Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 18 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di kampus


Alan sedang fokus mendata para siswa yang ikut serta mendaftarkan diri. Tentu banyak yang mendaftar mengingat kesempatan ini sangatlah langka. Bersama dengan Victor Clousen seniornya berada di ruang bagian kedisiplinan.


"Ada sekitar 76 siswa, 45 pria dan 31 wanita... Kau lanjutkan mendatanya, aku ada kelas saat jam kedua nanti giliranku." Ucap Victor. Tampak Alan meresponnya dengan menganggukan kepala. Tampak Victor pergi dari ruangan meninggalkan Alan sendirian.


Dasar cerewet! Batin Alan.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk." Ucap Alan. Saat itu tampak Machel datang.


"Wah benar benar fantastis, ku kira kau yang pergi." Ucap Machel sembari duduk didepan Alan.


"Kau tidak masuk kelas??" Tanya Alan masih fokus menulis.


"Oh ayolah... Aku merasa kasihan pada pria berkacamata itu, dia dibully hanya karena masuk lewat beasiswa... Benar benar kampus yang kejam." Jawab Machel. Tampak Alan menatap Machel sekilas.


"Dia siswa baru??" Tanya Alan.


"Yah kabarnya begitu, benar benar malang... Eh kau lihat Serly??" Tanya Machel.


"Bukankah kau yang sangat lengket dengannya." Jawab Alan kembali menulis.


"Hey apa maksudnya kau bicara begitu?!" Ucap Machel mengomel dengan rona diwajahnya.


"Sudahlah lupakan... Aku kembali ke ruangan ku bay." Ucap Machel kemudian pergi. Tampak Alan menatap telapak tangannya.


Tring!!!!


Bel istirahat berbunyi. Tampak Avindra keluar dari kelasnya bersama dengan Elliot. Tampak Elliot menahan amarah. Bagaimana bisa dosen diam saja saat Avindra dibully habis habisan di dalam kelas?


"Kita ke ruang inti bagian kedisiplinan." Ucap Avindra sembari menyeka darah yang keluar dibibirnya.


"Jangan bilang kau—"


"Ini kesempatan emas Ell, kau harusnya tau itu." Jawab Avindra sembari memakai kembali kacamatanya.


"Kau harusnya tau cara memakai kacamata yang benar." Ucap Elliot membuat Avindra tertawa.


"Yang benar saja... Bukankah aku terlihat tampan dengan begini??" Ucap Avindra dan hanya direspon gelengan kepala oleh Elliot.


"Hey cupu!!" Panggil Even membuat Elliot dan Avindra berhenti. Mereka pun berbalik perlahan.


"Wow dia babak belur, sepertinya dia sudah disambut lebih dulu sebelum kita." Ucap Even.


"Sebuah kehormatan presiden kampus menyambut kami." Ucap Avindra sembari tersenyum.


"Oh benarkah?? Gua udah membaca biodata lo, lo cuman siswa gak guna yang masuk lewat beasiswa, Ravindra Saputra." Ucap Even. Ya, Ravindra Saputra adalah nama samarannya. Tampak Even mendekat dan berbisik.


"Yang pasti, gua gak suka sama lo sejak gua lihat lo." Bisik Even.


Bughh!!!!


Satu pukulan mendarat pada punggung Even membuatnya tersungkur. Iya, bukan Avindra yang dipukul melainkan Even.


"Terima kasih sambutannya, tuan Even." Ucap Reanzo datar dan dingin.


"Even... Lo baik baik aja??" Tanya Geandra sembari membantu Even berdiri.


"Gua gak apa apa... Wah, baru pertama siswa bawahan kayak lo berani memukul gua." Jawab Even sembari menatap Reanzo.


"Haish, untung aja si Claude sibuk mengawasi CG... Baiklah... Gua yang bakalan sambut siswa baru ini." Ucap Geandra sembari mengepalkan tangannya.


Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!


Geandra dan Reanzo akhirnya berkelahi. Saat Elliot hendak memisahkan keduanya, Avindra menceghat dan menggelengkan kepalanya.


Haish, hari pertama yang sangat panjang. Batin Avindra sembari menatap Even yang menghusap punggungnya. Mungkin pukulan dari Reanzo masih sakit.


"Apa lo liat liat, cupu?!!" Kesal Even saat sadar Avindra melihatnya.


"Sepertinya punggung anda masih sakit." Ucap Avindra sembari menahan tawa.


"Dasar cup—" Ucap Even hendak memukul Avindra. Namun tangannya tertahan oleh tangan kekar Claude.


