
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Begitu masuk kedalam ruangan, Avindra merasa suasana terasa sangat canggung. Terlebih dia melihat Anita yang tampak mengabaikan Arion. Melihat Avindra datang, Arisa tersenyum kearahnya.
"Bund aku mau disuapin kakak aja." Ucap Arisa.
"Biar bunda saja kakakmu—"
"Gak apa apa bund... Sepertinya bunda dan ayah harus bicara." Ucap Avindra sembari duduk disebelah Arisa dan mulai menyuapi adik kesayangannya itu.
"Bunda pulang dulu... Bunda harus menyiapkan semua perlengkapanmu... (Mencium kening Arisa.) Avindra jaga adikmu." Ucap Antia.
"Tentu bunda." Jawab Avindra. Arion yang jengah karena selalu diabaikan oleh Antia pun menarik tangan Antia keluar.
"Ayah... Kakak bunda." Ucap Arisa cemas.
"Ingat satu hal... Ayah mencintai bunda." Ucap Avindra kemudian menyuapi Arisa. Tampak Arisa terdiam sembari mengunyah makanannya.
"Dan Arisa, kenapa kau sangat ingin bertemu pria yang menyelamatkanmu... Bahkan sampai terluka begini." Ucap Avindra. Arisa mengambil air minum dan menatap Avindra setelah meminumnya.
"Sangat kak... Terlepas dari itu, melihat tatapannya saja membuat ku senang... Meskipun tatapan dingin." Ucap Arisa. Tampak Avindra menghela napas.
"Kau menyukainya?? (Arisa menatap Avindra.) Baru kali ini kau begitu, saat Leon Elliot dan Rian menolongmu kau tidak pernah seperti ini... Apa kau.... Menyukainya??" Tanya Avindra. Tampak Arisa terdiam.
"Arisa." Panggil seorang pria muda yang tidak lain Rian. Tampak Arisa menatapnya terkejut.
"Kak Rian." Ucap Arisa senang.
"Arisa kau tidak apa apa?? Kenapa sampai seperti ini." Ucap Rian penuh kecemasan.
"Aku baik baik aja kakak, kakak jangan khawatir." Ucap Arisa sembari tersenyum. Tampak Rian menghela napas lega.
"Ekhem... Tidakah seharusnya kau menyapaku Rian." Ucap Avindra merasa tidak suka dirinya diabaikan.
"Ah iya kak, maaf aku—" Ucap Rian terpotong.
"Aku mengerti kau sangat mencemaskan Arisa, secara kau sangat menyukainya." Ucap Avindra santai membuat Rian dan Arisa merona.
Beberapa saat kemudian tampak Reanzo Renafo dan kedua orang tuanya datang menjenguk Arisa. Tentu mereka cemas karena Arisa bagaikan peri di keluarga besarnya.
__________
Brukhh!!
Antia terhempas diatas ranjang dengan Arion yang menindihi tubuh istrinya. Saat Antia hendak memberontak tampak Arion mencekal kedua tangannya.
"Aw, sakit apa yang kau lakukan??" Ucap Antia.
"Kau masih marah padaku?? Pikiran keadaan Arisa." Ucap Arion menatap mata istrinya.
"Aku setuju jika Avindra di kampus itu... Terserah, dia sudah dewasa memang saatnya menggali kehidupannya sendiri." Ucap Antia.
Seketika Arion melepaskan cengkramannya dan membiarkan Antia bangkit. Antia mengibaskan tangannya merasa panas di pergelangan tangannya. Arion menatap Antia yang membuka lemarinya.
"Maafkan aku..." Lirih Arion. Antia hanya diam karena sejujurnya dia masih tidak setuju dengan permintaan Arion.
"Sayang." Panggil Arion dengan nada lirih.
"Aku maafkan tapi aku akan menyalahkanmu jika sesuatu terjadi pada Avindra." Ucap Antia membuat Arion tersenyum. Dengan jail Arion menciumi leher Antia membuat Antia menjatuhkan pakaiannya.
"Sayang..." Lirih Arion sembari membalikan tubuh Antia dan mencium bibir mungil istrinya. Mereka berdua pun menghabiskan waktu bersama.
__________
"Alan, yang benar saja kau membuat nona muda Anvert terluka... Kau tidak khawatir menjadi buronan?" Ucap Machel sembari menatap Alan yang sedang duduk dengan santainya menikmati kopinya.
"Alan kau mendengarkan aku kan?!!" Ucap Machel kesal.
"Aku masih bisa membunuh 40 orang." Ucap Alan datar tanpa ekspresi. Tentu membuat Machel bertambah kesal.
"Ya aku tau kau hebat... Tapi, jika kau menjadi buronan apa yang akan kau lakukan?? Aku tau benar Arion Anvert sangat menyayangi putrinya bagaimana—"
"Br*ngs*k, bikin muak saja." Ucap Alan kemudian pergi.
Astaga anak ini... Jika kau bukan anak tuan Rachman, aku pasti memukulmu. Batin Machel kesal.
Di kamarnya. Tampak Alan berjalan menuju ke balkon. Dia terdiam sembari menatap penandangan yang indah dengan adanya sunset menandakan jika hari mulai gelap. Alan ingat benar saat Arisa tertabrak oleh mobil pengantar barang online.
"Dia yang b*doh, membuat repot saja." Lirih Alan. Baru mengatakan hal itu, tampak ponsel miliknya berbunyi. Segeralah Alan mengangkatnya.
📞
“Hallo, Alan.” Ucap diseberang sana.
“Hmm.”
“Astaga kau tidak berubah Alan, Machel bilang kau membuat nona muda Anvert terluka... Kau tidak akan melukai wanita kan??” Ucap diseberang sana. Dan dia tidak lain Emilio Rachman. Pria yang membesarkan mendidik dan menyayangi Alan.
“Ku rasa Machel telah menjelaskannya padamu.” Ucap Alan.
“Iya... Ya, ada satu hal yang ingin ku katakan.” Ucap Emilio terdengar serius.
“Katakan Rachman.” Ucap Alan.
“Kau sudah menjadi anggota inti di Club Gracero, ingat ini jalan satu satunya... Tingkatkan dan jadilah presiden kampus itu, lawanmu adalah musuh bebuyutan kita... Berhati hatilah.” Ucap Emilio.
“Sejak kapan perengkutan anggota inti dimulai??”
“Kau sudah di terima di kampus itu... Dengan identitas samaran itu, kau menjadi salah tau anggota inti.” Ucap Emilio.
“Jangan bilang jika lusa aku mulai masuk dalam kampus neraka itu?” Ucap Alan.
“Kau seharusnya tau itu, baiklah aku tutup telefonnya.” Ucap Emilio.
“Ingat janjimu Rachman.” Ucap Alan. Terdengar Emilio tertawa kecil.
“Tentu saja... Semoga berhasil, Alan.” Ucap Emilio.
Tut.
Alan memutuskan sambungan telefonnya. Setelahnya dia memasukan ponselnya kedalam saku dan menutup jendela balkon. Tampak dia menatap seragam yang digantung dalam lemari kaca khusus untuk pakaian yang sering dipakai olehnya. Seragam dengan logo kampus AB yang tidak lain Arumettra Bangsa.
Menggusur kampus saja harus memikirikan strategi... Benar benar membuang waktu. Batin Alan.
Konflik dimulai nih readers🤭 Di tunggu ya update terbarunya😃😁