
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Andian tersenyum mengingat kejadian yang baru saja dia alami dengan Arila. Sedangkan dengan Arila. Arila duduk dibibir ranjang kamarnya begitu selesai mengganti pakaiannya. Arila menyentuh bibirnya dan lagi lagi dia tersenyum. Namun, senyumannya pudar mengingat sifat Andian selalu berubah ubah. Terlebih saat dia mengingat perkataan Andian mengenai perceraiannya.
Tidak Arila... Kau tidak boleh terbawa perasaan, dia mungkin sedang dalam suasana hati yang baik... Dia sudah mengatakan jika dia tidak akan pernah menerima ku. Arila sadar lah... Batin Arila dengan wajah sedih.
Saat Arila tengah sibuk bergulat dengan hatinya, tiba tiba handphone miliknya berbunyi. Arila pun bangkit dari duduknya dan mengambil handphonenya. Rupanya ada telefon masuk, segeralah Arila mengangkat.
📞
"Hallo Tika, ada apa tumben nelfon?? Biasanya kan sibuk sama your husband." Ucap Arila memulai pembicaraan.
"Apaan sih Ar, nggak boleh gitu telfon kamu... Atau kau sedang berduaan dengan suamimu ya?? Apakah aku mengganggu??" Jawab Antika diseberang sana.
"Kau ini, berhenti lah menggodaku katakan ada apa??" Tanya Arila sembari duduk dibibir ranjang.
"Baiklah, kau tau Aline akan menikah dengan Afar pekan depan jadi kau harus datang ya." Jawab Antika diseberang sana.
Pekan depan?? Batin Arila.
"Jadi tunangan misterius Afar, Aline sendiri??" Ucap Arila.
"Iya siapa lagi, akhirnya kisah cinta mereka selesai juga." Jawab Antika diseberang sana.
"Iya aku turut bahagia." Ucap Arila.
"Aku dengar kau sedang honeymoon ya dengan suami tampanmu itu?? Apa kalian sudah menghabiskan waktu bersama??" Jawab Antika diseberang sana.
"Antika!!!" Ucap Arila dengan nada kesal.
"Maaf maaf, hanya bercanda." Jawab Antika diseberang sana.
"Humph lupakan saja, oh iya... Beberapa hari lalu suamimu bilang kau sedang sakit dan minta mangga, memang kau sakit apa??" Tanya Arila.
"Hehehe... Sebenarnya aku tidak sakit, hanya bawaan dari baby." Jawab Antika diseberang sana.
"Baby?? Mak... Maksudmu kau hamil Tik??" Tanya Arila memastikan.
"Iya, dan baru 3 minggu." Jawab Antika diseberang sana.
"Wah selamat ya, bentar lagi mau jadi mama." Ucap Arila turut bahagia.
"Iya terima kasih, terus kapan kamu nyusul nih??" Jawab Antika diseberang sana.
Mendengar pertanyaan Antika, membuat Arila merasa sesak didadanya.
"Kapan kapan tik." Ucap Arila dengan nada sedih.
"Apa maksudmu??" Jawab Antika diseberang sana.
"Aaa... Tidak lupakan saja... Aku tutup dulu telefonnya ya... Sekali lagi selamat." Ucap Arila.
"Baiklah... Selamat bersenang senang." Jawab Antika diseberang sana.
*Tut.* Arila mematikan sambungan telefonnya. Setelah itu, Arila pun meletakan handphonenya diatas nakas. Arila memandang ke arah balkon kamarnya. Arila pun mendekat ke arah balkon. Arila melihat pemandangan pegunungan yang indah dari sana.
Sampai kapan pun aku tidak akan menyusulmu Tik, karena pernikahan ku dengannya hanya tinggal menunggu sampai Antia menikah... Dan setelah itu aku dan dia akan menjadi orang asing... Aku iri pada Antia... Jalankan aku, semua wanita pasti iri dengannya... Selain dia cantik, dia sangat di sayang oleh saudara saudaranya dan sangat dilindungi... Bahkan dia juga mendapatkan peria setampan dan sebaik Arion. Berbeda denganku yang menikahi peria yang sangat membenciku. Batin Arila sendu.
Saat Arila masih berdiri dibalkon, Andian tampak memasuki kamarnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Bertepatan dengan itu Arila berbalik dan menatap Andian. Dia pun mendekat ke arahnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Arila saat didepan Andian.
"Katakan." Ucap Andian sembari meletakan handuk kecilnya.
"Em... Soal perceraiannya—" Ucap Arila terjeda begitu Andian mendekatinya dengan pandangan tak suka.
"Kenapa tidak dilanjutkan???" Tanya Andian dingin.
