Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 4 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Hari mulai gelap, Arisa dan ketiga kakaknya pun pulang setelah seharian jalan jalan kesana kemari. Dengan wajah ceria, Arisa memasuki rumahnya. Dia pun berlari kecil menghampiri Antia yang sedang duduk berdua dengan Arion.


"Bunda, Ayah... Kami pulang." Ucap Arisa bersemangat. Arisa pun duduk disamping Antia.


"Wah putri kesayangan bunda sedang senang ya." Ucap Antia.


"Dia yang senang, tapi aku tidak bunda." Keluh Avindra. Bagaimana tidak, Antia mengajaknya berkeliling mall dan hampir semua boneka disana dia beli.


"Hahaha... Kalian ini ada ada saja." Ucap Arion.


"Paman, Bibi kami pamit pulang... Ayah dan ibu pasti khawatir." Ucap Reanzo menyela.


"Kalian tidak menginap disini??" Tanya Antia.


"Tidak bibi, mungkin lain kali... Kami pulang dulu Assalamualaikum." Pamit Reanzo mewakili.


"Walaikumsalam, kakak hati hati ya." Ucap Arisa sembari melambaikan tangannya.


"Kepala pelayan Vian, letakan semua ini ke kamar nona." Titah Avindra.


Note: Vian anak dari mendiang Jun kepala pelayan kepercayaan Arion. Jun meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya.


"Baik tuan." Jawabnya dan dibantu beberapa pelayan membawa belanjaan Arisa. Avindra pun ikut duduk disamping Arion.


"Bunda apa bunda tau... Tadi ada seseorang yang nolongin Arisa." Ucap Arisa.


"Nolong?? Memang kamu kenapa??" Tanya Antia sembari menatap Arisa.


"Tadi Arisa hampir ditabrak mobil bund, itu salahnya karena lari begitu saja." Jawab Avindra dengan wajah kesal membayangkan kejadian tadi.


"Kamu nggak apa apa kan sayang?? Apa ada yang luka??" Cemas Antia sembari melihat lihat tubuh Arisa.


"Bunda, Arisa baik baik saja bunda." Ucap Arisa sembari tersenyum. Mendengar hal itu membuat Antia bernapas lega.


"Itu semua berkat pria misterius itu bund, kalau nggak Arisa mungkin sudah—"


"Sudah yang terpenting Arisa baik baik saja, lebih baik kalian mandi setelah itu makan malam." Ucap Antia. Arisa pun mencium pipi kanan Antia.


"Siap bunda... Arisa naik dulu." Ucap Arisa kemudian pergi menuju ke kamarnya.


"Avindra ikut ayah, ada yang ingin ayah bicarakan." Ucap Arion.


“Plakk” Antia menampar lengan Arion dan menatapnya tajam.


"Tidak sebelum dia mandi, Avindra mandi sana." Ucap Antia. Avindra mengagguk kemudian pergi menuju ke kamarnya. Arion menatap Antia yang menatapnya tajam.


“Tring!!! Tring!!”


Belum Arion bicara, ponselnya berbunyi. Arion pun mengangkat telefonnya.


📞


“Hallo Arion, lama tidak berjumpa.” Ucap seseorang diseberang sana.


“Zain... Hahaha iya, bagaimana kabarmu??” Jawab Arion sembari tertawa kecil.


“Kabarku baik, Lusa aku kembali ke Indonesia... Aku mengundangmu Andian dan Raka makan malam di rumahku.” Ucap Zain diseberang sana.


“Ide bagus, putramu juga akan kembali?” Tanya Arion.


“Hahaha, anak muda zaman sekarang... Baiklah sampai bertemu lusa Zain.” Ucap Arion.


“Sampai jumpa, oh iya aku dengar putramu mendapat gelar MBA??” Tanya Zain diseberang sana.


“Iya, dan dia baru sampai tadi pagi.” Jawab Arion.


“Dia memang menuruni bakatmu Arion.” Ucap Zain.


“Dia putraku, tentu saja menuruni bakatku.” Jawab Arion percaya diri.


"Kau bilang apa?? Putramu?? Aku yang mengandung dan melahirkannya!" Omel Antia tidak terima. Bahkan Zain sampai mendengar omelannya.


"Bukan begitu, (Antia pergi.) Sayang... Sayang." Panggil Arion.


📞


“Hahaha, sepertinya istrimu marah... Bujuk dia aku akan lanjut siap siap.” Ucap Zain diseberang sana.


“Aku tutup telefonnya.” Ucap Arion.


“Tut.”


Telefon diputuskan sepihak. Arion pun berlari kecil mengejar istrinya. Sesampainya di kamarnya, Arion membuka pintu perlahan kemudian menguncinya dan mencari keberadaan Antia.


"Sayang, ayolah aku hanya bercanda... Kenapa harus marah." Ucap Arion. Tidak ada jawaban membuat Arion menghela napas panjang. Saat akan pergi tiba tiba Antia memeluknya dari belakang.


"Sayang kamu—" Ucap Arion terpotong lantaran Antia mencium bibirnya.


Tidak mau kehilangan kesempatan, Arion dengan senang hati membalasnya. Tangan nakal Antia membuka kancing kemeja Arion dan melepaskannya dari tubuh suaminya.


“Brukh!!!”


Keduanya jatuh diatas ranjang king size itu. Tapi kali ini, Antia yang mengungkung Arion dalam pelukannya. Arion tersenyum melihat sikap agresif Antia.


"Sayang, kau sangat agresif sekali??" Ucap Arion.


"Kau menyukaiku begini kan?? Mari kita nikmati bersama." Jawab Antia.


Akhirnya kedua seloji itu pun menghabiskan waktu bersama.


Di Berlin, Jerman


Seorang pria berumur 20 tahun tengah tersenyum memandangi foto di ponselnya. Kegiatannya terganggu saat wanita paruh baya membuka pintu kamarnya.


"Sayang makan siang sudah siap, Ayo turun." Ucap wanita paruh baya itu.


"Baik mami." Ucapnya kemudian meletakan ponselnya dan menghampiri wanita paruh baya yang tak lain ibunya sendiri.


"Mi, besok kita kembali ke Indonesia kan??" Tanyanya bersemangat.


"Iya sayang, kau merindukan Arisa kan?? Kita akan menetap disana." Ucap wanita paruh baya itu yang tidak lain Niranda Alison. Istri dari Zain Alison.


"Fantastis, aku bisa sering sering menemui Arisa." Ucapnya yang tidak lain Rian Putra Alison. Anak kedua Niranda dan Zain. Sifatnya sama seperti Zain ceria terbuka dan suka bercanda.


"Tentu saja, Avindra juga sudah pulang... Papi bilang dia mendapat gelar MBA dari Harvard University." Ucap Niranda.


"Kak Avindra memang jenius." Ucap Rian. Niranda pun meresponnya dengan senyuman.


Arisa, tunggu aku... Kau pasti sudah menjadi gadis cantik sekarang. Batin Rian.


“Hacih!!!”


Arisa tiba tiba bersin saat mengeringkan rambutnya. Dia pun menatap dirinya dari pancaran cermin.


"Siapa yang membicarakan aku." Lirih Arisa. Arisa pun meletakan hairdryer dan menyisir rambutnya. Sejenak dia berhenti dan menyinggung senyumannya begitu mengingat tatapan tajam dari pria yang menolongnya.


Siapapun dia, aku yakin bisa kembali bertemu dengannya. Batin Arisa sembari tersenyum.