
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
"Kau mengadukan hal ini pada Antia?" Tanya Andian dingin.
"Tidak." Jawab Arila singkat dan beranjak meninggalkan Andian.
"Ingat satu hal, kau musuhku bukan istriku... Dan sampai kapan pun seperti itu... Kau merenung saja apa yang pantas kau bangga kan sampai aku harus mengaggapmu sebagai istriku. Dan aku ingatkan jika Antia menikah maka aku akan menceraikanmu." Ucap Andian saat melewati Arila.
Arila hanya memandang punggung Andian nanar. Dia sendiri bingung kenapa Andian begitu membencinya. Bahkan sampai mengucapkan hal itu berkali kali.
Aku benci takdir ini, aku benci pernikahan ini dan aku benci padamu Andian. Batin Arila dengan tatapan penuh kebencian.
Beberapa saat kemudian Antia Andian dan Arila pun berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Antia menatap Arila dan Andian bergantian.
Apa terjadi sesuatu ya?? Aku harus menyelidikinya. Batin Antia.
"Apa yang kamu lihat Antia, selsaikan sarapanmu setelah itu pulang... Papa dan mama akan mengkhawatirkanmu." Ucap Andian.
"Aku tidak akan pulang kak....(Andian memandang Antia.) Aku sudah beritau mama akan tinggal disini sampai ujian ku benar benar selesai... Apa boleh kak?"
"Tentu saja boleh kenapa kamu perlu meminta izin, kamu bisa tinggal semau mu disini. Aku berangkat dulu. (Menatap Arila.) Arila aku titip adikku." Ucap Andian berdiri dan mencium kening Antia. Setelah itu Andian pun beranjak pergi.
"Kakak...(Andian terhenti.) Kakak ipar tidak kau cium juga." Goda Antia. Saat Andian akan mendekat, Arila justru berdiri lebih dulu.
"Tidak perlu... Aku harus ke kamar sekarang." Ucap Arila kemudian meninggalkan Andian dan Antia.
Antia memandang Andian dan melihat Andian mengepal tangannya erat. Tanpa bicara apapun lagi Andian pergi meninggalkan Antia.
Sudah ku duga memang ada yang salah diantara hubungan mereka. Sebagai adik yang baik aku akan membuat kakak jatuh hati pada kakak ipar... Aku janji itu. Batin Antia tersenyum.
Di Vila Raka
Renzo dengan malas membuka matanya saat mendengar ketukan pintu. Renzo pun bangun dari ranjang dan menuju ke arah pintu. Perlahan Renzo membuka pintunya.
"Iya bibi nanti—(Renzo memandang tak percaya.) Mo...Mommy." Ucap Renzo memandang wanita paruh baya didepannya yang tidak lain ibu nya sendiri.
"Bagus ya, kamu kabur kesini dan menyusahkan bibi dan pamanmu?" Ucap Renia yang tidak lain ibu Renzo.
"Ren... Renzo nggak kabur mommy." Jawab Renzo tersenyum paksa.
"Aduh...aduh mommy sakit!!" Ucap Renzo saat Renia menjewer telinganya.
"Masih ingat sakit hmm... Ayo turun." Ucap Renia masih menjewer telinga Renzo.
"Mommy lepasin dong, aku ini anak mommy bukan sih??" Ucap Renzo berusaha lepas dari cengkraman Renia.
Sesampainya di ruang makan. Tampak Laura Randy dan suami Renia memandang Renia dan Renzo bingung. Begitu pun Raka yang sedang menuruni tangga.
"Kakak ipar adapa ini??" Tanya Randy hati hati.
"Adapa?? Tentu saja keponakanmu ini kabur dari perjodohan." Ucap Renia kesal dan melepaskan jewerannya.
Randy menepuk keningnya mengingat sifat kakak iparnya yang begitu cerewet. Setelah lepas dari jeweran sang ibu Renzo mendekati ayah nya dan bersembunyi dibelakangnya.
"Daddy tolongin Renzo... Daddy sayang Renzo bukan." Ucap Renzo dengan wajah memelas.
"Bela terus putra kesayanganmu itu." Sungut Renia dengan wajah kesal membuat Anzo serba salah.
"Em...kakak ipar tenangkan emosimu dulu... Mari sarapan." Ucap Laura.
Dengan wajah masih kesal Renia menarik kursi dan duduk. Begitu pun Anzo dan Renzo. Saat itulah Raka yang sedari tadi tertawa kecil melihat kelakuan bibinya pun mendekati mereka.
"Bibi Renia ku tersayang apa kabar??" Ucap Raka sembari merangkul Renia.
"Keponakanku tersayang... Kabar Bibi pagi ini kurang baik karena kakak sepupumu itu." Ucap Renia melirik ke arah Renzo.
"Raka sayang kamu sudah bangun? Dimana Antika?" Tanya Laura.
"Antika masih tidur ma ini Raka mau bawain sarapan buatnya." Jawab Raka.
"Antika masih sakit??" Tanya Laura.
"Masih ma... Demamnya udah sedikit reda tinggal mual nya doang." Jawab Raka sembari membawa nampan berisi makanan dan segelas susu hangat.
"Raka, Bibi ikut... Bibi kan belum lihat istri kamu." Ucap Renia.
"Nanti saja bi... Sekarang bibi sarapan dulu." Ucap Raka.
"Baiklah kalo begitu." Jawab Renia kembali duduk.
Raka pun tersenyum dan menaiki tangga menuju ke kamarnya. *Cklekk!!* Raka membuka pintu perlahan. Tampak Antika sudah bangun dengan duduk di ranjang sembari bersenderan.
"Sayang kapan kamu bangun??(Meletakan nampan diatas nakas.) Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Raka.
"Aku baru saja bangun... Sedikit membaik." Jawab Antika.
"Syukurlah, ayo sarapan dulu." Ucap Raka hendak menyuapi Antika.
"Apa kamu sudah sarapan??" Tanya Antika.
"Nanti saja, kesehatanmu lebih penting." Jawab Raka kembali menyuapi Antika.
"Terima kasih." Ucap Antika sesaat setelah memakan suapan dari Raka.
"Aku tidak mau hanya ucapan, (Mendekat ke telinga Antika) Tapi dengan tindakan." Bisik Raka membuat Antika merona.
"Tenanglah sekarang kamu masih sakit... Tapi setelah kamu sembuh aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Raka.
Antika tidak merespon memilih untuk memakan setiap suapan yang Raka berikan. Setelah itu Antika pun meminum susu hangat agar stamina nya bertambah.
"Oh iya, ada paman dan bibiku dibawah mereka ingin menemuimu." Ucap Raka.
"Ayah dan ibu Andian??" Tanya Antika.
"Bukan... Orang tua kak Renzo. (Antika mengagguk paham.) Kamu mau turun atau tetap disini??" Jawab Raka kemudian bertanya pada Antika.
"Aku yang turun saja... Lagipun aku sudah sedikit membaik." Jawab Antika.
"Baiklah, biar aku memapahmu sampai dibawah ya." Ucap Raka dan diangguki oleh Antika.