Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
ALFAREZI RACHMAN [AR.c]



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


•Satu Minggu kemudian


Ardika tak henti hentinya menangis kala Alita tiba tiba saja tidak sadarkan diri. Yang mana membuat Avindra dan Arisa bergegas pulang dari kantor. Tentu Antia menghubungi dokter untuk memeriksa Alita.


"Ardika—"


"Aunty... Hiks... Hiks... Bu... Bunda pincan." Ucap Ardika sembari menangis dipelukan Arisa.


"Tenang sayang... Bunda, kenapa kakak ipar tiba tiba pinsan??" Tanya Arisa.


"Alita mengeluh sakit kepala... Dan dia pinsan setelah memakaikan baju untuk Ardika." Jawab Antia. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Alita. Beberapa saat kemudian, Alita pun sadar dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


"Jadi dokter, istriku sakit apa??" Tanya Avindra sedikit khawatir.


"Tenang tuan, nona hanya mengalami mual dan pusing saja... Itu kerap terjadi pada wanita hamil muda." Jawab sang dokter membuat Avindra Arisa dan kedua orang tuanya tersenyum bahagia.


"Jadi kakak ipar hamil?? Aaaa!! Aku akan mendapatkan keponakan lagi!!" Ucap Arisa tersenyum girang sembari memeluk erat Ardika.


"Saya sudah siapkan vitamin penguat kandungan... Diminum 2 kali sehari, saya pamit... Mari tuan, nyonya." Pamit sang dokter kemudian pergi. Avindra memeluk Alita dan berkali kali memberikannya ciuman di kening dan pipi sang istri.


"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia... Kita akan mendapatkan seorang anak lagi." Ucap Avindra dengan wajah penuh kegembiraan.


"Iya mas." Jawab Alita sembari menghusap perutnya yang masih rata. Beralih Antia dan Arisa memeluk Alita penuh kebahagiaan. Dan jangan lupakan pangeran kecil. Siapa lagi kalau bukan Ardika.


"Jadi, Aldika bakalan punya dedek bayi?? Asikkk!!!" Ucap Ardika dengan lancar mengucapkan huruf S.


"Wah son! Saking bahagianya, kamu bisa mengucapkan S dengan benar." Puji Avindra. Ardika tak merespon dan memilih menciumi perut rata Alita membuat lainnya tertawa geli.


"Tapi... Ntal kalo ada dedek, bunda sama papa bakalan tetep sayang kan ke Aldika??" Ucap Ardika sembari menatap mata sang bunda. Yang mana membuat Alita gemas dan menangkup wajah tampan putranya.


"Bunda, ayah... Oma, opa dan aunty bakalan tetep sayang ke Ardika... Karena Ardika pangeran di Vila ini... Pangeran Vila Anvert." Ucap Alita membuat Ardika tersenyum dan memeluk sang ibu lagi.


"Wah ada kabar apa ini??" Ucap Rian yang tiba tiba nongol seperti jalangkung.


"Astghafirullah dasar bocah! Ucapkan salam lebih dulu!" Ucap Arion sembari menjewer kecil telinga Rian.


"Aduh... Aduh... Maaf om, Assalamualaikum." Ucap Rian.


"Walaikumsalam, itu baru benar." Ucap Avindra.


"Kak Rian tumben kesini??" Tanya Arisa.


"Mau ngelamar kamu... (Arion dan Avindra melotot.) Bercanda, kak Avin sama om Arion biasa aja kali." Jawab Rian. Yang mana membuat Arisa tertawa kecil sedangkan Antia dan Alita hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap kedua suaminya. Saat itu tampak Rian memberikan sebuah undangan.


"Ini." Ucap Rian sembari menyondorkan benda berwarna hitam. Dengan cekatan Avindra menerimanya lebih dulu.



(Sebelum dibuka👆🏻)



(Setelah dibuka👆🏻.)


"Kukira hadiah ternyata undangan pernikahan... Alandra Putra Alison dengan Felicia Abraska." Ucap Avindra dengan membelakan matanya.


Deg.


