
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Di Kediaman Anza
Gio sedang menonton televisi menikmati waktu luang. Sedangkan Lyin tengah melihat lihat pakaian yang dia beli dari Prancis beberapa hari lalu.
"Mas apa ini akan bagus digunakan Antia?" Tanya Lyin.
"Apapun yang digunakan anak kita akan sangat bagus sayang." Jawab Gio sembari mendekati Lyin.
"Apa Andian...maksudku anak itu juga kau belikan pakaian?" Tanya Gio. Lyin tersenyum sembari mengaggukan kepala.
Aku tau meskipun kau terlihat membenci Andian tapi kau sebenarnya sangat menyayanginya. Kau bahkan membiarkan Andian agar tidak tau kebenarnya. Batin Lyin.
Gio mencium puncak kepala Lyin dengan penuh kasih sayang. Tiba tiba *Ting tong.* suara bel rumah berbunyi.
"Bima!! (Gio menepuk keningnya.) Aku lupa Bima kan sedang di kantor." Ucap Gio.
"Biar aku yang buka." Ucap Lyin dan diangguki oleh Gio.
Lyin pun meninggalkan Gio dan mendekat ke arah pintu. Lyin membuka pintu perlahan dan melihat Antia disana.
"Antia sayang...(Memeluk Antia.) Kamu tumben kesini...Dengan siapa kau kesini sayang?" Tanya Lyin bahagia.
Perlahan Antia melepas pelukannya dan menujuk ke arah Andian yang dibelakangnya. Lyin pun menahan tangisan karena sudah hampir 4 tahun Andian tidak pernah mengijakan kaki di rumah itu.
"Andian kau kembali." Lirih Lyin sembari menangis. Saat itulah Gio datang karena Lyin tak kunjung masuk.
"Siapa yang dat— (Menatap Andian.) Oh kalian ajak mereka masuk." Ucap Gio datar. Gio pun berbalik dan hendak meninggalkan mereka.
"Papa." Panggil Andian dimana membuat Gio berbalik dengan mata menahan tangisan namun dia sembunyikan.
"Maafkan aku pa... Aku hanya ingin kita kembali seperti saat kak Glan masih hidup." Ucap Andian.
Sedangkan Lyin dan Antia saling berpelukan dengan mata meneteskan air mata. Gio mendekati Andian dan menarik Andian kedalam pelukannya. Dengan menangis Gio menepuk bahu kekar putranya.
"Kau memanggil ku apa?? Apa kau tau aku sangat bahagia putraku akhirnya mau mengakuiku... Maafkan papa nak seharusnya papa meluangkan waktu untuk kalian." Ucap Gio.
"Iya pa... Andian juga minta maaf." Jawab Andian.
Kini tidak ada lagi konflik antar keluarga lagi. Gio melepas pelukannya dan mengajak kedua putra putrinya masuk kedalam. Mereka berbincang dengan kebahagiaan yang saat ini mereka alami.
Di Vila
Arion selesai mengamati rekaman CCTV yang Kean putar. Setelah itu Kean pun menyondorkan dokumen yang berisi informasi tentang orang itu.
"Orang itu bernama Amar Surya...dia lumpuh akibat melompat dari truk sesaat sebelum menabrak tuan muda Glan. Dia tangan kanan Kamal Wijaya yang sudah hampir 5 tahun ini berhenti karena lumpuhnya. Dan para anak buah ku sudah menangkapnya kini dia ada di markas tuan." Jelas Kean.
"Kita ke markas sekarang." Ucap Arion.
"Baik tuan muda." Jawab Kean.
Dengan segera mereka pun menuju ke markas. Saat diperjalanan handphone milik Arion berbunyi menandakan ada pesan atau telefon masuk. Arion pun membuka dan ternyata ada pesan dari Antia.
Gadis kecilku, Suamiku kau menepati janjimu... Kakak dan papa sudah tidak bertengkar lagi dan sekarang aku di rumah... Aku mencintai kakak😘.
Arion tersenyum karena pertama kalinya Antia memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Segeralah Arion menjawab.
