
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Di Vila Andian.
Arila dan Andian pun keluar dari dalam mobil. Tampak Arila kagum dengan kemewahan Vila Andian. Maklum, baru kali ini dia ke Vila.
"Selamat datang tuan dan nona." Sapa Gian.
"Gian apa kamar sebelah sudah dibereskan sesuai yang kuminta?" Ucap Andian.
"Sudah tuan." Jawab Gian.
"Baguslah, (Menatap Arila.) Dan kau ikut aku." Ucap Andian.
Arila hanya mengagguk kepala pelan dan mengikuti Andian dari belakang. Sesampainya didepan kamar tepat kamar sebelah Antia.
"Kau masuk lah mulai sekarang itu kamarmu dan kamarku ada disana." Ucap Andian.
"Kenapa kamarku dipojok sini? Dan kenapa kita harus pisah kamar?" Tanya Arila lirih.
Tiba tiba *Bruk!!* Andian memojokan tubuh Arila sampai punggung Arila membentur tembok.
"Kau harus tau, (Mencengkram dagu dan bahu kanan Arila.) Hal konyol seperti pernikahan ini hanya bertahan beberapa saat lagi. Ingat baik baik saat adikku menikah dengan Arion dan saat itu lah aku akan berpisah denganmu." Ucap Andian kemudian melepas cengkramannya kasar.
"Jika seperti itu kenapa kau tidak membatalkan saja pernikahan ini." Ucap Arila dengan berkaca kaca.
"Kenapa??!!(Menjambak rambut panjang Arila.) Karena aku sangat membencimu, dan karena ini permintaan adikku agar aku menikahi mu... Dan satu hal lagi jika kau berani mengadu pada adikku aku bisa saja langsung membunuhmu." Ucap Andian menghempaskan Arila kasar.
Arila hanya memegangi kepalanya dan memandang punggung Andian yang perlahan menjauh. Tak terasa air matanya menetes.
Bukankah tadi baik baik saja?? Aku pikir... Apa yang kau pikirkan Arila, peria itu sejak dulu membenci mu dia bersikap baik dan tidak membiarkan ku menjenguk Arion karena dia ingin cepat cepat menyiksaku... Apa yang harus aku lakukan?? Batin Arila.
Arila pun memasuki kamarnya dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah itu Arila pun mengunci pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Mungkin karena terlalu lama menangis Arila langsung terlelap sampai ke alam mimpi.
Di Vila Raka.
Antika tampak pucat dan berkali kali memuntahkan isi perutnya. Membuat Raka Randy dan Laura cemas. Kini Antika tengah terbaring di atas ranjang. Raka menghusap kening Antika dan menciumnya dalam.
"Ma...kenapa dokter Mira belum datang? Panas Antika semakin tinggi." Cemas Raka.
"Sebentar lagi pasti datang." Ucap Randy.
"Atau... Antika hamil pa... Bukanya dulu mama juga gitu ya." Ucap Laura tampak senang.
"Bener juga ma... Akhirnya kita punya cucu juga ya ma." Ucap Randy dengan merangkul istrinya.
"Benarkah??? Berarti aku bentar lagi jadi ayah?" Tanya Raka tampak bahagia.
"Kita tunggu Mira datang untuk memastikan apa benar Antika hamil atau tidak." Ucap Laura.
Raka pun mengagguk dan menatap Antika yang masih terlihat pucat. Beberapa saat menunggu dokter pribadi Mira datang. Segeralah Raka menyingkir membiarkan dokter Mira memeriksa.
"Bagaimana apa istriku hamil??" Tanya Raka tak sabaran.
"Hamil?? Tidak, nona muda hanya kelelahan... Penyebabnya mungkin nona sering begadang sambil mengerjakan hal yang berat baginya. Jadi saya sarankan agar nona muda lebih banyak beristirahat." Jelas dokter Mira membuat Raka Randy dan Laura kecewa.