"Clau, apaan sih lepasin gak! Gua mau kasih pelajaran ke anak cupu ini." Kesal Even.


"Hei!" Panggil Alan datar. Belum Claude menjawab Alan lebih dulu membuka suara. Hal itu membuat Avindra Elliot dan Even menoleh ke arah Alan yang berjalan mendekat ke arah Reanzo dan Geandra.


Bugh!!! Bugh!!!


Reanzo dan Geandra sama sama tersungkur. Tapi Geandra tampak lebih parah lantaran dia terpental.


"Kalian berdua terlalu brisik! Mengganggu saja!" Ucap Alan dingin. Tentu para siswa yang melihat terkagum kagum.


Kemampuan bela diri macam apa itu?? Bahkan daddy gak ngajarin gua teknik itu?? Siapa sebenarnya manusia es itu?? Batin Claude terkejut.


"Hey Alan, Berani—"


"Keberatan?? Kau bisa menghadapiku sekarang." Ucap Alan memotong ucapan Geandra.


Tampak Geandra terdiam. Satu pukulan saja membuatnya tersungkur, bagaimana saat dia melawan Alan dan babak belur?? Bisa bisa karismanya hancur dihadapan para siswa. Alan pun berjalan dan masuk kembali kedalam ruang bagian kedisiplinan. Seperkian detik Elliot dan Avindra membantu Reanzo berdiri.


"Kakak kau baik baik saja??" Tanya Avindra.


"Aku tidak apa apa." Jawab Reanzo.


"Hey, urusan kita belum selesai ya... Awas aja!" Ancam Geandra dan mereka pun pergi.


"Sial!" Umpat Reanzo.


"Apa ada yang sakit lagi??" Tanya Elliot.


"Tidak ada... Pukulan dia tidak terlalu keras." Jawab Reanzo.


"Cukup aneh... Dia bisa saja memukul kakak lebih keras sampai terpental seperti Geandra... Tapi, pria itu tampak memberikan pukulan ringan padamu dan pukulan keras pada Geandra... Bisa dipastikan jika dia satu satunya siswa yang tidak takut dengan Even dan anak buahnya." Ucap Avindra.


"Kau benar Avindra, jika tidak salah dia anggota inti baru bagian kedisiplinan." Ucap Reanzo.


"Kakak es!!" Panggil Renafo. Dia memeluk Reanzo layaknya orang yang baru kehilangan.


"Berhenti memelukku, menjijikan." Ucap Reanzo sembari mendorong tubuh Renafo.


"Ayolah kak aku khawatir padamu... Gimana sih." Kesal Renafo. Avindra merangkul leher Renafo dan mencubit pipi kakak sepupunya itu.


"Hahaha... Kakak seperti tidak tau saja sikap saudara kembarmu itu." Ucap Avindra.


"Ayo Elliot, kita lanjutkan niat kita tadi." Ucap Avindra dan direspon anggukan oleh Elliot.


"Kau mau kemana??" Tanya Renafo.


"Bekerja sama dengan singa." Jawab Avindra kemudian pergi.


"Apa maksud dari bocah itu??" Tanya Renafo bingung.


Jangan bilang jika Avindra akan bergabung ke CG... Aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikirannya. Batin Reanzo.


Di Ruangan Even


Even mendudukan Geandra pada sofa empuk disana. Even memanggil Serly untuk mengobati luka kecil Geandra. Sembari menunggu, tampak Even duduk disamping Claude yang sedari tadi terdiam.


"Lo kenapa??" Tanya Even.


"Gak apa apa, bisa bisanya lo kalah dari siswa baru itu Gean?? Benar benar membuat malu." Jawab Claude sembari menatap Geandra.


"Ya sorry, ini juga salahnya si manusia es... Mana pukulannya keras banget lagi." Ucap Geandra sembari memegangi lengannya.


"Udah gak usah mikirin tuh orang... Bentar lagi jadwal kampus ini akan sangat padat... Dan 6 bulan lagi kampus ini akan menjadi kampus International, kita pasti mendapatkan keuntungan besar karena itu." Ucap Even sembari tersenyum miring.


"Dan geng gua akhirnya bebas operasi di negara ini." Timpal Claude.


"Tentu saja sobat." Jawab Even merangkul leher sahabatnya.


Tok. Tok. Tok.


"Masuklah Serly." Ucap Even. Tampak Serly masuk dengan membawa kotak P3K. Dan bergegas Serly duduk disamping Geandra kemudian mulai mengobatinya.


"Wow Serly, lo hebat dalam hal mengobati... Pantesan aja lo dibagian kesehatan." Puji Geandra.