Arion Anvert, Aku juga mencintaimu tunggu aku akan memberimu hadiah karena memanggil ku dengan sebutan itu.
Beberapa saat kemudian.
Gadis kecilku, Baiklah aku tunggu.
Arion pun mematikan handphone nya dan tersenyum bahagia. Kean pun melirik ke arah tuannya yang tampak bahagia.
"Saya rasa anda sedang bahagia tuan." Ucap Kean.
"Tentu saja... Kean apa kau tau gadis kecilku memanggil ku dengan sebutan suami ku... Bukankah sangat membahagiakan." Ucap Arion.
"Saya turut bahagia tuan." Jawab Kean.
"Tentu saja kau harus bahagia. Lalu kapan denganmu Kean?"
"Tidak akan pernah tuan... Saya hanya bahagia jika dengan anda."
"Ayolah Kean, Andian bahkan akan menikah."
"Maaf tuan saya tidak mau membahas hal ini." Ucap Kean.
"Baiklah... Aku rasa sebentar lagi kau akan menemukan gadis yang akan merubahmu." Ucap Arion tentu tidak direspon oleh Kean.
Di Vila Raka.
Antika selesai mandi setelah seharian bersama Raka menghabiskan waktu bersama. Setelah rapi berpakaian Antika pun menuruni tangga dan hanya melihat Raka yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
"Kau sudah bangun?" Tanya Raka.
"Seperti yang kau lihat, (Duduk disamping Raka.) Ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa yang ingin kau katakan sayang?"
"Bo..bolehkah aku pergi bersama temanku... (Raka menatap Antika.) Mereka berdua wanita... Kau tidak perlu khawatir kami bertiga juga bisa bela diri."
"Tapi kau tidak kuat saat denganku tadi? (Antika merona.) Baiklah... Tapi tidak gratis." Ucap Raka tersenyum penuh arti.
"Tidak gratis aku harus bayar padamu... Kau kan kaya dan semua bisa kau dapatkan kenapa sama istri sendiri harus bay—" Ucap Antika terpotong lantaran Raka mencium bibirnya.
"Ini bayarannya...berhati hatilah sayang." Ucap Raka dan Antika mengagguk.
Antika pun dengan tersenyum bahagia keluar dan langsung masuk kedalam mobil Arila yang sudah sedari tadi menunggu.
"Baik tuan muda." Jawab Jin kemudian pergi.
Di perjalanan. Arila memandang Antika yang terlihat bahagia sedangkan Aline fokus menyetir. Mata Arila membulat saat melihat leher Antika penuh dengan tanda merah.
"Ehem... Antika apa aku dan Aline akan menjadi bibi muda??" Tanya Arila dengan nada menggoda.
"Apa maksudmu??" Tanya Antika bingung.
"Lihat...(Memberikan handphonenya.) Banyak sekali stempel yang suamimu buat. Bukankah itu artinya aku dan Aline akan menjadi bibi muda." Goda Arila membuat Antika merona. Antika pun menarik syal milik Arila dan menggunakannya.
"Aku pinjam syalmu." Ucap Antika.
"Tidak masalah." Jawab Arila masih menggoda. Membuat Antika sejenak berpikir.
"Kau juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Kan beberapa hari lagi kau akan menikah dengan peria setampan Andian pasti kau diam diam menyukainya kan." Antika balik menggoda.
"Diam!" Ucap Arila membuat Antika tertawa.
"Kita sudah sampai apa kalian tidak mau keluar." Tanya Aline tanpa ekspreksi.
"Wah kita sudah sampai...ayo lama sekali tidak ke cafe ini bertiga." Jawab Antika bersemangat.
Mereka bertiga pun memasuki cafe dan duduk disebuah bangku pojok. Setelah memesan beberapa menu Arila dan Antika pun berbincang. Sedangkan Aline fokus membaca majalah.
"An bagaimana kau bisa mendapat izin dari suamimu??" Tanya Arila.
"Karena aku bilang padanya jika kita bisa melindungi diri." Jawab Antika.
"Aku tidak yakin." Ucap Aline tanpa ekspreksi.
