Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 54



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Raka pun mulai memakai celemek hello kitty favoritnya. Melihat hal itu membuat Antika tertawa kecil. Raka pun mulai berkutat didapur dan tentu diperhatikan oleh Antika. Ketampanan Raka meningkat saat dia fokus memasak. Membuat Antika tersenyum dan menghusap perutnya yang masih rata.


"Bukankah papa kamu sangat tampan dan hebat?" Lirih Antika.


Beberapa saat kemudian Raka membawa sepiring nasi goreng dan memberikannya pada Antika. Tampak Antika tersenyum bahagia dan langsung memakannya tanpa ragu. Raka pun melepas celemeknya sebelum akhirnya duduk disamping Antika.


Raka memandang Antika yang dengan lahap memakannya. Raka pun menyelipkan rambut panjang Antika ke telinga dan mencium pipinya.


"Pelan pelan sayang nanti kamu bisa tersedak." Ucap Raka.


"Ini sangat enak... Kamu mau??" Ucap Antika sembari menyondorkan nasi goreng disendoknya.


Raka tersenyum melihat Antika sedikit belepotan. Tidak seperti biasanya sangat rapi saat makan. Bukannya menerima suapan dari Antika, Raka justru mencium bibir Antika dan merasakan nasi goreng dari bibir istrinya itu.


"Iya, ini sangat enak." Ucap Raka sembari tersenyum.


"Kamu sangat menyebalkan." Ucap Antika memanyunkan bibirnya.


"Maaf... Maaf makan sampai kenyang aku tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Raka.


Antika pun kembali melahap nasi gorengnya. Sedangkan Raka hanya memandang Antika yang dengan lahap memakan nasi goreng buatannya.


Apa anak ku kelak akan menuruni sifat ku?? Tidak, jangan untuk sifat bejat ku. Batin Raka.


Sedangkan dengan Andian


Mobil yang mereka kendarai kini memasuki halaman mewah di tengah pegunungan. Karena perjalanan nya yang cukup memakan waktu membuat Arila tertidur. Dan tanpa dia sadar, Arila tertidur bersandar dibahu kekar Andian.


"Tuan muda kita sudah sampai. Saya akan menjemput anda minggu depan." Ucap Dev.


"Aku mengerti Dev... Arila... Arila bangun." Ucap Andian berusaha membangunkan Arila.


Namun Arila hanya menggeliat dan tidak kunjung bangun. Membuat Andian menghela napas panjang.


"Tuan muda perlu bantuan??" Tawar Dev.


"Buka kan pintu mobilnya... Sepertinya dia terlelap." Ucap Andian.


"Baik tuan muda." Jawab Dev.


Dev pun membukakan pintu mobilnya. Andian pun keluar dengan menggendong Arila ala bridal style.


"Tuan muda saya pamit." Pamit Dev dan diangguki oleh Andian.


Andian pun memasuki Vila mewah itu. Tampak dua orang pelayan menyambutnya. Andian mengerutkan keningnya bingung karena biasanya Renia memiliki pelayan lebih dari 9 orang.


"Mari saya antar anda ke kamar tuan." Ucap pelayan mengarahkan.


Andian hanya mengikuti arahan pelayan tersebut. Sesampainya di depan pintu sebuah kamar, pelayan tadi pamit undur diri. Melihat sikap pelayan tadi membuat Andian terheran.


Andian pun membuka pintu kamarnya. Sedikit kesusahan lantaran Andian masih menggendong Arila. *Cklek!!!* Pintu kamarnya terbuka perlahan.


Mata Andian terbelak begitu melihat ranjang berukuran king size dengan sprai dan selambu putih dipenuhi kelopak mawar merah. Bahkan Andian sendiri bisa mencium harumnya mawar itu. Dekorasinya di buat seakan untuk pengantin baru.


Andian perlahan membaringkan tubuh Arila diatas ranjang yang penuh dengan taburan mawar merah. Sesaat setelah Andian membaringkan Arila, Andian memandang lekat wajah cantik Arila yang tampak damai saat tidur.


