My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Penolakan Mommy



Nyonya Afiqa menatap kedatangan kedua orang itu dengan wajah masam. Apalagi saat ia melihat mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tak lupa, wanita paruh baya itu juga memperhatikan perut Alina yang membulat dan wajah Nyonya Afiqa pun semakin kusut dibuatnya.


"Ya ampun, Daddy! Aku tidak mengerti jalan pikiran anak lelakimu ini!" gumam Nyonya Afiqa sambil menggaruk pelipisnya.


Kini Erlan dan Alina berdiri tepat di hadapan Nyonya Afiqa yang masih duduk di sofa di ruang utama. Ia memperhatikan Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki dan tatapannya sempat terhenti di bagian perut Alina yang membulat.


"Sepertinya kamu masih sangat muda, berapa usiamu?" tanya Nyonya Afiqa kepada Alina yang nampak canggung.


"18 tahun, Nyonya," sahut Alina yang mulai gugup.


Nyonya Afiqa menggelengkan kepalanya pelan sambil berdecak heran. "Ternyata masih sangat muda. Sayang sekali!" gumam Nyonya Afiqa.


Erlan meremass pelan tangan Alina yang masih berada di dalam genggamannya, agar gadis itu bisa lebih tenang. Apalagi saat ini Erlan merasakan bahwa tangan gadis itu terasa sangat dingin, bahkan sedingin es.


"Duduklah, Alina."


Erlan kembali menuntun Alina untuk duduk di sofa bersamanya. Alina pun menganggukkan kepala kemudian duduk tepat di samping Erlan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


Tadinya Erlan ingin meninggalkan Mommy dan Alina berdua di ruangan itu agar mereka bisa bicara empat mata, dari hati ke hati. Namun, setelah melihat reaksi Nyonya Afiqa yang seperti itu, Erlan pun mengurungkan niatnya. Ia tidak akan meninggalkan Alina dan akan tetap menemani gadis itu di sana.


"Mom, Erlan ingin menikahi Alina," ucap Erlan dengan serius menatap Nyonya Afiqa.


Nyonya Afiqa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Erlan! Tidak bisa begitu. Lagi pula kita belum tahu pasti bayi siapa yang ada di dalam kandungannya. Mommy tidak akan merestui kalian, kecuali memang benar bayi itu milikmu," sahut Nyonya Afiqa yang nampak panik.


"Tapi Erlan yakin, Mom! Erlan yakin bahwa bayi ini adalah milik Erlan."


"Begini saja! Kita lakukan tes DNA, biar kita tahu bayi siapa yang ada di dalam kandungan gadis ini!" tegas Nyonya Afiqa.


Erlan mendengus kesal kemudian menoleh ke arah Alina. Ia tahu bagaimana perasaan Alina saat ini. Gadis itu pasti sakit hati dan kecewa mendengar jawaban dari Mommy-nya. Benar saja, kepala gadis itu tertunduk lesu dengan raut wajah sendu.


"Alina," panggil Erlan pelan.


Alina mengangkat kepalanya kemudian menatap lelaki itu. "Apa yang dikatakan oleh Mommy-mu benar, Mas. Lebih baik batalkan saja rencanamu menikahiku. Lagipula aku baik-baik saja, kok. Aku sudah terbiasa dengan hidup yang seperti ini," sahut Alina dengan senyuman hangatnya.


Mata Erlan membesar menatap Alina. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Alina. Aku akan tetap menikahimu dengan ataupun tanpa restu dari Mommy," jawabnya, masih menggenggam erat tangan Alina.


Alina hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya ia tidak ingin hanya karena Erlan ingin menikahi dirinya, lelaki itu dan Sang Mommy harus berdebat sengit seperti itu. Apalagi sampai mengakibatkan keretakan dalam hubungan mereka.


"Mom, aku akan pikirkan permintaan Mommy barusan. Tapi ... maafkan aku, aku akan tetap menikahi Alina dengan ataupun tanpa restu darimu," tegas Erlan.


Erlan bangkit dari posisi duduknya sembari menarik pelan tangan Alina agar gadis itu mengikutinya. Mau tidak mau, Alina pun segera bangkit kemudian mengikuti lelaki itu dari belakang dengan tangan yang masih berada di dalam genggamannya.


"Erlan! Jangan pergi!" teriak Nyonya Afiqa.


"Mas, Mommy-mu memanggil," ucap Alina kepada Erlan yang sama sekali tidak ingin berpaling apalagi menghentikan langkahnya.


Bahkan omongan Alina saja tidak digubris oleh lelaki itu. Erlan tetap melangkahkan kakinya menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di bangunan megah tersebut hingga akhirnya mereka pun tiba di depan mobil miliknya.


"Masuklah."


Erlan membuka pintu mobilnya kemudian membiarkan Alina masuk dan duduk di sana. Setelah itu Erlan pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"Mas, sebaiknya pikirkan dengan baik apa yang dikatakan oleh Mommy-mu. Aku tidak ingin hanya karena kehadiranku, hubungan kalian menjadi renggang."


Erlan menghembuskan napas berat. "Mommy memang keras, Alina. Tapi, aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan luluh. Apalagi setelah melihat si kecil ini lahir," Erlan akhirnya tersenyum sembari mengelus perut Alina dengan lembut.


Wajah Alina masih kusut bahkan untuk membalas senyuman Erlan pun sangat sulit baginya. "Sekarang kita kemana, Mas?"


"Ke Apartemenku. Ayolah, Alina sayang, tersenyumlah," Erlan kembali melemparkan senyuman kepada Alina sembari mengelus tangan gadis itu.


Akhirnya Alina pun tersenyum walaupun masih terlihat jelas senyuman itu nampak dipaksakan.


...***...