Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 8 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Terdengar suara benda jatuh sangat keras membuat Avindra merasa terusik dan menoleh. Avindra bangkit dari duduknya meninggalkan para wanita cantik yang menggodanya. Disusul Elliot dan Leon dibelakangnya.


Bugh!!! Bugh!!!! Bugh!!!


Suara pukulan membuat Avindra melebarkan langkahnya. Saat itulah dia melihat sesosok pria tengah menghusap tangannya dengan sapu tangan kemudian melemparnya. Terlihat sangat dingin dan juga menyeramkan. Disamping itu terlihat beberapa pria tersungkur tak berdaya.


"Lain kali jangan membuat keributan, menyusahkan." Ucapnya dingin kemudian pergi menuju ke ruang VIP. Lebih tepatnya selisih 3 ruangan dengan ruangan VIP Avindra.


Menarik... Aku ingin tau siapa pria itu. Tapi, kenapa aku merasa dia pria yang sama saat menolong Arisa... Atau hanya perasaan ku saja?? Tapi pria itu tidak memakai souvenir apapun di tangannya. Batin Avindra.


"Kalian kenapa ada disini??" Tanya Reanzo. Tampak Avindra menoleh.


"Kakak kau datang juga, tadi ada sedikit tontonan." Jawab Avindra.


"Sudahlah... Mana wanita yang ingin kamu perlihatkan??" Ucap Renafo tak sabaran.


"Ah iya... Ayo kita masuk dan menikmati segelas cocktail beserta wanita cantik." Ucap Avindra bersemangat. Reanzo hanya menggeleng kepala pelan dan menyusul Avindra yang sudah menarik masuk Renafo.


"Wah ini benar fantastis." Ucap Renafo sembari menerima suapan anggur dari salah satu wanita.



(Visual BAR.)


"Sudah aku katakan, aku tidak akan membuatmu kecewa kakak... Nikmatilah." Ucap Avindra sembari menggoyangkan gelas cocktailnya.


"Avindra, Renaf... Hentikan ini dan mulai membahas yang penting." Ucap Reanzo yang sudah mulai jengah.


"Oh ayolah kak... (Reanzo melotot.) Iya ya... Galak banget sih jadi orang, maaf ya para wanita cantik ku... Kalian bisa keluar sekarang." Ucap Renafo. Tampak para wanita yang menggodanya pun pergi dan di ruangan itu hanya tersisa 5 orang yang tidak lain Avindra dan lainnya.


"Huh baru saja bersenang senang." Gunggam Avindra.


"Jadi Leon... Bagaimana hasil analisamu??" Tanya Avindra.


"Menurut hasil analisaku, putra tunggal Fendi Fermansyah tidak lain Even Fermansyah juga ada di kampus itu... Dia mendapatkan gelar presiden kampus dan sangat berkuasa disana... Didampingi oleh anak dari petinggi militer Geandra Kusuma dan salah satu penerus mafia Eropa, Claude Jovirzo." Jelas Leon.


"Mafia milik tuan Jovirzo lebih besar dari milik Opa dan paman Zain dulu... Bahkan jika digabung sekali pun tidak bisa melawan mafia milik tuan Jovirzo, tidak heran jika Even Fermansyah menjadi penguasa di kampus itu." Ucap Reanzo.


"Tapi sangat aneh... Anak dari bos mafia terbesar seeropa mau melayani anak dari orang tidak berguna seperti Even itu." Ucap Renafo.


"Fandi Fermansyah sangat licik... Dia mendapatkan dukungan dari Tuan Kusuma tentu dengan sangat mudah mengajaknya bekerja sama hanya untuk mempertahankan kampus sialan itu... Andai saja ayah ku mau membuat organisasi mafia akan sangat mudah melawannya." Jawab Avindra.


"Jika uncle menjadi mafia tidakah kau berpikir bagaimana nasib Arisa disetiap nafasnya?? Selalu dalam bahaya." Ucap Reanzo. Tampak Avindra menyandarkan punggungnya pada sofa yang empuk.


"Yah ayah ku seolah tau dia akan memiliki anak perempuan kelak... Tapi, ada mafia yang sejak masa kakek Reno beroperasi sampai sekarang masih unggul... Saat itu ayah ku hampir saja menemukan nama organisasi mafia itu sayangnya terhenti... Yah saat itu bunda sedang mengandung Arisa, ayah ku sangat mencintainya tentu tidak akan meninggalkan bunda begitu saja." Ucap Avindra.


"Jangan bilang kita akan melanjutkan penyelidikan paman Arion?" Ucap Elliot.