Detak jantung Arisa serasa berhenti berdetak. Sudah satu minggu tak berjumpa dia menyebarkan undangan pernikahan, sangat menyakitkan bukan?? Avindra menatap sang adik yang tampak menundukan pandangannya.


"Dan kak Alan berharap kalian semua datang di acara pernikahannya." Ucap Rian lirih karena merasa tak enak dengan Arisa.


"Tenang saja kak, kami semua akan datang." Jawab Arisa sembari tersenyum.


"Ba... Baiklah, kalau begitu aku pamit... Masih ada beberapa yang perlu ku sebar... Assalamualaikum." Pamit Rian.


"Walaikumsalam." Jawab mereka.


"Uncle tampan akan menikah??" Tanya Ardika.


"Iya sayang, jadi... Ayo kita telefon om Xelzo untuk memilihkan jas dan gaun untuk keluarga kita." Ucap Arisa yang mana membuat Ardika bersemangat.


"Ayo aunty!!" Ucap Ardika berhamburan memeluk Arisa.


"Boleh kan bund??" Tanya Arisa dan Ardika bersamaan.


"Boleh." Jawab Antia dan Alita. Arisa pun membawa Ardika pergi sedangkan Avindra tampak menatap undangan itu penuh benci.


"Sudahlah Avindra... Jangan begitu, jika memang Arisa ditakdirkan bersama Alan... Allah pasti akan menyatukan mereka berdua." Ucap Arion.


"Toh sepertinya Arisa sudah melupakan Alan." Timpal Antia.


"Tapi bund—"


"Mas." Ucap Alita sembari menggegam tangan Avindra. Avindra menghela napas panjang dan mencium kening Alita guna meredakan emosinya.


"Baiklah, kita akan hadir disana." Ucap Avindra. Antia dan Arion pun pergi menyusul Arisa dan Ardika yang sedang di ruang tamu menunggu kedatangan designer keluarganya.


"Jadi sayang, kamu jangan kecapekan lagi yah... Kasihan babynya." Ucap Avindra sembari menghusap perut rata Alita.


"Iya mas... Iya... Ayo kita turun—"


"Tidak bisa... Aku ingin berduaan denganmu, tenang aku tidak akan memakanmu karena ada baby disini." Ucap Avindra membuat Alita tersenyum. Dia pun menidurkan kepalanya pada dada sang suami sedangkan kedua tangan Avindra melingkar dan menghusap perutnya.


"Belum datang??" Tanya Antia sembari duduk.


"Belum, mungkin sebentar lagi." Jawab Arisa sembari kembali menciumi pipi Ardika.


"Nah itu dateng." Ucap Arisa sembari tersenyum.


"Halo Ardika manis... Halo Arisa." Ucap Xelzo yang memang sudah lama dekat.


"Halo om... Seperti biasa, couple tapi untuk acara. pernikahan." Ucap Arisa. Xelzo pun menganggukan kepalanya mengerti dan memperlihatkan ipetnya yang berisi gambar design gaun.


"Aunty ini bagus." Ucap Ardika.


"Benar ini bagus... Ayo kita cari yang lain, mungkin ada yang lebih bagus." Jawab Arisa.


"Kalian akan datang ke pernikahan siapa??" Tanya Xelzo pada Arion dan Antia.


"Alan... Putra sulung Zain, dia akan menikah lusa... Aku bahkan tidak tau kapan mereka bertunangan." Ucap Arion.


"Astaga, ternyata pria tampan itu... Ku pikir dia tak normal." Ucap Xelzo bercanda dan ketiganya pun tertawa kecil.


...🥀🥀🥀...


"Kedua mempelai sudah datang!" Ucap salah satu dari mereka. Tampak suasana hening sampai kedua mempelai berada didepan penghulu. Para tetamu menyaksikan bagaimana seorang Alan menjabat tangan penghulu.


"Saudara Alan saya nikahkan engkau dengan Colvis Arisa Putri Anvert binti Colvis Arion Anvert dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya Colvis Arisa Putri Anvert binti Colvis Arion Anvert dengan maskawin tersebut dibayar tunai!!" Ucap Alan lantang.


