Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 17 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Keesokan Harinya


Setelah libur panjang, akhirnya kampus Arumettra Bangsa kembali dibuka. Tentu dengan siswa/siswi baru disana. Dan hari pertama untuk Avindra bersama teman temannya memulai misi mereka. Jas dengan logo AB itu melekat sempurna di tubuh Avindra. Avindra menatap dirinya dari pantulan cermin. Avindra pun memakai kacamata layaknya siswa cupu.


"Avindra ayo berangkat." Ucap Renafo sembari melepas arloji yang biasa dia gunakan. Avindra pun mengambil tasnya.


"Ayo." Ucap Avindra.


Mereka berdua pun keluar dan melihat yang lainnya sudah siap berangkat. Jarak kampus dengan Vila hanya sekitar beberapa meter cukup untuk mereka berjalan kaki. Dengan waktu kurang lebih 10 menit sudah sampai.


Sesampainya disana


Tampak mereka kagum dengan dekorasi kampus yang tak kalah mewah dengan kampus luar. Tapi tetap saja, kebenaran akan berdirinya kampus itu harus terungkap. Terungkap dengan misi yang menghasilkan bukti. Mereka pun masuk dan begitu masuk terdengar hiruk piuk dari perbincangan para siswa baru itu. Avindra dan lainnya pun memilih untuk duduk digazebo.



(Visual kampus Arumettra Bangsa.)


"Kita dijurusan yang sama??" Tanya Renafo.


"Di kampus ini kelas dibedakan dengan derajat... Kelas pertama untuk yang memiliki pengaruh ditiap tiap negara, mengingat kampus ini terdaftar dalam 10 kampus besar didunia pasti merengkut orang yang memiliki pengaruh besar dinegara mereka masing masing." Jawab Avindra.


"Jangan bilang kita di—"


"Kelas beasiswa atau kelas keempat." Ucap Elliot membuat Renafo membeku.


Yang benar saja. Batin Renafo.


"Kak kita ke Aula sekarang??" Tanya Rian.


"Kita tunggu arahannya, dan iya kita jangan bergerombol... Lakukan sesuai rencana." Jawab Avindra. Mereka pun menganggukan kepala mengerti. Renafo bersama dengan Reanzo, Rian bersama dengan Leon, dan Avindra bersama dengan Elliot.


"Ell apa kau melihat ada cctv disetiap sudut??" Bisik Avindra. Tampak Elliot mengarahkan bola matanya melihat setiap sudut kampus. Mata Elliot terbelak saat yang dia lihat tidak seperti yang dia harapkan. Setiap sudut, tidak setiap sisi kampus itu terdapat cctv.


"Yah sepertinya tidak sesuai dengan yang kita pikirkan... Lihat baik baik Ell... (Elliot kembali melihatnya.) Emm, menurutku cctv itu sekitar lebih dari 20... Bagian selatan, timur, utara, dan barat... Dan sialnya cctv yang mampu menjangkau dengan gerakan 90°... Sudah pasti cctv itu rancangan tuan Jovirzo... Fantastis." Ucap Avindra.


Dan Elliot tidak terkejut dengan bakat Avindra yang sangat mengejutkan. Padahal Avindra hanya melihat sekilas benar benar mengejutkan.


"Woi anak baru." Ucap seseorang membuat Avindra dan Elliot menoleh.


Tampak 2 orang pria itu mendekat. Terdapat nickname disebelah kanan dada jasnya. Pria bertubuh pendek itu bernama Kio Amarda, dan pria bertubuh tinggi sembari membawa barkas itu bernama Paul Gorman. Dan dibawah nickname mereka terdapat tulisan “Bagian keamanan.”


Sepertinya mereka anggota inti CG bagian keamanan... Menarik. Batin Avindra.


"Lagi lagi cowok cupu... Astaga benar benar sial, kalian berdua berkumpul di aula sekarang! Ayo Ki, kita ke bagian gerbang utama." Ucap Paul.


"Tunggu kak... Dimana aula kampus berada??" Tanya Avindra.


"Hey apa lo juling?? Lo lihat itu... (Menujuk ke arah aula.) Aula sebesar itu aja lo nggak lihat, gimana kalo ke kelas lo?! Hahahaha." Ejek Kio dan keduanya pun tertawa.


"Kau lupa Ki, mereka sepertinya dari kalangan bawah... Maklum saja jika mereka bertanya, takut tersesat hahaha." Ejek Paul. Yang benar saja, baru masuk kampus saja sudah dihina. Bagaimana kedepannya?? Entahlah hanya Allah dan adek yang tau wkwkwk, oke skip.