"Tentu saja tidak, kita tidak perlu melanjutkan penyelidikan ayah ku atau mencari tau... Kita akan buat nama organisasi mafia itu terkenal dengan sendirinya." Ucap Avindra sembari menggoyangkan gelas cocktailnya.


"Apa dipikiranmu hanya ada wajah adikku Leon?? (Leon merona.) Sejak kapan Christina Leon menjadi idi*t seperti ini?? (Menepuk keningnya sendiri.) Memang benar itu kunci tercepat, tapi jika kita fokus menyelidikinya, mungkin membutuhkan waktu lebih dari 3 tahun mengingat organisasi itu sangat pandai bersembunyi... Sedangkan jangka waktu kita hanya 6 bulan... 6 bulan."


Jawab Avindra.


"Jadi dalam kata lain, jalan satu satunya hanya dengan kita menyamar... Ku harap ada hasil yang memuaskan." Ucap Renafo.


"Apa maksud kakak??" Tanya Avindra memancing Renafo mengatakan kebenarannya.


"Ayolah... Kakak bahkan menerima perjodohan ibu demi bisa mendapatkan izin dari ibu masuk ke kampus itu." Ucap Renafo membuat Reanzo melotot. Seperkian detik Renafo membeku sadar dengan apa yang baru saja dia katakan.


Gawat... Nih mulut lancar banget sih??? Alamat deh aku kena omel. Batin Renafo sembari menatap saudara kembarnya.


"Kak Rean... Ap—"


"Ini keputusanku... Daripada itu, aku juga ingin membalaskan dendamku pada Fandi Fermansyah." Ucap Reanzo memotong ucapan Avindra. Tampak Avindra menghela napas panjang.


"Sifat paman memang menurun 100% pada kak Rean... Besok Rian akan kembali dan di kampus itu juga... Setidaknya dia bisa menjadi mata mata dan kita mendapatkan sedikit dukungan dari penerus mafia." Ucap Avindra.


"Kenapa anak itu harus ikut??" Tanya Leon tak suka.


"Ayolah, apa kau takut berbebut Arisa dengannya?? Secara dia lebih terbuka daripada kau." Jawab Avindra.


"Ten... Tentu saja tidak, untuk apa takut dengan anak itu." Ucap Leon sembari memalingkan wajahnya. Reanzo dan Elliot hanya menggeleng kepala pelan sedangkan Renafo memperhatikan keduanya.


"Leon apa kita akan di asrama atau mencari tempat yang dekat didaerah kampus itu?" Tanya Reanzo.


"Avindra baru saja membeli sebuah Vila didekat area kampus itu... Yah anak orang kaya, bertindak semaunya." Ucap Leon sembari mengangkat kedua bahunya. Tampak Avindra tersenyum bangga.


"Baguslah, ada kemungkinan kita bisa menyelidikinya dengan leluasa." Ucap Reanzo kemudian meminum cocktailnya.


"Hey ayolah... Aku membeli Vila itu untuk kalian, tidak kah kalian menucapkan terima kasih??" Ucap Avindra berharap.


Krik, krik, krik


Tidak ada yang mengucapkan kata sedikit pun. Semuanya sibuk menikmati segelas cocktailnya. Hal itu membuat Avindra kesal dan mengepalkan tangannya.


"Apa kalian tidak dengar!!!!" Teriak Avindra.


Di Vila


Arisa tampak tertidur pulas dipangkuan Antia. Baru kali ini Arisa tidak diizinkan ikut bersama sang kakak. Bagaimana Arion mengizinkan putri kesayangannya itu memasuki tempat yang tidak seharusnya. Dan untuk Avindra, Arion yakin pada putranya tidak akan melewati batasannya. Meskipun dia sudah dewasa, Arion tetap membatasi pergaulannya. Mengingat Avindra adalah penerus utama CA Group yang terpandang dikalangan pebisnis.


"Sayang—"


"Ssstttt... Arisa baru saja tidur." Lirih Antia. Arion mendekat dan menghusap kening putrinya kemudian memberikannya ciuman kasih sayang pada putrinya.


"Aku ingin bicara." Ucap Arion lirih.


"Kamu tunggu dikamar... Kita bicara disana saja." Jawab Antia lirih.


Arion menganggukan kepalanya kemudian pergi. Setelah itu, perlahan Antia merebahkan kepala Antia pada bantal. Sangat pelan dan menyelimuti putri kesayangannya. Sama halnya Arion, Antia juga memberikan ciuman kasih sayang pada kening putrinya.


"Mimpi indah sayang." Bisik Antia pada Arisa. Antia pun keluar dan menemui suaminya yang menunggunya di kamar.



(Visual kamar utama Arisa)



(Sudut ruangan)