My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Kebahagiaan Imelda



Saat istirahat makan siang, Sean mencoba menghubungi nomor ponsel Pak Heri. Ia ingin memberitahu tentang kabar baik itu kepada Imelda. Tepat di saat itu Pak Heri dan Bu Dita sedang berada di ruangan Imelda. Kondisi wanita itu sudah mulai membaik dan tinggal menunggu izin dari Dokter agar bisa kembali ke kediamannya.


Di saat mereka tengah bercengkrama, tiba-tiba ponsel Pak Heri bergetar dan lelaki paruh baya itu pun segera meraih ponselnya kemudian mengecek siapa yang sedang memanggilnya.


"Siapa?" tanya Bu Dita dengan setengah berbisik.


"Tuan Sean," jawab Pak Heri dengan wajah semringah. Setelah menerima panggilan dari Sean, Pak Heri pun segera meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.


"Ya, Tuan Sean. Wah, saya bahagia sekali karena Anda sudah bersedia meluangkan waktu untuk menghubungi kami," ucap Pak Heri dengan senyuman lebar di wajah tuanya.


Sean tersenyum setelah mendengar ucapan Pak Heri. "Bagaimana kabar kalian semua, Pak,?"


"Kabar kami baik, Tuan Sean. Begitu pula Imelda, kondisinya pun sudah mulai membaik. Tapi sayang, si kecil masih sama seperti sebelumnya. Sama sekali tidak ada kemajuan yang berarti," lirih Pak Heri.


Sean menghembuskan napas berat. "Semoga ada keajaiban untuk Si Kecil dan ia bisa melewati masa-masa kritisnya."


"Amin," sahut Pak Heri dengan mata berkaca-kaca.


"Oh ya, Pak Heri. Bolehkah saya bicara dengan Imelda sebentar?" tanya Sean dengan ragu-ragu.


"Oh, tentu saja, Tuan Sean. Sebantar," jawab Pak Heri sembari melangkah menghampiri Imelda yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Melihat Pak Heri mendekat, hati Imelda mendadak berdebar-debar. Entah mengapa ia yakin sekali bahwa Sean ingin menyampaikan berita baik tentang sahabatnya, Alina.


"Untukku?" tanya Imelda dengan setengah berbisik ketika Pak Heri menyerahkan ponsel tersebut kepadanya.


Pak Heri pun mengangguk sembari melemparkan sebuah senyuman hangat. "Ya."


Setelah mengambil alih ponsel tersebut, Imelda pun segera menyapa lelaki itu dari seberang telepon. "Ya, Tuan Sean?!"


"Imelda, aku punya kabar baik untukmu."


"Ya, Tuan. Apa itu?"


"Ini tentang Alina, sahabatmu. Aku sudah menemukan informasi tentang gadis itu dan setelah di ajak bicara, ia pun bersedia bertemu denganmu," sahut Sean.


"Benarkah? Tuan tidak bohong 'kan?!" seru Imelda dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, Imelda."


Melihat ekspresi Imelda yang tampak begitu bahagia, Pak Heri dan Bu Dita pun mulai penasaran sebenarnya apa yang diucapkan oleh Sean kepada putri mereka hingga Imelda bisa sesenang itu.


"Apaan sih, Mel?" tanya Bu Dita dengan wajah heran menatap Imelda.


Setelah menyerahkan ponsel tersebut kepada Pak Heri, Imelda pun merentangkan kedua tangannya kepada Bu Dita dan meminta wanita paruh baya tersebut agar segera memeluk tubuhnya.


Walaupun bingung dan tidak tahu apa maksud Imelda, tetapi Bu Dita tetap menghampiri anak perempuannya itu kemudian memeluk tubuhnya dengan erat. "Kenapa sih, Nak?"


"Alina, Bu! Aku akan segera bertemu dengan Alina! Tuan Sean baru saja memberitahuku bahwa dia sudah berhasil mendapatkan informasi tentang Alina dan ia pun bersedia menemuiku," tutur Imelda sembari menitikkan air matanya.


"Syukurlah, Ibu turut bahagia mendengarnya. Ibu pun punya salah sama gadis itu, Nak. Di saat ia begitu membutuhkan bantuan Ibu, Ibu malah memecatnya tanpa alasan. Ya, Tuhan!"


Bu Dita turut menitikkan air matanya setelah mendengar berita baik tersebut. Bukan hanya Imelda, ia pun merasa bersalah karena selama ini tidak pernah mempercayai kata-kata Alina. Malah sebaliknya, Bu Dita pun ikut menyudutkan gadis itu ketika ia dalam masalah besar.


"Baguslah kalau begitu. Ini adalah kesempatan kalian untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kalian terhadap gadis itu. Dan ingat satu lagi! Terutama untukmu, Imelda. Jangan pernah lakukan kesalahan itu lagi, kali ini bukan hanya Tuhan yang akan memberimu karma, tetapi tangan ini sendiri yang akan memberikan karma itu untukmu!" tegas Pak Heri dengan wajah serius menatap Ibu dan Anak yang masih terisak itu secara bergantian.


"Ya, Ayah. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku benar-benar menyesal, Ayah. Sangat menyesal," lirih Imelda sembari menyeka air matanya.


...***...


Tiga bab dulu ya, semoga masih bisa ngetik beberapa bab lagi soalnya Author lagi kejar kata bulan ini, mohon dukungannya ya πŸ€§β˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™