Tangan Andian seolah tergerak sendiri, rasanya seperti ada magnet yang membuat tangannya tergerak membelai wajah cantik Arila. Arila merasa ada pergerakan membuat Arila menggeliat. Andian tersenyum melihat wajah Arila yang tampak lucu di matanya.


Sadar akan yang dia lakukan, Andian kembali memasang wajah datarnya. Andian pun mengambil handuk dari dalam lemari, dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian Arila membuka matanya perlahan. Matanya langsung terbelak saat melihat dekorasi kamarnya. Arila pun bangun dan duduk dibibir ranjang. Arila menundukan kepala melihat kondisi pakaiannya.


Syukurlah masih lengkap, bukankah tadi aku tertidur didalam mobil, kenapa tiba tiba disini apa tameng es yang membawa ku kemari?? Ah, itu tidak mungkin... Batin Arila bernapas lega melihat pakaiannya masih lengkap.


Arila bangkit dari duduknya dan menuju ke lemari hendak mencari handuk juga beberapa pakaian ganti. Perlahan pintu lemarinya terbuka. Mata Arila terbelak saat melihat berbagai macam jenis lingerie tertata rapi didalamnya.


"Kenapa pakaiannya ini semua??" Lirih Arila.


"Pakaian apa??" Tanya Andian begitu keluar dari dalam kamar mandi.


Arila terkejut dan langsung menutup pintu lemarinya. Membuat Andian penasaran dan mendekat. Saat Andian hendak membuka pintu lemarinya, Arila menceghat membuat kening Andian berkerut.


"Ada apa?? Apa yang kau sembunyikan dariku??" Tanya Andian.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, minggir." Ucap Andian namun lagi lagi Arila masih tetap diposisi.


"Minggir." Ucap Andian menatap Arila dan berjalan mendekati Arila.


"Tidak mau." Jawab Arila sembari memundurkan tubuhnya.


"Tidak mau minggir??(Arila menggeleng kepala kuat.) Sepertinya harus dengan kekerasan ya." Ucap Andian.


Saat Andian menarik tangan Arila, tetesan air dari rambut nya yang basah membuatnya terpeleset. Alhasil, Arila ikut tertarik dan menundungi tubuh Andian. *Brukk!!* Arila terjatuh tepat diatas tubuh Andian. Arila dan Andian pun perlahan membuka matanya perlahan. Tampak kedua maniak mereka beradu. Cukup lama mereka saling pandang sampai akhirnya Andian mengedipkan matanya.


"Mau sampai kapan kau diatas ku??" Tanya Andian dengan nada terdengar sedikit menggoda.


Arila membelakan matanya dan langsung bangkit dari posisinya. Arila memalingkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Andian menggeleng kepala pelan dan saat itu lah kesempatan untuk Andian membuka lemarinya. Saat Arila hendak menceghat, Andian sudah lebih dulu membuka pintu lemarinya. Andian mengerutkan keningnya begitu melihat isi dari lemari tersebut.


Bibi Renia benar benar berlebihan, ini sama saja Arila tidak menggunakan pakaian. Aku harus menelfon Gian untuk mengirim pakaian Arila besok pagi. Batin Andian.


"Ternyata hanya pakaian seperti ini, kenapa kau perlu menutup nutupinya dariku??" Tanya Andian menatap membuat Arila memalingkan wajahnya.


"Malam ini pakai dulu pakaiannya, besok pagi Gian akan mengantarkan pakaian untukmu... Dan satu hal lagi aku tidak akan tergoda olehmu bahkan jika kau telanjang bulat sekaligus." Timpal Andian.


"Siapa yang ingin menggodamu?" Ucap Arila dengan sangat lirih.


Namun telinga tajam milik Andian mendengarnya.


"Apa kau bilang??" Ucap Andian.


