
Keesokan harinya.
Sambil terus mengelus perutnya yang membulat, Alina melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju tempat di mana Sean sudah menunggu kedatangannya bersama Erlan.
"Pelan-pelan saja jalannya, Sayang. Lagi pula Imelda tidak akan meninggalkanmu, kok. Aku sangat yakin, sama halnya dirimu, Imelda pun sangat menantikan kedatanganmu hari ini," ucap Erlan sambil menggoda Alina.
Alina mencebikkan bibirnya seraya memukul pelan lengan Erlan. "Ah, Mas, bisa saja."
Dari kejauhan, Sean sudah tersenyum ketika melihat pasangan Alina dan Erlan yang kini berjalan ke arahnya. "Akhirnya mereka tiba juga," gumam Sean sembari menggaruk pelipisnya pelan.
"Selamat pagi, Nona, Tuan!" Sean bergegas membukakan pintu mobil untuk Erlan dan Alina yang sudah berada di hadapannya.
"Selamat pagi, Sean. Terima kasih," sahut Erlan seraya menuntun Alina memasuki mobil tersebut.
Setelah Alina duduk bersandar di dalam mobilnya, Erlan pun segera menyusul dan duduk di samping istri mungilnya itu. Begitu pula Sean, setelah Big boss serta istrinya siap, ia pun bergegas melajukan mobilnya menuju kota X. Kota yang jaraknya lumayan jauh dari kota mereka.
Di perjalanan.
Pada awalnya Alina nampak santai-santai saja menikmati perjalanan panjangnya. Namun, semakin jauh mobil yang dikemudikan oleh Sean melaju, Alina pun terlihat semakin gelisah.
Sejak tadi Erlan terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh istri kecilnya itu dan ia tahu bahwa saat itu Alina sedang merasa tidak nyaman dengan posisinya.
"Alina Sayang, kamu kenapa? Perutmu sakit atau apa?" tanya Erlan dengan wajah cemas menatap Alina.
Alina menggelengkan kepalanya. "Si kecil ini sepertinya tidak suka aku duduk terlalu lama, Mas. Lihat perutku!" Alina memperlihatkan perutnya yang tampak menonjol-nonjol.
Erlan terkekeh pelan kemudian mengelus perut Alina yang sekarang bentuknya sudah tidak lagi bulat sempurna. Melainkan menonjol-nonjol serta miring ke kanan dan ke kiri.
"Apa dia selalu begini?" tanya Erlan masih dengan tawanya yang menawan.
"Hanya ketika aku duduk terlalu lama," jawab Alina.
"Baiklah kalau begitu. Sean, sebaiknya kita beristirahat dulu, ya!" titah Erlan.
"Baik, Tuan."
"Tempat ini indah sekali ya, Mas," ucap Alina kepada Erlan yang kini mengikutinya dari belakang.
"Ya, ini adalah taman yang sengaja dibuat oleh seorang pengusaha sukses yang bernama Tuan Johnson untuk Sang Istriri yang begitu ia cintai. Dulunya taman ini tertutup untuk umum, tetapi setelah mereka meninggal, sang anak membukanya untuk umum dengan syarat taman ini benar-benar dirawat dengan baik," tutur Erlan.
"Beruntung sekali istrinya Tuan Jhonson," celetuk Alina sembari memperhatikan sekeliling taman tersebut.
"Aku juga ingin membuatkan taman seperti ini untukmu, Alina."
Alina berbalik kemudian tertawa renyah mendengar ucapan Erlan yang kini menatapnya dengan tatapan serius. "Mas, ada-ada saja," sahut Alina.
Erlan tersenyum kecil melihat Alina yang masih tertawa pelan. Sebenarnya saat ini Erlan memang sedang membangun sebuah rumah impian untuk ia dan Alina tinggali. Namun, ia tidak menceritakannya kepada istri mungilnya itu agar nantinya bisa menjadi sebuah kejutan besar.
"Kamu tidak percaya?" tanya Erlan.
"Aku percaya bahwa Mas mampu memberikan sebuah taman yang mungkin lebih indah dari ini untukku. Tapi, aku rasa itu terlalu berlebihan, Mas. Mending uangnya kita gunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat untuk orang lain, misalnya menyumbang ke panti asuhan, panti jompo dan orang-orang yang benar-benar membutuhkan," tutur Alina.
Erlan menghampiri Alina kemudian merengkuh pundak istri mungilnya itu. "Wow, jawabanmu sungguh amazing."
Setelah puas mengelilingi taman itu dan beristirahat sejenak, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan panjang mereka.
Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu 4/5 jam perjalanan. Sekarang bertambah panjang dengan adanya drama si kecil yang tidak suka Mommy-nya duduk manis di dalam mobil.
Selama menuju Kota X, sudah tiga kali Sean menghentikan mobilnya untuk beristirahat. Hingga akhirnya merekapun tiba juga di Kota X setelah melewati jalanan yang penuh drama.
Sean menghentikan mobilnya ditempat parkir Rumah Sakit, di mana Imelda dan bayinya masih di rawat. Sedangkan Erlan dan Alina sudah menunggu di lobby. Selesai memarkir mobilnya, Sean bergegas menyusul pasangan tersebut.
Setibanya di lobby Sean segera menghampiri Erlan dan Alina kemudian menuntun mereka menuju kamar Imelda. "Mari, Tuan. Ikuti saya," ucapnya.
Erlan dan Alina pun mengikuti langkah Sean yang menuntun mereka menuju kamar Imelda. Hingga setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di depan ruangan itu.
***