
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
👩💻I Love You Readers❤❤❤❤❤
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Dan seseorang itu tidak lain Avindra yang kebetulan juga belanja kebutuhan sehari hari. Alan tidak meresponnya dan dia memilih untuk mendorong trolinya. Tentu hal itu membuat Avindra membuntutinya.
"Ya Allah Alan, kau bahkan mengabaikan ku... Tidak kah kita berteman??" Ucap Avindra.
"Kita tidak sedekat itu... Menyikirlah dari hadapanku." Jawab Alan dingin kemudian hendak pergi. Hal itu membuat Avindra tersenyum miring.
"Aku tidak akan memaksa, kapan pun kau membutuhkan aku dan saudaraku.... Aku pasti akan membantu, tidak... Lebih tepatnya kita bekerja sama untuk tujuan bersama.... Jika mau datanglah ke Vila xxx, disana aku tinggal bersama saudara saudara ku." Ucap Avindra kemudian pergi. Tampak Alan menoleh dan menatap punggung Avindra yang berjalan menjauh.
Bikin muak saja. Batin Alan. Setelah membayar belanjaannya, Alan pun meletakan belanjaannya di bagasi mobil.
Dan saat itu dia melihat Avindra yang menolong seorang kakek kakek. Hal itu membuat Alan mengingat tawaran dari Avindra. Alan masuk kedalam mobilnya dan menuju ke apartemen tempat dia tinggal.
Di Apartemen
Alan membawa belanjaannya masuk kedalam. Tampak Machel sedang menonton televisi sembari mengemil tanpa menyadari kedatangan Alan. Saat itulah Serly datang menghampiri Alan.
"Biar aku yang menatanya di kulkas." Ucap Serly. Alan pun memberikan barang belanjaannya dan masuk kedalam kamar Machel.
Gawat, si gonar udah bersihin kamarnya belum ya?? Malah enak enakan ngemil, dasar gonar! Umpat Serly. Dia pun menuju ke dapur tidak ingin dibawa bawa jika Alan mengomel nantinya.
"Alan sudah kembali... (Seperkian detik.) Astaga Alan kembali, dia pasti ke kamar ku sekarang." Lirih Machel dan buru buru ke kamarnya. Saat itu dia melihat Alan keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar.
"Alan bagaimana sudah—" Ucap Machel menggantung lantaran Alan pergi begitu saja.
"Sepertinya dia tidak marah... Aman." Ucap Machel bernapas lega.
"Siapkan mobil." Titah Alan sembari memakai coatnya.
"Oke... Eh tapi kita mau kemana??" Tanya Machel dan tidak direspon oleh Alan.
Astga tuan Rachman, apakah istrimu mengidam makan satu ton balok es??!!! Bisa bisanya dia dingin seperti itu, aku sumpahin ntar Alan jadi cerewet kalau udah nikah. Batin Machel mengumpat. Dia menyiapkan mobil seperti yang Alan minta.
♦♦♦♦♦
"Ayah jelek, ayah bau, Arisa kesel sama ayah!" Kesal Arisa dengan suara cemprengnya. Sifat kekanak-kanakan Arisa tengah kambuh jadi harap maklumi.
"Sayang bukan begitu maksud ayah, kakak penyelamatmu yang paling tampan oke?? Sekarang ayo makan." Ucap Arion penuh kesabaran.
"Nggak, tadi ayah bilang dia jahat dan buncit... Dia baik dan tampan... Ayah yang jahat dan jelek!" Ucap Arisa masih kesal.
Tampak Arion menghela napas panjang. Arisa salah paham saat Arion tengah menelfon dengan Kean. Arisa mengira jika penyelamat yang di maksud ayahnya adalah Alan. Tapi, yang Arion maksud adalah pria yang menyelamatkan dirinya dan Kean.
Antia pasti marah saat pulang tau Arisa belum makan... Astghafirullah, sabar Arion dia putrimu. Batin Arion.
"Bunda." Panggil Arisa membuat Arion membeku.
"Sayang... (Mencium kening Arisa.) Sudah makan?? Obatnya sudah diminum??" Tanya Antia. Tampak Arisa menggelengkan kepalanya membuat Antia menatap suaminya.
"Mas, sepertinya kamu berulah lagi hemm??" Ucap Antia sembari tersenyum miring.
"Iya bund, bunda tau?? Ayah mengatai kakak penyelamatku jelek dan buncit padahal ayah yang jelek dan bau." Jawab Arisa membuat Arion berkeringat dingin.
"Iya, ayahmu memang jelek dan bau... Sini biar bunda suapin kamu." Ucap Antia membuat Arion merasa tertusuk panah.
Apa aku setua itu sekarang?? Bahkan istri kesayangan ku tidak mengakui ku lagi. Batin Arion sedih.
"Arisa makan sendiri aja bund." Ucap Arisa. Antia tersenyum dan menghusap puncak kepala putrinya.
"Baiklah, bunda mandi dulu biar gak bau kayak ayah kamu." Ucap Antia sembari menatap suaminya. Arisa menganggukan kepalanya pelan dan Antia pun bangkit dari duduknya.
"Sayang—"
"Satu minggu gak dapet jatah." Ucap Antia membuat Arion tersentak kaget.
"Sayang ayolah, satu jam saja aku tidak kuat bagaimana satu minggu... (Mengejar sang istri.) Sayang!! Sayang!" Panggil Arion.
"Sayang... Kamu harusnya tau, Arisa memiliki 100% DNA kamu yang manja." Ucap Arion membuat Antia yang hendak mengambil handuk itu menatap tajam suaminya.