"Kalian—" Geram Elliot hendak memukul Paul dan Kio. Namun Avindra menceghat. Mereka berdua pun memilih meninggalkan dua pria itu yang masih tertawa layaknya orang gil*.


"Kampus macam apa ini?!! Benar benar sial!" Umpat Elliot.


"Anggap saja itu alasan kenapa aku bersikeras menggusur kampus ini." Ucap Avindra. Mereka berdua pun masuk ke aula dan tampak semuanya sudah baris rapi. Avindra dan Elliot pun mengambil barisan belakang.


Hahaha lihat pria itu... Masih saja ada pria bermata empat.


Iya dasar cupu.


Benar benar rakyat jelata.


Bla... Bla... dan bla. Begitulah ocehan para siswa baru yang berada dikalangan atas yang tidak tau siapa pria dibalik kacamata itu. Saat para dosen presiden kampus yang tidak lain Even datang semuanya terdiam.


"Wah seketika terdiam... Salam dariku Even Fermansyah Presiden kampus ini, perlu aku sampaikan untuk kalian... (Menujuk ke setiap siswa.) Para siswa baru, bahwa kalian harus menghormati senior dan para anggota CG tentunya... Dan bagi kalian yang menentang hal ini, jangan salahkan mereka saat bertindak... Mungkin itu saja kata sambutan dariku, Yang berkuasa yang memiliki Tahta. Ingat itu baik baik." Ucap Even dengan senyuman sombongnya.


Dasar Titan! Umpat Renafo.


Tersenyumlah putra Ferdi!!! Tapi anggap saja itu senyuman menyambut kematian. Batin Reanzo sembari mengepalkan tangannya erat.


"Dan sungguh kebetulan, bagian inti keamanan, kedisiplinan, dan keterampilan di CG membutuhkan 1 anggota baru... Anggota yang beruntung kami rengkut kali ini adalah yang lulus test." Ucap Claude membuat Even terkejut.


"Untuk test akan dilakukan diruang terbuka tepatnya di lapangan bagian utara kampus... Dan bagi kalian yang memiliki minat, bisa mengisi daftar pada anggota inti yang bersangkutan... Bagian keamanan, Sorya Arghata dan Louis Smith... Bagian keterampilan Megan Rosmalia dan Machel Alfie... Dan bagian kedisiplinan Victor Clousen dan Alandra Zaials.... Itu saja sambutan manis dari kami.... Kalian bisa ke kelas masing masing." Jelas Claude.


"Baik!!!" Jawab mereka serentak. Setelah mereka pergi tampak Even mendekati Claude.


"Hey, apa ini?? Sambutan manis pala lo??!" Kesal Geandra.


"Hey Gean, sudahlah sepertinya Claude memiliki rencana." Ucap Even.


"Gak tau kenapa, gua ngrasa siswa baru ini akan membawa sesuatu yang besar." Ucap Claude. Mendengar hal itu pun membuat Even mendekat.


"Maksud lo??" Tanya Even membuat Claude tersentak.


"Gak apa apa." Jawab Claude kemudian pergi.


"Si Clau aneh banget dah, apa dia punya masalah di gengnya??" Ucap Geandra.


"Dia aneh sejak manusia es itu datang... Apa dia benar benar ancaman??" Tanya Even. Tampak Geandra tertawa terbahak bahak.


"Hahaha... Kalian aneh ya, jangan bilang lo takut ama ntu manusia." Ejek Geandra.


Di Vila


Arisa sedang mempelajari semua materi yang Lista berikan dengan Antia yang mendampinginya. Untuk 1 bulan penuh, Arisa harus belajar di rumah. Mengingat kakinya yang belum membaik. Dan bertepatan dengan itu, Antika dan Raka datang menjenguk.


"Hallo baby." Sapa Raka. Arisa yang tadinya fokus membaca pun teralihkan.


"Uncle, aunty." Ucap Arisa sembari tersenyum lebar.


"Kakak kalian datang." Ucap Antia.


"Oh tentu saja, keponakan tersayangku sakit bagaimana bisa aku tidak datang?" Ucap Raka sembari duduk disamping Arisa.


"Jadi baby, apa yang sedang kamu lakukan??" Ucap Raka.


"Mempelajari materi, aku harus belajar di rumah... Benar benar membosankan." Ucap Arisa cemberut.


Ctakk!


Raka menyentil kening Arisa.


"Uncle!" Kesal Arisa sembari menghusap keningnya.


"Haha... Masih marah ternyata, kenapa tidak meminta ayahmu agar kamu tetap masuk sekolah?" Ucap Raka.