"Soal perceraiannya kau... Kau bisa mempercepatkannya jika kau mau." Jawab Arila dengan nada sedikit takut.
Andian mengepalkan tangannya erat. *Brukh!!!* Andian menghempaskan tubuh Arila dan menindihinya. Dimana membuat Arila terkejut dan memberontak.
"Ap... Apa yang kau lakukan??" Ucap Arila takut.
"Apa?? Tentu saja meminta hak ku sebagai suamimu." Jawab Andian langsung mencium bibir Arila.
Melihat sikap Andian, Arila ingin memberontak. Namun, kedua tangannya di kunci oleh Andian. Saat Arila kehabisan napas, saat itulah Andian melepas ciumannya. Andian membelai wajah Arila.
"Jika sudah masuk kedalam kehidupanku, jangan berniat untuk pergi paham." Ucap Andian.
"Apa maksudmu??" Tanya Arila.
"Maksudku...(Mendekatkan wajahnya pada daun telinga Arila.) Hanya ada kau dan aku... Jangan membahas perceraiannya lagi atau kau akan tau akibatnya." Jawab Andian membuat detak jantung Arila berdetak sangat cepat.
Saat Arila hendak mengatakan sesuatu, Andian lebih dulu mencium bibirnya. Karena tidak bisa menolak, akhirnya mereka berdua pun menghabiskan waktu bersama.
Di Kediaman Renzo
Renia tampak menunggu kabar dari Renzo. Sedangkan Anzo, dia pusing menatap Renia yang bolak balik didepannya sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Sayang... Sudah 33 kali kamu bolak balik, aku sampai pusing ngeliatinnya." Ucap Anzo.
"Kamu ini gimana sih nggak liat apa?? Aku takut kalo Renzo ditolak atau di terima sama nona muda Wismajaya itu." Jawab Renia mendekati Anzo.
"Lah kok takut kalo Renzo di terima??" Tanya Anzo.
"Ya kalo Renzo diterima, kan orang yang mommy pilih nggak jadi sama dia." Jawab Renia membuat Anzo terdiam.
Setelah percakapan singkat itu, Renia mendengar suara mobil memasuki kediamannya. Membuat Renia yang baru saja duduk kembali berdiri. Renia melihat Renzo mendekatinya dengan wajah ditekuk.
"Sayang kenapa?? Kok mukanya ditekuk begitu??" Tanya Renia.
"Renzo terima perjodohannya... Wanita yang Renzo perjuangin akan menikah pekan depan... Sudah aku jelaskan, aku kekamar dulu." Jawab Renzo kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Renia memandang punggung putranya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Renia tersenyum dan berhamburan memeluk Anzo.
"Renzo mau nikah... Aku bahagia banget." Ucap Renia.
"Iya sayang, aku juga bahagia... Jadi nanti malam kita ke rumahnya??" Tanya Anzo.
"Sekarang aja daddy yah... Aku siap siap dulu." Jawab Renia sembari melepas pelukannya dan pergi menuju ke kamarnya.
Sedangkan dengan Renzo, dia menghembaskan tubuhnya diatas ranjang dan menutupi matanya dengan lengannya. Tak terasa air matanya menetes. Dia tidak mengira jika perjuangannya akan sia sia.
Mungkin ini memang takdirku... Aku harus menerimanya, dengan siapa aku menikah nanti tapi hati ku tetap untuk Aline. Batin Renzo.
Renzo pun mengambil handphonenya dan tampak wallpaper handphonenya adalah foto Aline yang dia ambil diam diam. Renzo menatap wajah cantik Aline dan meletakan handphone nya diatas nakas.
Siapa pun yang menikah denganku, jangan salahkan aku jika kau hanya pelampiasan amarahku. Batin Renzo.
Di Vila Arion.
Arion mengelus puncak kepala Antia yang sudah tertidur dengan bahu kekarnya sebagai bantalan. Saat sibuk dengan Antia, sebuah telefon mengganggu aktifitasnya. Dengan pelan, Arion mengambil handphonenya yang berada diatas nakas.
📞
"Maaf mengganggu aktifitas anda tuan." Ucap Kean diseberang sana.
"Katakan ada apa??" Tanya Arion.
"Metting berjalan dengan lancar tuan dan begitu pula tuan Raka bisa mengoperasikan perusahaan dengan sangat baik." Jawab Kean diseberang sana.
"Bagus kau memang bisa diandalkan, kau bisa langsung kembali." Ucap Arion.
"Baik tuan muda." Jawab Kean diseberang sana.
*Tut.* Arion mematikan sambungan telefonnya. Bertepatan dengan itu, Antia terbangun karena pergerakan dari Arion.