
...Edinburgh...
...Karya : Komalasari...
🍓 Cuplikan bab
"Hey, Mr. Neighbour!" seru Blaire dari belakang, membuat pria itu tertegun. Dia menoleh sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah tanpa memberi tanggapan apapun. "Astaga." Gadis dengan rambut pirang tersebut bergumam pelan. Setengah berlari, Blaire menyusul dan menyejajari langkah pria tadi.
"Jangan mengikutiku," tegur si pria.
"Aku tidak mengikutimu. Aku berjalan di samping, bukan di belakang," sahut Blaire dengan enteng.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain?" Pria itu tak menoleh sedikit pun. Langkahnya tegap dengan tatapan tertuju lurus. Sedangkan kedua tangan berada di dalam saku jaket hitam yang dikenakannya.
"Aku akan ke kedai. Apa kau lupa bahwa kita bertetangga?" Blaire menoleh sambil tersenyum manis. "Tempat tinggalmu denganku hanya terhalang dua rumah. Sementara tokomu dengan kedai milik mendiang ayahku saling berdekatan. Apa menurutmu itu bukan sebuah pertanda?" Gadis itu kembali menoleh kepada si pria yang tak menanggapinya sama sekali. Pria tadi terus berjalan dengan langkah yang terasa begitu cepat bagi Blaire, sehingga membuat si gadis kewalahan.
"Kenapa kau berjalan dengan sangat cepat? Apa kau tidak lelah?" tanya Blaire terengah.
"Kau juga bicara tanpa henti," balas pria itu masih dengan tatapan yang tertuju ke depan.
"Aku banyak bicara karena kau diam terus. Jadi, kelihatannya tidak seimbang, seakan-akan akulah yang cerewet," protes Blaire tak terima, meskipun dalam hati dirinya mengakui hal itu.
"Itu memang kenyataannya. Berisik," balas si pria ketus.
"Diam lebih baik," tutup si pria. Dia berhenti di depan toko barang antik miliknya dan mengeluarkan kunci dari dalam saku. Sementara Blaire masih berdiri tak jauh darinya sambil terus memperhatikan, bahkan ketika si pria sudah membuka pintu toko yang bercat hitam dengan hiasan lampu tempel di bagian atas. Lampu itu akan padam sendiri ketika hari sudah siang.
"Setidaknya kau sebutkan namamu," ucap Blaire lagi, membuat si pria yang hendak masuk kembali tertegun. Namun, sesuai perkiraan Blaire, pria itu tak menanggapinya sama sekali. Dia memilih untuk berlalu.
"Hey, Tuan? Aku akan membuatkan kopi kesukaanmu sebelum kau datang ke kedaiku. Dengan begitu, kau tidak perlu menunggu terlalu lama," seru Blaire lagi dari luar pintu.
"Terserah kau," jawab si pria yang telah melepas jaketnya. Untuk sesaat, Blaire terdiam memperhatikan bentuk tubuh atletis dalam balutan kaos hitam lengan panjang yang dikenakan si pria. Namun, Blaire tak bisa berlama-lama mengawasi seseorang yang sama sekali tak peduli padanya. Dia juga memiliki tugas yang harus dilakukan.
Setelah membuka pintu kedai, seperti biasa Blaire membersihkan tempat tersebut lebih dulu. Setelah itu, dia bergegas membuat kopi yang biasa dipesan oleh pria pemlilik toko antik di sebelah. Sambil menunggu pengunjung, Blaire mengambil buku yang kemarin dia pinjam. "Se•x in Five Minutes," gumam gadis itu, "ini lebih menghibur daripada politik." Akan tetapi, sebelum dirinya sempat membaca, pria tadi muncul di sana. Dengan segera, Blaire mengambil kopi yang sudah dia buat beberapa saat yang lalu. "Masih panas," ucapnya sambil menyodorkan kopi itu kepada si pria.
"Thank you," sahut pria itu. Dia merogoh uang dari saku celana jeans, kemudian meletakkannya di sebelah kopi yang belum diambil. Sesaat kemudian, ekor mata si pria yang terlihat tajam melirik pada buku yang sedang dibaca oleh Blaire. Judul menggelitik dan membuatnya menggaruk kening. Dia lalu meraih cup berisi kopi yang selalu menjadi pesanannya setiap hari. Tanpa berkata apa-apa, pria dengan kaos hitam lengan panjang itu berbalik hendak menuju pintu ke luar.
Blaire yang sedang berpura-pura membaca dan mencoba tak peduli, nyatanya tak bisa untuk membiarkan pria itu berlalu begitu aja. Entah kenapa dia merasa begitu tertarik dengan pria tersebut. Padahal, pria itu lebih sering membuatnya merasa bodoh dan konyol.
Gadis itu menutup bukunya. Dengan posisi setengah membungkuk, Blaire meletakkan kedua tangan lurus di atas meja sebagai penahan dada. Dia menatap lurus ke depan, pada tubuh tegap yang hendak melewati pintu keluar.
"Apa kau merasa nyaman dengan bersikap seperti itu, Mr. Neighbour?" tanyanya tiba-tiba, membuat si pria tertegun tanpa menoleh padanya.
"Aku tidak tahu apa yang menjadi masalahmu, tapi menurutku kau sangat aneh. Teman-temanku bahkan berpikir bahwa kau adalah agen mata-mata atau mungkin seorang buronan agen federal yang berbahaya," ucap Blaire lagi, membuat si pria seketika menoleh kepadanya.
...***...