"Y..ya meskipun aku—" Ucapan Antika terjeda.
"Nona ini pesanan anda. Selamat menikmati." Ucap pelayan membawa pesanan mereka.
"Aku ke kamar mandi sebentar." Pamit Aline.
"Baiklah." Jawab Antika dan Arila bersamaan.
Aline pun meletakan majalah nya dan menuju ke kamar mandi. Saat akan masuk ke kamar mandi dia melihat seorang gadis yang menangis sedang di tarik oleh seseorang.
Aline mengurungkan niatnya dan mendekati gadis yang sedang menangis dan tampak dipaksa peria itu.
"Hey kau!!!(Peria itu menatap Aline) Lepaskan dia." Ucap Aline.
Peria itu tidak mau melepas membuat Aline menarik tangan peria itu. Namun peria itu tampak menghindari serangannya. Peria itu sebenarnya hendak menenangkan gadis tadi.
"Cukup menarik." Ucap peria itumenyerngai.
"Apa kau bilang!!" Ucap Aline dan hendak memukul peria itu.
Namun dengan gesit peria itu menarik tangan Aline menekuk tangan kanannya. Aline tampak memberontak namun tak bisa. Peria itu pun mendekati daun telinga Aline.
"Kau menarik perhatianku." Ucap peria itu.
"Cih...lepaskan aku...menjijikan!!" Ucap Aline.
"Tuan lepaskan nona ini... Nona tuan ini menolongku dari para perampok tadi... Dan hendak mengantarku pulang ku rasa anda salah paham." Ucap gadis itu kemudian pergi.
Peria itu melepaskan Aline sedangkan Aline mengibas ibaskan tangannya kesakitan Dan memandang tajam peria itu.
"Dasar peria sialan!" Ucap Aline kemudian meninggalkan peria itu.
Peria itu tersenyum dan pergi dari tempat itu. Aline yang masih kesal kembali bergabung dengan kedua sahabatnya. Selesai menikmati hidangan.
Mereka pun ke taman kota tempat mereka biasa nongkrong. Mereka pun berbincang bincang meskipun Aline hanya merespon sedikit dari itu.
Tak terasa hari sudah gelap namun mereka masih menikmati kebersamaannya. Hingga *Tring!!!tring!!!* Handphone milik Antika berbunyi. Terpancar jelas nama orang yang menelfonnya.
"Aku angkat telefon sebentar." Pamit Antika.
📞
"Hallo." Ucap Antika.
"Sayang aku menjemputmu didepan." Jawab diseberang sana.
"Kau tau aku dimana?" Tanya Antika tak percaya.
"Di taman kota, kau ini istriku cepat aku lelah atau kau mau aku membuatmu lelah malam ini?" Jawab diseberang sana.
"Tidak...ma...maksudku aku akan datang." Ucap Antika.
"5 menit dari sekarang jika terlambat aku akan menghukummu."
*Tut.* Raka menutup telefonnya. Segeralah Antika menghampiri temannya dan berpamit. Akhirnya Arila dan Aline juga pamit setelah sadar hari semakin gelap.
Antika pun menghampiri Raka. Raka pun menatap Antika dan mendekatinya.
Gawat, aku hanya telat 1 menit bisakah dia memaafkanku? Batin Antika.
"Telat satu menit kau dihukum...ayo pulang." Ucap Raka dan Antika dengan patuh masuk kedalam mobil.
Di Markas.
Arion dan Kean memasuki markas dan tampak seorang peria duduk di kursi roda. Arion pun duduk di kursi dan melepat kedua tangannya didepan dada.
"Katakan siapa yang menyuruhmu membunuhku??" Ucap Arion dengan nada dingin.
"Apa keuntunganku mengatakan hal itu?" Tanya peria itu yang tidak lain Amar. Arion melirik ke arah Kean.
Kean pun mengagguk paham dan membisikan sesuatu pada anak buahnya. Tak berapa lama 3 koper besar jatuh dihadapan Amar. Dua koper berisi uang dan satu koper berisi emas batangan. Tentu membuat mata Amar berbinar.