"Terima kasih." Jawab Serly sembari tersenyum membuat Geandra merona.


Cantik sekali, gua pengen nikahin dia. Batin Geandra.


"Hey Gean, jaga mata lo... Gua colok baru tau." Ucap Even tak suka saat Serly tersenyum pada Geandra.


"Ya elah sama temen sendiri juga... Lagian gua gak tertarik kok ama dia tenang aja." Ucap Geandra menyakinkan. Setelah selesai mengobati Serly pun mengemasi peralatannya dan hendak pergi. Dia benar benar muak berhadapan dengan Even.


"Tunggu." Ucap Even.


"Iya, anda memerlukan sesuatu??" Tanya Serly. Tampak Even tersenyum dan mendekat pada Serly.


"Pekan depan hari libur, gimana kalo kita.... (Berbisik di telinga Serly.) Pergi berkencan." Ucap Even. Dan saat Even membelai wajah Serly, Serly lagi lagi mengelak.


"Sa... Saya mengerti, permisi." Ucap Serly kemudian buru buru pergi.


Pengen banget gua c*um lehernya... Wangi banget. Batin Even yang baru mengaggumi seorang wanita.


"Ih jijik banget sih." Gerutu Serly begitu keluar dari ruangan Even.


Kalo aja bukan karena Alan, males banget aku jadi asisten pria m*sum kayak dia. Batin Serly.


Brukh!!!


Serly menabrak seseorang lantaran dia sibuk menggerutu.


"Astaga sinbet (Singa betina ya yang dimaksud Machel, wkwkwk)... Kemana saja kau?" Ucap Machel.


"Hih, kamu lagi gonar(Gorila narsis wkwkwk)... Ngapain tabrak tabrak sakit tau... Gak tau apa lagi kesel." Omel Serly.


"Lah kok kamu yang marah?? Kan kamu yang nabrak gimana sih." Protes Machel. Tampak dia menatap barang yang Serly bawa tidak lain P3K.


"Kamu habis dari mana??" Tanya Machel.


"Dari ruangan si m*sum—" Jawab Serly terjeda lantaran Machel mengarahkan jari telunjuknya pada bibirnya.


"Sttt... Kebiasaan sih kamu sinbet, gak lihat sikon... (Situasi dan kondisi ya, kali aja ada yang gak tau wkwkwk.) Kalau ada yang denger gimana??" Ucap Machel. Mata kebiruan milik Machel menatap dalam mata hitam lekat milik Serly.


"Ciee lihat lihat... Baru sadar ya aku ganteng." Ucap Machel. Serly yang kesal pun menggigit jari telunjuk Machel.


"Aaaawww... Sakit sinbet." Rintih Machel sembari mengibaskan tangannya.


"Dih narsis, dasar gonar." Ucap Serly kemudian pergi.


"Sinbet tunggu!!" Ucap Machel mengejar Serly.


Sedangkan dengan Avindra


Dia menemui Alan yang sedang duduk di bangku taman sendirian. Setelah mendaftarkan diri Avindra dengan berani menemui Alan. Taman yang letaknya di depan perpustakaan itu lebih sepi dan tidak banyak siswa disana.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan, tuan muda Anvert." Ucap Alan membuat Avindra berhenti.


Tentu Avindra terkejut, bagaimana bisa Alan mengetahui identitasnya sedangkan dia sendiri tidak mengenal Alan. Tapi Avindra bersikap biasa biasa saja dan membuka kacamatanya.


"Yah, entah darimana kau tau identitasku yang pasti aku yakin kau tidak akan membongkar tentang hal itu." Ucap Avindra sembari berjalan mendekat. Tampak Alan berdiri, dia pun membalikan badannya dan menatap Avindra.


"Oh." Ucap Alan.


"Astaga, kau lebih dingin dari kakakku... (Avindra duduk dibangku taman.) Jika kau membongkar identitasku boleh saja... Tapi bisa ku tebak tujuan utama kau masuk kedalam kampus ini." Ucap Avindra sembari menatap Alan yang tengah menatapnya.


"Tidak lain karena, kau ingin menggusur kampus ini." Tebak Avindra. Dan Alan tau jika itu kode dari Avindra untuk bekerja sama dengannya. Sifat Alan yang sulit didekati tentu paham akan hal itu


"Aku tidak tertarik." Jawab Alan kemudian beranjak pergi. Avindra tersenyum dan bangkit dari duduknya kemudian memakai kacamatanya.


"Tidak masalah... Tapi apa kau pria yang menyelamatkan adikku??" Tanya Avindra. Alan berhenti melangkah dan menatap Avindra yang tersenyum menatapnya.