Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 59



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Seminggu kemudian


Seperti yang Dev katakan, dia akan menjemput nona dan tuan mudanya saat pekan depan tiba. Kini saatnya Andian dan Arila kembali ke Vila mereka setelah satu minggu penuh honeymoon. Pagi pagi buta Dev menjemput mereka.


"Dev ini masih pagi buta, kau bilang akan menjemput kami sore nanti." Ucap Andian sebelum masuk kedalam mobil.


"Maaf tuan muda, nyonya besar meminta agar anda sampai sebelum nona Antia wisuda nanti siang." Jawab Dev.


"Berarti adikku Sista juga wisuda... Aku tidak sabar melihatnya... Tapi hari ini Aline juga menikah... Apa yang harus aku lakukan??" Lirih Arila.


"Aku hampir melupakan hal itu... Ayo jalan Dev." Ucap Andian.


"Baik tuan muda." Jawab Dev.


Dev pun menyalakan mobilnya dan kemudian menjakankan mobilnya. Perlahan mobil yang mereka kendarai menjauhi area Vila pegunungan itu. Saat Andian menatap Arila, tampak wajah Arila tengah cemas. Andian memegang tangan Arila membuat Arila tersentak.


"Ada apa?? Kenapa kau terlihat cemas??" Tanya Andian.


"Aku hanya bingung... Hari ini adikku Sista wisuda dan itu merupakan hal yang perlu dikenang... Tapi disisi lain sahabat ku Aline akan menikah... Aku bingung harus bagaimana?" Jawab Arila. Andian menatap Arila dan tersenyum sekilas.


"Penting kan dulu keluargamu... Baru yang lainnya... Sebenarnya hari ini kak Renzo juga berniat melamar calonnya tapi, mereka urungkan karena mereka ingin melihat adikku Antia memakai baju kelulusannya." Ucap Andian. Arila berpikir sejenak dan menatap Andian.


"Kau benar, aku akan datang diacara wisuda Sista dan setelah itu mengucapkan selamat pada Aline." Ucap Arila sembari tersenyum.


"Gadis pintar." Ucap Andian menghusap puncak kepala Arila.


Arila hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Andian. Andian pun menghusap kening Arila dan kembali menatap kedepan.


Di Vila Raka.


Raka saat ini tengah sabar menghadapi istrinya yang sangat emisional dari biasanya. Sedangkan Antika dia merasa kesal karena bobot tubuhnya yang sedikit bertambah dan bingung memilih pakaian yang dia kenakan menghadiri acara wisuda Antia.


"Sayang sarapan dulu ya, udah lama loh kamu pilih pilih baju tapi nggak ada yang kamu suka." Ucap Raka selembut mungkin.


"Kamu aja yang sarapan, hari ini itu hari adik kesayanganku wisuda.... Aku harus tampil maksimal dong." Ucap Antika masih memilih beberapa gaun dari dalam lemari.


Raka menggeleng kepalanya melihat ranjang nya berantakan penuh dengan gaun gaun Antika. Raka bangkit dari duduknya dan memeluk Antika dari belakang.


"Sayang kamu nggak kasihan sama baby?? Dia pasti laper." Ucap Raka sembari menghusap perut rata Antika.


"Aku belum laper, baby juga." Jawab Antika tidak memperdulikan Raka yang masih memeluknya. Tampak Raka menghela napas panjang.


"Sayang sarapan dulu yuk... Kamu kenapa jadi cuek gitu si??" Keluh Raka. Membuat Antika berbalik dan menatapnya.


"Ini bagus nggak kalo aku pake?? Nanti kamu juga cari jas yang serasi dengan gaun ini." Ucap Antika.


Raka terkejut karena tadinya dia mengira jika Antika akan membujuknya agar tidak mengeluh. Raka menangkup wajah Antika dengan kedua tangannya.