"Jadi hanya kelelahan, aku sudah berharap lebih kenapa hasilnya mengecewakan." Ucap Raka kecewa.
"Hahaha... Tuan muda yang sabar... Ini obat diminum sesudah makan dan saat akan tidur. Kalo begitu saya permisi, jika ada sesuatu telfon aku." Pamit dokter Mira merapikan alat alatnya.
"Iya, Terima kasih ya Mir. Mari ku antar sampai depan." Ucap Laura.
Dokter Mira menganggukan kepala dan keluar bersama Laura disusul Randy. Raka meletakan obat diatas nakas dan duduk disamping Antika.
Begadang?? Apa karena aku tidak mau melepaskannya semalaman ya?? Yah padahal aku sudah sangat berharap tadi. Batin Raka sembari menghusap kening Antika.
Merasakan ada pergerakan perlahan Antika membuka matanya. Tampak senyum mengambang dari wajah Raka. Raka pun membantu Antika agar duduk bersenderan. Raka pun mengambil kan air minum dan menyondorkannya pada Antika.
"Bagaimana keadaanmu?? Apa kau sudah merasa baikan sekarang??" Tanya Raka.
"Sedikit mual dan lemas, kata dokter aku sakit apa?"
"Kau kelelahan... Maafkan aku karena tadi malam tidak melepaskanmu." Ucap Raka tampak menyesal.
"Tidak apa, kenapa kau merasa kecewa? Apa dokter mengatakan sesuatu??"
"Em...tidak ada, hanya...(Antika memandang Raka.) Aku pikir tadi kau hamil."
"Begitu ya, maaf membuatmu kecewa."
"Tidak ini bukan salahmu... Aku saja yang terlalu berharap. Kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, aku ingin tidur."
"Baiklah tapi sebelum itu kamu makan dulu dan minum obatnya ya." Ucap Raka dan diangguki oleh Antika.
Dengan penuh kasih sayang Raka menyuapi makan pada Antika. Setelah itu Raka juga memberikan obat seperti dokter Mira perintahkan. Setelah itu Raka memeluk tubuh Antika dan membiarkan lengan kekarnya sebagai bantalan.
"Kenapa kamu berkata begitu sayang?" Ucap Raka sembari mengerutkan keningnya.
"Entahlah tapi aku berharap rumah tangga mereka baik baik saja."
"Aku tau dia sahabat mu... Tapi jangan terlalu dipikirkan nanti kamu bisa sakit sayang... Lagi pun hubungan paman Gio dengan Andian sudah membaik. Aku yakin dia akan menerima Arila seiring berjalannya waktu."
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu??"
"Apa benar jika Antia lulus nanti dia akan menikah?? Bukankah kasihan dia mungkin ingin mencapai cita citanya." Tanya Antika.
"Memang benar tapi ada alasan mengapa Antia menikah di saat muda... Pertama kak Glan lah yang menjodohkannya tepat saat Antia lahir karena dia percaya Arion lah orang yang tepat untuk nya... Dan kedua Arion menepati janjinya sendiri begitu cepat membuat dia banyak meluangkan waktu agar biasa meluluhkan Antia... Dan pada akhirnya mereka saling mencintai seperti saat ini." Jelas Raka panjang.
"Begitu ya... Bisa kita tidur sekarang?"
"Aku ingin memakanmu."
"Tapi aku masih sakit." Ucap Antika sembari menunduk.
"Hahaha... Aku hanya bercanda... Tidurlah sebelum aku berubah pikiran." Ucap Raka mencium kening Antika dan memeluknya erat.
Mereka pun memejamkan matanya sampai akhirnya berada di alam mimpi masing masing.
Keesokan Harinya.
Antia bangun sebelum matahari terbit. Dia sudah bersiap siap untuk pulang karena besok dia harus menghadapi ujian praktek. Mendengar suara, Arion membuka matanya perlahan dan melihat Antia sudah bersiap.
"Kamu pulang pagi pagi begini??" Tanya Arion.
