My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Bad Mood



"Tuan Sean, selamat ya. Maaf, aku telat mengucapkannya. Ngomong-ngomong, setelah menikah kamu akan tinggal di mana? Di kota X?" tanya Alina kepada Sean yang kini sedang fokus pada setir mobilnya.


"Terima kasih, Nona. Setelah menikah saya akan mengajak Imelda beserta Baby Rendra ke sini karena pekerjaan saya juga di sini, Nona," jawab Sean.


"Wah, aku tahu apa tujuan Alina bertanya seperti itu padamu, Sean," sela Erlan. "Hati-hati loh, Sean. Sebenarnya dia sedang mengincar posisimu. Dia ingin menjadi asisten pribadiku," lanjut Erlan sambil tergelak.


"Mas Erlan," kesal Alina sambil menekuk wajahnya menatap suaminya yang entah kenapa pagi ini begitu iseng menggodanya. Bahkan Sean pun sempat terkekeh mendengar ocehan lelaki itu.


"Aku senang mendengarnya, Sean. Itu artinya aku dan Imelda bisa berkumpul-kumpul lagi seperti dulu. Apalagi sekarang 'kan sudah ada Baby Arkana dan Baby Rendra yang akan meramaikan pertemuan kami," lanjut Alina dengan wajah semringah membayangkan dirinya bisa berkumpul bersama Imelda dan anak-anak mereka.


"Ya, Nona. Imelda pun bicara seperti itu kepada saya," jawab Sean.


Tak terasa, mereka pun akhirnya tiba di halaman parkir perusahaan besar milik mendiang Tuan Richard James tersebut. Erlan segera menuntun Alina memasuki bangunan itu sambil bergandengan tangan.


"Aku gugup, Mas. Semua karyawanmu sepertinya sedang memperhatikan aku," Alina melepaskan genggaman tangan Erlan dan memilih memeluk lengan kekar itu sambil melangkah.


"Tentu saja, Alina Sayang. Hari ini kamu adalah bintangnya. Mereka pasti berlomba-lomba ingin melihat secantik apa Nyonya CEO mereka." Erlan mengelus lembut tangan Alina yang terasa dingin.


Alina memperhatikan seluruh karyawan yang ia lalui ketika menuju ruangan Erlan. Semakin ke atas, Alina semakin bingung dibuatnya.


"Mas, aku kok bingung, ya? Kenapa semakin ke sini pakaian karyawan wanitanya semakin terbuka? Atau ini hanya perasaanku saja?" tanya Alina dengan wajah serius menatap Erlan yang masih berjalan di sampingnya.


Sean terkekeh pelan mendengar pertanyaan Alina. Namun, apa yang dikatakan oleh wanita itu memang benar adanya.


"Memangnya kenapa?" tanya Erlan sembari memperhatikan ekspresi Alina.


"Apa para karyawan laki-laki di sini tidak ngiler lihat body mereka? Secara bodymereka, ya Tuhan!" lanjut Alina dengan mata membulat.


Alina menoleh ke arah Sean yang masih terkekeh pelan di belakangnya. "Kamu sendiri bagaimana, Tuan Sean? Apa kamu tidak berhasrat melihat body mereka yang sengaja diperlihatkan seperti itu?" tanya Alina yang sepertinya ingin protes tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya kepada Erlan dan Sean.


"Ppeeptt!" Erlan menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak pecah.


"Kami sudah terbiasa karena setiap hari kami disuguhkan dengan pemandangan seperti itu, Nona Alina." Jawaban Sean membuat Alina menekuk wajahnya.


"Kenapa dibiarkan saja? Seharusnya mereka dikasih sanksi biar mereka jera karena sudah memperlihatkan aurat mereka kepada kaum hawa yang bukan muhrim mereka. Lah, karyawan di depan pakaian mereka biasa-biasa saja, malah terlihat rapi. Ish, aku semakin kesal saja!" gumam Alina yang masih terdengar jelas di telinga kedua lelaki itu. Erlan dan Sean saling tatap dan mencoba menahan tawa mereka.


Setibanya di ruang pribadi Erlan, Alina menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Wanita itu masih memasang wajah malas karena moodnya sedikit terganggu setelah melihat pemandangan yang baginya sungguh tidak biasa.


Di saat Alina masih merasa bad mood, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Dia adalah Sekretaris Erlan. "Ya, masuklah," titah Erlan kepada wanita itu.


Wanita itu masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang teratur dan terlihat sangat memukau. Mata Alina membulat sempurna setelah melihat penampilan wanita cantik itu. Terlihat sangat seksi dengan dress formal ketat di atas lutut, menampakkan gundukan-gundukan memukau yang bisa membuat lelaki terpesona ketika melihatnya.


Alina memperhatikan Sekretaris tersebut tanpa berkedip sedikitpun dan ternyata Erlan menyadari hal itu. "Alina Sayang, kemarilah. Kenalkan ini Sekretarisku, namanya Malika."


Wanita seksi bernama Malika tersebut segera berbalik dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang wanita cantik bertubuh mungil di dalam ruangan Bossnya itu. Ia melemparkan senyuman hangatnya seraya mengangguk pelan kepada Alina.


Alina membalas senyuman wanita itu walaupun terlihat jelas bahwa ia terpaksa melakukannya. Alina melangkahkan kakinya menghampiri Erlan kemudian berdiri di samping suaminya dengan tatapan masih tertuju pada Malika.


"Duduklah," titah Erlan seraya menarik tangan Alina kemudian mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya.


"E-eh, Mas?!" pekik Alina yang terkejut ketika Erlan mendudukkan dirinya di atas pahanya.


"Dia istriku, Malika. Cantik 'kan?" ucap Erlan dengan bangga memperkenalkan Alina kepada Sekretarisnya.


"Ya, Tuan. Sangat cantik. Kenalkan saya Malika, Sekretaris Tuan Erlan. Senang bertemu dengan Anda Nona," ucap wanita itu sembari mengulurkan tangannya kepada Alina.


"Alina," jawab Alina yang segera menyambut uluran tangan wanita itu.


"Ada apa, Malika?" tanya Erlan setelah kedua wanita itu melerai jabatan tangan mereka.


"Pak Agung ingin menghadap Anda, Tuan Erlan. Ada yang ingin ia sampaikan kepada Anda," sahut Malika.


"Pak Agung? Baiklah, suruh dia masuk," jawab Erlan.


"Baik, Tuan." Setelah Malika pergi, Alina turun dari pangkuan Erlan kemudian kembali berdiri di samping lelaki itu.


"Pak Agung? Ayahnya Chandra?" tanya Alina kepada Erlan.


"Ya," sahut Erlan sambil mengangguk pelan. "Mungkin ada sesuatu yang penting, yang ingin dia bicarakan."


...***...