"Ti...tidak...aku tidak bilang apapun, aku mandi dulu." Ucap Arila buru buru memasuki kamar mandi setelah menyambar salah satu lingerie dan handuk.


Andian hanya menggeleng kepala pelan kemudian mengambil pakaiannya dan menuju ke walk in closet. Beberapa saat kemudian Andian keluar dengan jubah tidurnya.


Merasa bosan Andian pun duduk dibibir ranjang. Namun sebelum itu, Andian menyingkirkan taburan mawar merah yang membuatnya risih. Setelah itu Andian pun menyalakan handphonenya dan mengirim pesan pada Gian mengenai pakaian Arila.


"Kamar ini membuat ku risih, aku akan keluar dan mencari kamar kosong untukku tidur nanti." Lirih Andian kemudian bangun dari duduknya dan keluar dari kamarnya.


Di luar Andian melihat suasana Vila sepi. Dua pelayan tadi tampak tengah membereskan ruang tengah. Andian pun menuju ke kamar sebelah. Namun, pintu kamarnya terkunci membuat Andian jengah dan memanggil salah satu pelayan.


"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu??" Tanya salah satu pelayan begitu mendekat.


"Mana kunci kamar ini?? Aku tidak terbiasa tidur di kamar seperti itu." Ucap Andian.


"Maaf tuan muda, kemarin nyonya Renia sudah menggembok semua kamar dari dalam... Baik kamar tamu dan kamar pelayan tuan... Saya juga tidur berdua dengannya tuan." Jelas pelayan itu sembari menujuk temannya.


"Bibi ini terlalu berlebihan. Baiklah..... Kau bisa kembali bekerja." Ucap Andian.


"Baik tuan muda, saya permisi." Pamit pelayan itu kemudian pergi.


Dengan menghela napas panjang, Andian kembali menuju ke kamarnya. *Cklek!!!* Pintu kamarnya perlahan terbuka. Mata Andian terbelak saat melihat Arila tampak lebih terbuka dari biasanya.


Dan untuk pertama kalinya Andian merasa detak jantungnya lebih cepat dari biasanya. Saat Arila berbalik menatap Andian, Andian berupanya bersikap senetral mungkin. Arila hanya memalingkan wajahnya menahan malu.


"Sekarang sudah malam, seperti biasa kau tidur diranjang aku akan tidur sofa." Ucap Andian.


"Tapi tidak ada sofa disini." Ucap Arila lirih membuat Andian membeku.


Jika aku tau akan seperti ini, aku pasti akan menginap dihotel saja. Batin Andian merasa menyesal menerima tawaran bibinya.


"Aku akan tidur dilantai." Ucap Arila.


"Tidak perlu, malam ini kita berbagi ranjang saja. Jangan khawatir aku tidak akan menyentuhmu." Ucap Andian.


"Em... Ba... Baiklah." Jawab Arila.


Andian dan Arila pun merebahkan diri mereka diatas ranjang berukuran king size itu dibatasi bantal oleh Arila. Mereka pun memejamkan matanya dan perlahan mereka terlelap.


Di Kediaman Renzo


Renzo memakirkan mobilnya dihalaman rumahnya. Renzo pun masuk ke rumahnya lewat pintu belakang. Renzo bernapas lega begitu ruang tengah dan ruang keluarga sepi juga lampunya dimatikan.


Aman, mommy pasti sudah tidur. Jika tidak, dia pasti akan membahas taruhannya. Batin Renzo bernapas lega.


Dengan langkah pelan layaknya pencuri Renzo pun menaiki tangga hendak ke kamarnya. *Cklekk!!* Tiba tiba ruangan terang. Renzo pun mematung dan perlahan berbalik. Tampak Renia menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Mana pacar kamu??" Tanya Renia. Renzo pun tersenyum paksa dan merangkul lengan Renia.


Habislah aku, jalankan mengajaknya kemari menggegam tangannya saja sangat mustahil. Batin Renzo.