"Kamu menyalahkanku mas?? Jadi sifat playboy dan semena mena Avindra itu DNA kamu ya." Ucap Antia.
"Hey sayang aku tidak playboy... Aku setia padamu." Elak Arion tak ingin disama samakan dengan sifat putranya.
"Terserah!" Ucap Antia hendak masuk ke kamar mandi. Namun tubuh nya lebih dulu di angkat oleh suaminya bagai karung beras.
"Mas turunin!! Mas!!" Ucap Antia sembari memukuli punggung suaminya.
"Kamu bilang aku bau kan?? Baiklah mandikan aku sampai wangi, bisakan sayang??" Ucap Arion dengan nada menggoda.
Cklekk!!
Pintu kamar mandi kini tertutup sempurna. Tak lupa Arion menguncinya dari dalam tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.
Di Vila Avindra
Reanzo tengah membaca sebuah majalah diteras Vila. Suasana sore yang cerah membuatnya rileks. Saat itu dia terkejut melihat sebuah mobil hitam mengkilat itu masuk kedalam halaman Vila.
Siapa yang datang?? Batin Reanzo bertanya tanya. Dan pertanyaanya terjawab saat Alan dan Machel keluar dari dalam mobil tersebut.
"Alan, kita ngapain kesini??" Tanya Machel dan tak direspon oleh Alan.
"Bagaimana kalian tau kami disini??" Tanya Reanzo menghampiri Alan dan Machel.
"Aku yang memberitaunya kakak." Jawab Avindra tepat dibelakang Reanzo.
"Selamat datang di Vila kami Alan." Ucap Avindra. Alan tak meresponnya dan memilih masuk kedalam Vila.
"Al... Alan tungguin aku." Ucap Machel. Hingga sampai di ruang tengah, Machel duduk disamping Alan.
"Dia—" Ucap Leon menggantung.
"Katakan, apa ada alasan aku menerima tawaranmu??" Tanya Alan tanpa basa basi. Tampak Avindra tersenyum dan duduk di sofa berhadapan dengan Alan. Tampak dia menggelar gambar sebuah sketsa denah.
"Sketsa denah perpustakaan... 3 lesser darurat pada bagian selatan utara dan pintu belakang perpustakaan... 4 cctv disetiap sudut dengan jangkauan 90°... Pusat untuk mematikan cctv dan lesser dibelakang rak buku ini." Jelas Avindra. Tampak Alan sedikit mengamati semua yang Avindra jelaskan.
"Eeeh tunggu sebentar... Kamu pria cupu yang— Akhh!" Ucap Machel terjeda lantaran Alan memukul bagian dadanya membuat lainnya terkejut. Alan bangkit dari duduknya dan menatap Avindra dengan mata tajamnya.
Pria ini memiliki pandangan yang tidak bisa aku pandang... Akan sangat aku butuhkan untuk menghancurkan kampus itu. Batin Avindra.
"Anggap dirimu beruntung." Ucap Alan berlalu pergi.
"Hey Alan maksudnya apa ini?? Aku sama sekali tidak mengerti." Ucap Machel bingung.
"Jika kau berkenan, tinggalah bersama kami disini... Itu bisa memudahkan kita untuk membicarakan hal ini." Ucap Avindra.
"Ada satu sahabat ku wanita." Ucap Alan kemudian masuk kedalam mobil. Disusul Machel yang masih bingung dengan semua itu.
"Avindra, apa yang kau rayukan ke dia sampai pria irit bicara itu datang kemari??" Tanya Renafo terkejut.
"Aku sendiri terkejut kak, ku kira pria individual sepertinya menerima tawaranku untuk bekerja sama... Dia 60% membantu kita lebih maju." Ucap Avindra.
"Kenapa kau yakin hal itu??" Tanya Elliot.
"Pria sepertinya sangat mengandalkan kemampuannya sendiri... Aku yakin setelah mendapatkan informasi mengenai sketsa denah perpustakaan tadi, dia akan langsung memikirkan langkah selanjutnya." Jawab Avindra.
"Jika dia bisa membantu kita, setidaknya itu bisa menguntungkan kita." Ucap Elliot.
"Dan dia akan mengajak sahabat wanitanya kemari?? Astaga, ini pasti menguntungkan." Ucap Renafo sembari tersenyum miring.
"Aku yakin wanita itu memiliki bakat yang sama seperti Alan." Ucap Avindra membuat Renafo kesal.
"Kau hanya mau bermain wanita di club, tapi kau sejujurnya tidak tau seperti apa wanita sebenarnya." Ucap Renafo.
"Karena aku pria, jadi aku tidak tau seperti apa wanita." Jawab Avindra santai kemudian masuk kedalam vila. Hal itu membuat Renafo kesal.
"Apa kau tidak memikirkan seperti apa tipe wanita idamanmu??" Tanya Leon.
"Hal itu sangat jauh dari pikiran ku Leon." Jawab Avindra kemudian masuk kedalam kamarnya.
Memang benar Avindra hobi bermain wanita tetapi itu hanya untuk kesenangannya sebelum akhir nya dia memikul beban sebagai seorang penerus bermarga Anvert. Jalankan memikirkan tipe wanita idamannya, memikirkan untuk menikah saja sangat jauh dari otak Avindra.
Ini salahku, dan beban ku terlahir dari anak pria istimewa. Batin Avindra.
Visual Alandra?? Nanti disaat yang tepat wkwkwk 😆😂