"Semua yang istriku pakai akan sangat indah dari wanita mana pun." Ucap Raka. Sontak membuat Antika tersenyum dan mencium pipi kanan Raka.


"Sudah kan?? Kalau begitu ayo sarapan." Ucap Raka sembari menggandeng tangan Antika.


Namun baru beberapa langkah, Antika menghentikan langkahnya membuat Raka ikut berhenti.


"Kenapa sayang??" Tanya Raka.


"Emm... Tapi aku mau sarapan sup ayam, sayur asam, ayam goreng sama 3 roti sandwich." Jawab Antika.


"Sebanyak itu sayang?? (Antika mengagguk.) Baiklah ayo turun." Ucap Raka.


Dengan senang hati Antika pun mengekori Raka. Mereka pun menuruni tangga dan tampak Laura dan Randy menyapa dengan senyuman.


"Selamat pagi pa ma." Ucap Raka.


"Pagi juga sayang... Raka istri kamu mana??" Tanya Laura.


Raka berbalik dan tidak menemukan Antika yang mengekorinya tadi. Tentu membuat Raka terkejut.


"Loh tadi disini... Bentar ya ma...pa." Ucap Raka dan diangguki oleh Laura juga Randy.


Raka menuju ke dapur begitu mendengar suara Antika. Dan benar saja, begitu Raka mendekat dia melihat Antika tengah mengatakan sesuatu pada Jin.


"Jin aku mau sup ayam, sayur asam, ayam goreng dan 3 roti sandwich... Dan salat buah aku ingin salat buah juga." Ucap Antika.


"Baik nona muda." Jawab Jin.


"Sayang apa nggak kebanyakan?? Nanti perut kamu sakit gimana??" Ucap Raka khawatir.


"Eh...suamiku tertampan...(Merangkul lengan Raka.) Aku hanya ingin memakan itu saja... Apa tidak boleh??" Ucap Antika manja.


"Bo...boleh sayang tapi—" Ucap Raka terpotong.


Rita yang melihat perdebatan itu pun mendekati tuan mudanya. Sedangkan Jin fokus memasak apa yang diminta Antika.


"Tuan muda mungkin nona muda sedang ngidam... Hal itu sering terjadi pada wanita yang hamil muda... Jika tidak dituruti dia bisa marah atau menangis tuan." Ucap Rita menasehati. Tampak Raka menghela napas panjang. Dia pun memegang kedua bahu istri tercintanya.


"Boleh kok sayang... Udah ya jangan ngambek lagi... Ayo ke meja makan entar biar Jin yang anter makanannya." Ucap Raka.


Tampak wajah Antika kembali cerah.


"Baiklah, ayo." Ucap Antika bersemangat.


Jin dan Rita tersenyum melihat kesabaran Raka yang menghadapi perubahan sifat istrinya. Sedangkan Raka memandang Antika yang merangkul lengannya dengan manja.


Jadi seperti ini ya menghadapi wanita hamil.... Kenapa harus sifat Antika berubah 180 derajat, memang seperti apa nanti anak ku kelak?? Batin Raka.


Sesampainya di meja makan. Raka menarik kursi untuk Antika duduk dan setelah itu baru dirinya. Saat Laura dan Randy memakan sarapannya, Laura memandang Antika yang tidak memakan sarapannya.


"Loh sayang kamu nggak sarapan??" Tanya Laura.


"Antika nanti ma sarapannya... Mama sama papa sarapan aja dulu." Jawab Antika.


Randy dan Laura mengagguk kepala pelan. Sedangkan Raka fokus memakan sarapannya. Tidak berapa lama, makanan yang Antika minta pun datang. Mereka pun menikmati sarapannya masing masing.


Di kediaman Anza


Lyin Gio dan Arion tengah duduk bersama diruang keluarga sembari menunggu Antia bersiap siap. Saat itu, tiba tiba handphone Lyin berbunyi.