"Bunda tidak mengizinkan." Jawab Arisa cemberut.


"Malang sekali, kenapa bisa begini?? Kakakmu bilang kamu nakal, benar begitu baby??" Tanya Raka.


"Tidak uncle... Jadi begini••" Ucap Arisa menjelaskan kejadian tersebut. Sedangkan dengan Antia tengah berbincang dengan Antika.


"Delvin belum kembali?" Tanya Antia.


"Belum, dia bilang akan kembali beberapa bulan lagi... Dia sangat keras kepala." Jawab Antika kesal.


"Hahaha... Kelihatannya kau kesal kak, dia masih bermain wanita?? Ke club??" Tanya Antia.


"Itu yang membuatku kesal, sifat ayahnya melekat padanya..." Jawab Antika.


"Ya Avindra juga sama kak, anehnya dia tidak menuruni sifatku maupun suamiku." Ucap Antia sembari mengingat Avindra kecil.


"Saat kecil dia sangat susah ditebak... Disetiap tindakannya pasti ada sesuatu yang mengejutkan... Bahkan suamiku tidak bisa menebak gerak geriknya, dia bertindak sesuai kehendaknya." Ucap Antia.


"Kau benar, lalu dimana Avindra?? Aku merindukannya." Ucap Antika.


"Dia—"


"Sayang." Panggil Arion. Antia dan Antika pun menoleh ke arah Arion yang berjalan mendekat.


"Wah ada kakak ipar juga." Ucap Arion.


"Yah, Raka bersikeras kemari dia bilang ingin melihat keadaan keponakan tersayangnya itu." Ucap Antika.


"Hey sayang, aku mendengarnya." Ucap Raka tanpa menoleh sang istri.


"Benar benar tidak kenal umur." Ucap Arion sembari duduk disamping Antia.


"Arion!" Ucap Raka membuat lainnya tertawa kecil.


"Ini baru jam makan siang, kamu sudah pulang." Ucap Antia.


"Aku mekhawatirkan Arisa, bagaimana jika dia memanjat tembok dan kabur untuk menemukan kakak penyelamatnya itu." Ucap Arion mengejek.


"Ayah!! Kakiku masih sakit bagaimana aku bisa memanjat?!" Kesal Arisa.


"Ayah hanya bercanda sayang." Ucap Arion.


"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Antia kemudian pergi.


"Kau lihat baby?? Ayahmu tidak kenal umur... Mandi saja harus disiapkan air hangat oleh bundamu." Ucap Raka.


"Ayah memang begitu uncle... Uncle tau, semalam ayah merengek seperti anak kecil... Itu karena bunda ingin tidur denganku." Jawab Arisa sembari tertawa kecil.


"Arisa kamu membicarakan ayah??" Ucap Arion sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Ah tidak, aku membicarakan kak Delvin... Bukan begitu uncle??" Ucap Arisa. Arion memberikan cubitan dipipi putrinya.


"Bohongnya kelihatan... Ayah mandi dulu, kak aku titip Arisa." Ucap Arion.


"Tidak masalah." Jawab Raka. Arion pun pergi dari kamar Arisa.


"Kenapa cemberut baby??" Tanya Raka saat melihat raut wajah Arisa yang tampak murung.


"Arisa pasti merasa bosan karena belajar di rumah." Jawab Antika sembari duduk disamping kiri Arisa.


"Benar begitu baby??" Tanya Raka. Tampak Arisa menggeleng.


"Bukan, karena kakak pergi semalam... Dia lanjut kuliah." Ucap Arisa. Mendengar hal itu tampak Raka tertawa.


"Hahaha... Dia masih melanjutkan kuliahnya setelah gelar MBA?? Kakakmu memang aneh baby." Ucap Raka.


"Ya dia bilang ingin membuatku bangga dengan meraih banyak prestasi... Padahal aku merindukannya." Ucap Arisa sembari menunduk.


"Oh baby jangan sedih... Uncle mu yang tampan ini ada bersamamu." Ucap Raka tak hilang dari sifat narsisnya.


"Tampan dari mana, sudah tua tidak kenal umur." Ucap Antika.


"Oh benarkah?? Lalu kenapa kau selalu memanggil namaku disetiap malam sayang." Ucap Raka membuat Antika melotot.


"Memang kenapa aunty memanggil uncle??" Tanya Arisa polos.


"Karena uncle mu itu selalu memukuli aunty dimalam hari." Jawab Antika dengan entengnya.


"Sayang." Rengek Raka membuat Antika tertawa kecil.