rapat. Tidak akan lama, paling satu atau dua jam lagi aku akan tiba di sana. Oh ya, apa Kak Rara sudah di kasih tahu?"


"Ya, Tuan. Nona Rara sudah kami kasih tahu sejak tadi malam dan katanya Nona Rara sedang di perjalanan menuju ke sini," sahut Pelayan itu lagi.


"Kalian benar-benar tidak adil, giliran Kak Rara di kasih tau sejak tadi malam. Sedangkan aku baru di kasih tahu sekarang," gerutu Erlan kesal.


"Ehm, ma-maafkan saya, Tuan Erlan. Tapi ini permintaan Nyonya Afiqa sendiri. Beliau tidak ingin mengganggu malam Anda dan membuat Anda cemas," sahut Pelayan itu dengan terbata-bata.


"Ya, sudah. Sampaikan sama Mommy, aku akan secepatnya tiba di sana. Dan jika terjadi sesuatu, hubungi saja nomor ponselku, oke?!"


"Baik, Tuan."


...***...