"Bagaimana para saksi sah??!!!"


"SAHH!!!!!!"


"Alhamdulilahirobilallamin... Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri." Ucap sang penghulu. Loh, loh kok bisa Arisa thor?? Bukannya Felicia yah?? Oke biar adek jawab🤭.


•Flashback on


30 menit sebelumnya. Zain tampak emosi mendengar penuturan calon besannya. Calon istri Alan kabur dengan kekasihnya, dan itu membuat Zain emosi juga bingung. Bukan hanya Zain, Arion Andian dan lainnya juga tak kalah heboh.


"Batalkan saja ayah." Ucap Alan tak ingin ambil pusing.


"Apa kamu bilang?!! Batalkan?!! Alan, jika yang datang disini itu hanya sahabat dan kerabat kita itu tidak masalah... Tapi sahabatmu dari Italia, Jerman, Rusia dan Inggris ada disini... Begitu juga klan ayah... Mau taroh dimana kehormatan keluarga Alison Alan??" Ucap Zain. Zain pun menghela napas panjang sedangkan Niranda yang syok hanya duduk diantara Antia dan Arisa.


"Tidak ada cara lain... Ayah, kita harus cari pengganti." Ucap Rian. Yang mana membuat Avindra menatap Arisa yang tengah menenangkan Niranda.


Grepp!


Avindra menarik tangan Arisa. Dan tangan kirinya menarik Alan untuk berdiri. Kini Avindra berdiri diantara Arisa dan Alan.


"Menikahlah dengan Arisa." Ucap Avindra membuat Arisa terkejut.


"Nggak!!! Arisa gak mau!!! Kak lepasin ih!!!—"


"Arisa..." Ucap Avindra sembari menatap Arisa sendu. Dia tau jika secara lisan Arisa menolak, namun dalam hatinya Arisa pasti sangat senang.


"Kalau begitu tidak ada waktu lagi... Cepat dandani Arisa." Ucap Zain kemudian beberapa pelayan membawa Arisa pergi.


"Tapi aku belum menyetujuinya!" Ucap Alan sesaat setelah Arisa pergi.


"Kamu pikir adikku akan menyetujuinya tanpa paksaanku?? Dengar Alan, aku yakin kamu tidak ingin harga diri om Zain dan tante Nira hancur... Jadi tolong, terima saja ini." Ucap Avindra.


"Kak Avindra benar kak." Timpal Rian.


"Tapi—"


"Jangan menolak!" Ucap Antia. Yang mana membuat Alan terdiam.


"Baiklah... Hanya sementara." Ucap Alan dan lirih dibagian akhir.


Setelah Arisa dan Alan bersiap, keduanya pun menuju ke hadapan penghulu.


•Flashback off


Tak ingin kecurigaan, Arisa pun mencium punggung tangan Alan. Jika saja dia dalam keadaan sadar, mungkin detak jantungnya akan marathon. Namun, pikiran Arisa entah memikirkan apa sampai dia tidak peduli dengan Alan.


"Buon matrimonio, fratello (Selamat pernikahan saudaraku.)" Ucap Luhan sembari memeluk Alan.


"Grazie, Luhan (Terima kasih, Luhan.)" Jawab Alan.


"Uncle tampan, paman ini bilang apa??" Tanya Ardika yang mana membuat Alan menggendongnya.


"Belajarlah, nanti kamu akan mengerti." Ucap Alan. Yang mana membuat Luhan dan Ardika tertawa kecil.


"Loh mas, kok Ardika bisa disana sih... Cepetan ambil!" Ucap Alita.


"Eh itu anak kita?? Ardika sini turun." Ucap Avindra.


"Nggak mau bleee." Ucap Ardika sembari mengejek sang ayah. Yang mana mendapatkan cubitan dipipi dari tetamu yang hendak menyalami Alan dan Arisa karena saking gemasnya.


"Selamat benteng antartika!!!" Ejek Machel.


"Diam!" Ucap Alan membuat Machel tertawa kecil.