"Iya kak.... Kak mulai besok sampai beberapa pekan depan Antia jarang ngunjungin kakak soalnya besok aku harus ujian praktek. Kakak nggak apa apa kan?"
"Tidak apa apa, belajarlah yang rajin... Lagi pun ada Kean dan Kak Ren yang menemani ku disini. Biar Kean yang mengantarmu."
"Iya kak, terima kasih kakak jangan lupa minum obatnya."
"Iya kenapa kamu cerewet sek—" Ucap Arion terjeda lantaran Antia tiba tiba mencium pipinya.
"Maaf kak, aku pergi kakak cepatlah sehat." Ucap Antia sembari melambaikan tangan.
Arion pun tersenyum dan mengaggukan kepala pelan. Diluar Kean sudah bersiap mengantar nona mudanya pulang. Saat di perjalanan tiba tiba muncul ide untuk ke Vila Andian.
"Kean, antar aku ke Vila saja semua pakaianku masih ada disana." Ucap Antia.
"Baik nona." Jawab Kean tanpa memandang Antia.
Sedangkan di Vila.
Dengan malas Arila membuka matanya begitu mendengar suara alarm di handphone nya. Arila pun mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Arila keluar dengan pakaian rapi. Arila menyisir rambut panjang nya dan menatap wajahnya dari pancaran cermin. Tiba tiba dia teringat saat Andian menjambak rambutnya semalam.
Kenapa dia kasar sekali, bukankah adiknya seorang wanita juga kenapa dia berbeda sekali saat didepan ku dan didepannya? Dan kejadian 3 tahun lalu bukankah sudah selesai? Lalu kenapa dia membenciku?? Memang aku membuat kesalahan apa lagi? Batin Arila bertanya tanya.
Selesai menyisir rambutnya, Arila mengikat rambutnya dan keluar dari kamarnya. Dia pun menuruni tangga dan melihat Gian sedang sibuk didapur. Saat Arila hendak mendekat ingin membantu Gian, *Ting tong.* Suara bel rumah berbunyi.
"Biar aku yang membukanya Gian." Ucap Arila.
"Baik nona." Jawab Gian kembali memasak.
Siapa pagi pagi buta datang kemari?? Batin Arila bertanya tanya.
Perlahan Arila mendekati pintu dan membukanya. Arila terkejut saat orang itu tiba tiba memeluknya. Dan orang itu tidak lain Antia.
"Antia?" Ucap Arila bingung.
"Kejutan untuk kakak ipar ku...(Melepas pelukannya.) Dimana kakak??" Tanya Antia.
"Dia ada di kamarnya ayo masuk udaranya masih sangat dingin." Jawab Arila.
"Baiklah...(Menatap bahu Arila.) Kakak ipar kenapa dengan bahumu?" Tanya Antia cemas.
"Em...ini...tadi terbentur lemari jadi seperti ini." Ucap Arila berbohong.
"Benarkah... Kemari kak...(Mendudukan Arila disofa dan mengambil kotak P3K.) Kakak harus nya lebih hati hati luka memerah begini." Ucap Antia.
"Iya aku pasti akan lebih berhati hati." Jawab Arila sembari tersenyum.
"Antia kapan kamu datang??" Tanya Andian mendekati Arila dan Antia.
"Baru tadi, kakak ini bagaimana...lihat (Memperlihatkan bahu Arila yang memerah.) Bahu kakak ipar terluka dan kakak tidak menyadarinya aku kan sudah bilang agar kakak ipar jangan dilukai." Omel Antia.
"Iya, ya kakak minta maaf. Kamu mandi lah sana setelah itu sarapan." Ucap Andian.
"Baiklah... Kakak ipar aku mandi dulu ya." Pamit Antia.
Arila hanya mengagguk pelan dan perlahan Antia meninggalkan mereka berdua. Arila membenarkan pakaiannya dan berdiri. Andian menatap Arila tajam dan mendekatinya.