"Aku angkat telefon dulu." Pamit Lyin. Gio dan Arion pun mengaggukan kepala.


📞


"Hallo Dev, bagaimana apa mereka sudah pulang??" Tanya Lyin tampak tak sabaran.


"Sudah nyonya... Dan hubungan tuan dan nona muda terlihat membaik." Jawab diseberang sana.


"Bagus... Ucapkan terima kasih banyak banyak pada Renia ya." Ucap Lyin tampak bahagia.


"Baik nyonya... Saat ini tuan dan nona muda tengah bersiap siap menuju ke kediaman anda." Jawab diseberang sana.


"Oke terima kasih Dev... Aku tutup telefonnya." Ucap Lyin. *Tut.* Lyin memutuskan sambungan telefonnya.


Dengan wajah bahagia, Lyin kembali duduk disebelah Gio. Melihat wajah bahagia sang istri, tentu membuat Gio bertanya tanya.


"Sayang ada apa?? Kenapa kau tampak bahagia??" Tanya Gio.


"Mas apa kau tau?? Hubungan Andian dan Arila sekarang membaik... Ini berkat rencana adik ipar." Jawab Lyin bahagia.


"Maksudmu Renia?? Jadi, Vila yang kamu beli dadakan itu... Kau sangat cerdik.... Baguslah jika hubungan Andian membaik." Ucap Gio.


"Jadi Arion, kapan kamu menyusul??" Goda Lyin.


"Hahaha... Bibi kau sangat suka menggoda ku... Hari ini calon istriku berwisuda dan berkat restu kalian maka secepatnya aku akan menikah dengannya." Jelas Arion.


"Siapa yang menikah??" Tanya Antia begitu datang.


Mata Arion terbelak melihat gadis kecilnya sangat berbeda hari ini. Antia tampak dewasa dengan riasan diwajahnya. Biasanya Antia selalu tampil natural, namun kali ini Antia tampak cantik dengan polesan make up diwajahnya. Melihat Arion tak berkedip membuat Lyin bedehem.


"Ehem... Putri cantik mama sudah siap toh... Pantes Arion nggak kedip sama sekali." Goda Lyin membuat Arion dan Antia sama sama malu.


"Mama ih... Kak Andian mana ma??" Tanya Antia.


"Nanti juga dateng...(Terdengar suara mobil memasuki halaman.) Tuh mereka sudah dateng." Jawab Lyin.


"Panjang umur kakak... Ayo pa ma... Kak Arion kita berangkat sekarang." Ajak Antia.


Arion dan Gio bangkit dari duduknya. Mereka pun keluar menuju ke halaman rumah. Tampak Andian dan Arila yang baru keluar dari dalam mobil.


"Mama... Papa." Sapa Andian dan Arila.


"Cie yang baru honeymoon... Masih inget pulang kak?" Goda Antia.


"Diamlah." Ucap Andian. Lyin mendekati Arila dan memeluknya.


"Lama banget ya nggak ketemu mama... Mama kangen tau sama menantu cantik mama." Ucap Lyin.


"Iya ma... Arila juga kangen sama mama." Jawab Arila. Lyin melepas pelukannya pelan.


"Ayo berangkat." Ajak Antia. Saat akan mendekati mobil mereka, Arion mendekati Andian dan merangkulnya.


"Hey kakak ipar... Bagaimana malam pertama mu??" Goda Arion. Membuat Andian menyikut lengan Arion.


"Diamlah... Ini pribadiku." Jawab Andian tampak menutupi rasa malunya.


Mereka pun memasuki mobil mereka masing masing dan langsung menuju ke tempat tujuan mereka. Antia sangat bahagia. Karena selain peria yang dicintainya hadir dalam wisudanya, keluarga besarnya pun ikut serta dalam acara yang membahagiakan. Terlebih, Renia Anzo dan Renzo yang selalu jarang berkumpul kini ikut berkumpul menjadi pelengkap keluarga besarnya.