Setelah menyalami para tetamu, Alan dan Arisa pun ke kamar hotel karena memang resepsi akan diadakan di hotel tersebut. Tentu masih dengan Ardika. Dia menangis saat Avindra hendak membawa Ardika pergi.


"Ih ada balon." Ucap Ardika sembari memainkan balon berbentuk love di atas ranjang yang penuh dengan bunga mawar.


"Ardika disini dulu ya, jangan nakal... Aunty mandi habis itu menidurkanmu." Ucap Arisa. Ardika menganggukan kepalanya dan bertos ria dengan Arisa. Sedangkan Alan terdiam. Seolah dia tidak dianggap disana.


"Uncle tampan nggak mandi??" Tanya Ardika.


"Nanti." Jawab Alan sembari menghusap puncak kepala Ardika. Hampir setengah jam menunggu, Arisa tak kunjung keluar yang mana membuat Ardika tertidur.


"Apa yang dilakukan wanita itu??" Lirih Alan tampak kesal.


"Aaaaaaa!!" Teriak Arisa dari dalam kamar mandi membuat Alan bergegas masuk.


Grepp!


Arisa yang berbalut handuk itu memeluk Alan yang berada diambang pintu.


"Kakak ada kecoak!! Kakak tolong... (Menatap Alan yang datar kemudian melepaskan pelukannya.) Ma... Maaf." Ucap Arisa. Alan tak merespon dan memilih membuang kecoak yang berada disudut ruangan.


Hufft.... Sabar Arisa. Batin Arisa kemudian pergi keluar untuk berpakaian. Dilihatnya sudah ada beberapa pakaian tidur di walk in closet.


Sepertinya kak Alan sudah mempersiapkannya... Sayang cintanya bertepuk sebelah tangan sepertiku. Batin Arisa tersenyum nanar.


Setelah berpakaian, dia pun menghampiri Ardika yang tertidur pulas. Dia pun memiringkan tubuhnya dan menoel noel pipi Ardika. Oh iya fakta unik Ardika itu, dia gak bakalan bangun tidur sebelum dia merasa kenyang dengan tidurnya. Bahkan dulu Ardika pernah dikira koma karena tidur seharian.


"Aaaa lucunya, keponakan aunty." Ucap Arisa kemudian menciumi pipi Ardika gemas. Tanpa dia sadar, roknya sedikit terangkat sehingga sedikit terlihat paha putih dan mulusnya. Dan Alan yang melihatnya tidak suka. Baru tangannya hendak menurunkan rok Arisa, Arisa berbalik sembari berteriak yang mana membuat Alan terkejut dan...


"Arisa ada ap.... Mas kamu ambil Ardika sana, sepertinya Ardika akan mengganggu." Ucap Alita sembari memalingkan wajahnya. Avindra menggendong Ardika kemudian pergi. Tak lupa Avindra menutup kembali pintunya.


"Awas ih!" Ucap Arisa sembari mendorong Alan yang bertel*njang dada.


"Kakak mau modus ya kan?? Main sentuh sentuh!" Ucap Arisa menatap tajam Alan.


"Kondisikan pakaianmu dengan benar." Jawab Alan singkat kemudian pergi ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.


"Dasar benteng antartika!" Umpat Arisa kemudian menarik selimutnya dan tidur. Toh masih ada beberapa jam sampai resepsi dimulai nanti.


Srettt!


Pintu walk in closet terbuka. Tampak Alan keluar dengan memakai kemeja putih dan celana hitam. Dia lupa jika ibunya hanya menyiapkan baju tidur perempuan. Sedangkan baju tidurnya tidak ada dan hanya ada kemeja juga celana. Toh, Alan cuman tidur 2 atau 3 jam dalam sehari.


"Cepat sekali dia tidur." Lirih Alan.


Dengan terpaksa dia merebahkan tubuhnya disamping Arisa. Di kamar itu tidak ada sofa dan sepertinya itu rencana Niranda ibunya. Alan pun memejamkan matanya meskipun terasa aneh karena kali ini baru pertama dia tidur dengan seseorang. Perempuan pula.


...🥀🥀🥀...


NEXT PART\=>